Adi Rusadi, Memilih Berkarya di Desa

Bertahun-tahun mencari penghidupan di kota, akhirnya balik kampung. Dan, Adi Rusadipun memilih berkarya di desa. Bersama teman-temannya, ia mulai mengenal dan menggeluti pengembangan budidaya sereh dan penyulingan minyak sereh wangi.

Mengubah pekerjaan yang digeluti bertahun-tahun bagi sebagian orang tidak mudah. Tapi, itu tampaknya yang ingin dibuktikan oleh Adi Rusadi, seorang petani sereh wangi di Desa Suka Rapih, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan. Pernah ia menjadi pemborong kecil-kecilan di Tangerang. Begitu balik ke desa, ia segera menyesuaikan diri menjadi petani. Ia turut mengolah alam Kuningan yang banyak menawarkan kekayaan yang banyak ditinggalkan warga Kuningan merantau ke kota.

Saat ini, Adi belajar mengenali budi daya sereh wangi yang menghasilkan minyak sereh wangi yang merupakan salah satu jenis minyak Atsiri. di lingkungan Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Wana Rapih, ia memegang posisi sekretaris. Timnya mempercayakan Adi menjadi duta bagi lembaganya untuk mengenalkan keberadaan lembaga dan mengakses pengetahuan dan informasi mengenai Atsiri. Belum lama ini, Adi mengikuti pertemuan rutin Dewan Atsiri Nasional di Bandung.

Mengapa Adi merasa perlu belajar mengenal sereh wangi? Ya, seperti puluhan petani sereh di Suka Rapih, sereh wangi merupakan tanaman yang baru mereka kenal. Mereka hanya menanam padi dan palawija. Adi sendiri menanam padi, kacang tanah, kacang panjang dan ketimun. Sereh baru dikenalkan oleh Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa setahun yang lalu melalui sebuah program pemberdayaan.

Program yang dikawal seorang pendamping itu di antaranya, berupaya menghubungkan warga dengan berbagai pihak. Pihak Perhutanpun memberikan lahan hutan untuk dimanfaatkan sebagai lahan menanam sereh. Di tahap awal, setidaknya 10 hektar lahan kering dipercayakan pada komunitas dampingan Masyarakat Mandiri untuk dikelola. Sebelumnya, lahan kering kurang banyak termanfaatkan kecuali beberapa jenis tanaman yang bisa hidup di tanah kering di sela-sela tanaman hutan. Sedangkan sereh wangi bisa hidup di tanah seperti ini.

“Bagi saya dan teman-teman di sini, ini sebuah tantangan. Menangani budidaya dan pengelolaan kelompok petani sereh harus tekun, sabar, dan kerja keras,” ucap ayah empat anak ini.

Ketekunan dan kerja keras Adi dan anggota komunitas petani memperoleh tambahan tanggung jawab sekaligus tantangan baru lagi. Sebuah griya penyulingan minyak sereh wangi telah didirikan di Desa Suka Rapih. Griya penyulingan ini melengkapi program pemberdayaan yang memiliki konsep terpadu. Warga memperoleh pendampingan, modal budidaya sereh, penguatan kapasitas, dan terakhir media produksi berupa griya penyulingan.

Ade bersyukur sebagaimana warga Suka Rapih. Hari itu, Kamis 4 November 2010 mereka berkumpul. Beberapa pejabat daerah ngariyung dengan warga di sebuah tenda yang terpasang di jalan desa. Di sisi jalan tampak bangunan dua lantai yang di tengah-tengahnya terpasang sebuah tabung besar. Asap mengepul dari sebuah cerobong yang terhubung dengan pembakaran di bawah tabung besar. Hari itu mereka berkumpul, bertasyakuran dan meresmikan sebuah pabrik minyak sereh wangi. Malam sebelumnya, mereka adakan pengajian yang dihadiri tidak sedikit warga Suka Rapih.

Ade mengaku, inilah saat warga seperti dirinya memulai sesuatu yang baru. Warga dulu mengabaikan lahan kering, kini mereka mulai merasakan berkahnya. Dulu, mereka hanya kenal palawija, sekarang mereka telah tanam jenis tanaman bernilai jual lebih. Warga dulu tak mengenal sereh menjadi minyak yang pasarnya mendunia, kini mereka malah punya pabriknya. Karena alasan itu pula, Adi memilih berkarya di desa.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan