Agus, Peternak Itik yang Mau Belajar

Lepas tarawih bagi Agus tetap menjadi waktu bermakna. Membuat batu bata menjadi pilihan pekerjaan tambahan saat musim kemarau tiba. Sebab, pagi dan sore ia membesarkan itik-itik yang mempersembahkan telur buat diuangkan. Dari itik, Agus bisa memberi nafkah isteri dan dua putranya. Meski syaum, Agus biasa ‘keluyuran’ mencari makanan untuk itik, seperti eceng gondok yang ternyata bisa menjadi pilihan murah pakan itik. Buat peternak, pakan bebek paling sering menjadi problem tersendiri, terlebih pakan bermerek.

Selama 20 tahun, Agus menggarap lahan sebagai seorang transmigran di Sumatera Selatan. Boleh dibilang, ia terhitung transmigran yang sukses. Pendatang dari Tangerang ini menggeluti pekerjaan bercocok tanam. Karena ketekunannya, aparat setempat memberinya kepercayaan sebagai pengawas setingkat mandor di area transmigrasinya.

Sukses Agus di bidang pertanian membuatnya cukup diperhitungkan. Ia dianggap memiliki pengaruh di lingkungannya. Lembaga dunia Unicef menunjuknya sebagai kader lokal untuk bidang kesehatan anak. Kendati begitu, ia memiliki pengalaman pribadi yang tak membahagiakan tentang kesehatan anak-anaknya. Bahkan, pengalaman itu menjadi goresan yang pedih untuk dikenangkan. Enam anaknya meninggal secara berurutan. “Beberapa anak saya mungkin kena jantung. Tubuhnya membiru,” tuturnya masih merasakan keperihan.

Tiba saatnya, isteri tercinta hamil ke tujuh. Pasangan itu memilih kelahiran si bayi di Tangerang.. Saat ini, jabang bayi telah tumbuh menjadi seorang remaja. Singkat cerita, Agus membawa anak dan isterinya kembali tinggal di tanah trans. Tetapi, tak berapa lama kemudian, bundanya di Suka Diri Tangerang memanggilnya pulang. Sang ayah telah wafat. Agus diminta tak kembali lagi ke Tanah Seberang. “Saya dihadapkan pada dua pilihan, antara harus tetap tinggal di Sumatera atau berbakti pada ibu,” ucapnya bergetar. Mana yang ia pilih?

Agus menentukan pilihan kedua. Dan, yang mencengangkan sanak-kerabatnya, ia meninggalkan hampir semua asetnya di daerah trans. Ia sengaja tak menjual rumah, lahan sampai peralatan mesin pertanian. Agus memutuskan untuk memulai usaha dari nol ketika sampai di kampungnya, Desa Pekayon. Ia mengawalinya dengan usaha ternak itik.

Agus termasuk mitra yang berani mencoba-coba sesuatu yang baru agar maju. Tampaknya, ia sudah terbiasa dengan pola pikir “mau belajar” saat menjadi transmigran. Belajar untuk maju. Ia tak segan-segan bertanya pada ahlinya. Tak malas pula untuk mengeja buku atau media rujukan, khususnya seputar pengembangan itik. Program Klaster Itik Terpadu (KIT) yang dibawa oleh MM menghantarkan Agus menjadi ketua kelompok, yaitu Blok Begog. Satu blok di klaster itik terdiri 15 orang mitra.

MM memberikan pembiayaan 100 ekor itik, kandang dan pakan kepadanya. Tak jauh beda dengan mitra lainnya. Kini ia menambah lagi itik yang harus ia pelihara. Agus tinggal dengan keluarganya di sebuah rumah bilik kecil di Pekayon.

Selain dengan isteri dan seorang anak kandungnya, pria 40 tahun ini juga merawat bocah tiga tahun. Dalam segala keterbatasan ekonomi Agus, bocah itu dipungutnya sejak jabang bayi karena ditinggal mati ibunya. Sementara, ayah bayi meninggalkannya sebatang kara. Si kecilpun kini memanggilnya “Abah”, karena yang ia tahu Aguslah sang ayah.

Bilik-bilik bambu yang jebol di sana-sini menaunginya sehari-hari bersama isteri dan anak-anak. Menaungi gairahnya yang terus ingin maju bersama kawan seiring. Para peternak itik.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan