Ali: Pedagang Kecil Harus Bangun Kekuatan

Sepekan sebelum Ramadhan, Ali menanam buah kesabaran. Lapak baksonya di Pasar Ciputat digusur. Pemicunya tak lain kerena Ali menolak kontrak baru yang dibuat mendadak ‘ oleh penguasa keamanan’. Padahal ia sudah bayar uang muka, iuran bulanan, bahkan harian. Sebagai pedagang kecil yang tak punya lapak resmi, Ali memang tak bisa mengelak dari ‘hukum’ yang terjadi di pasar, siapa kuat dia bisa bayar lapak.

Ali memilih berdagang keliling di jalanan sekitar Ciputat. Dari gang ke gang ia tawarkan lezatnya bakso buatannya sendiri. Pantang ia bersandang malu, karena wilayah pasarnya tak lain dekat dengan kampus almamaterya, UIN Jakarta. Sebaliknya ia bangga dengan pilihannya menjadi tukang bakso keliling. “Nggak mau jadi beban negara saja,” ungkapnya tampak serius, sedikit bercanda.

Ali berterus terang, berdagang itu pilihan hidup. Keinginan hidup mandiri, tanpa menjadi beban orang lain, juga beban negara. Bahkan sejak semester dua kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyah Jurusan Kajian Keislaman, ia sudah mulai jualan. “Kuliah tak ditanggung orang tua. Dan, saya memang tak mau manja pada orang tua,” kata Ali yang didampingi isterinya yang tengah mengandung calon buah hatinya.

Di semester dua, ia pernah usaha mie ayam dengan temannya. Dari mie ayam ia beralih jualan pecel lele tapi gulung tikar. Di luar jualan makanan, Ali pernah berdagang peci di Masjid Istiqlal tiap hari Jum’at. Selain buat bayar uang kuliah, memenuhi kebutuhan sehari-hari, berdagang memang ia pilih untuk mengasah jiwa mandiri berusaha.

Manis getir berdagang ia berusaha nikmati. Selain bakso, ia buka warung nasi goreng di belakang Masjid UIN. Pernah Ali harus repot-repot gotongan tabung gas dan berbagai perkakas dari rumah ke tempat usaha. Gara-garanya, ia cuma punya satu unit tabung. Tetapi, Ali tetap semangat karena ia dibantu gotongan oleh isteri tercintanya. Ceritanya, dulu ia punya dua tabung. Seorang teman membutuhkan gas, Ali lantas pinjamkan salah satunya. Namun, karena tak amanah, sang teman malah menjual tabung elpiji yang Ali pinjamkan.

Di rumah petak kontrakannya yang sederhana, Ali menyimpan banyak rencana dan mimpi. Karena ia suka tahu petis, ia berencana jualan tahu petis, sebagaimana halnya ia berjualan bakso dan nasi goreng. Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa menjalankan program Yang Muda Yang Mandiri di antaranya di lingkar Kantor Dompet Dhuafa di Ciputat. Di sini, Ali dipercaya beberapa pedagang menjadi Ketua Kelompok Makmur Mandiri.

“Yang penting bagi saya pada program pemberdayaan semacam ini tak lain ya wahana sosialisasi. Ngumpul-ngumpul. Itung-itung berbagi energi, mengasah sesama pedagang kecil bisa berorganisasi,” paparnya santai.

“Saya punya obsesi dari dulu, bagaimana para pedagang kecil yang sebenarnya gigih namun tersisih ini punya kekuatan,” cerita Ali di ruang tamunya yang sederhana. Di lantai ruang tamu, bertumpuk berbagai buku sosial, sejarah, budaya, agama dan beragam bacaan lainnya. Salah satu sumber sejarah yang menginspirasi obsesinya adalah keberadaan organisasi Sarikat Dagang Islam (SDI) di awal abad 20.

“Persaingan dagang yang dimulai para pedagang Cina di masa kolonial dijawab oleh para pedagang Islam dengan berorganisasi. SDI itu menjadi jawaban pribumi kala itu. Nah, saya punya obsesi bikin koperasi. Ikhtiar pemberdayaan pedagang kecil yang tepat menurut saya ya koperasi ini,” pungkasnya.

Tulisan ini juga dimuat di Lembar Deras Republika (20/8) dan Republika Online (20/8).

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan