Balada Para Janda

      Hari ketiga Ramadhan adalah awal saya memulai tugas sebagai Pendamping Masyarakat Mandiri. Penempatannya adalah di Ujung Timur Pulau Lombok tepatnya di Kampung Nelayan Seruni Mumbul. Seruni Mumbul adalah gabungan dari nama Raja dan Putri. Raja Mumbul dan Putri Seruni. Konon ceritanya, Putri Seruni yang cantik jelita adalah istri dari Raja Sandubaya. Walaupun sudah bersuami tidak menyurutkan niat Raja Mumbul untuk mendapatkan Putri Seruni. Berbagai carapun dilakukan, Membunuh Raja Sandubaya adalah salah satu gagasannya. Suatu hari Raja Mumbul menjebak Raja Sandubaya dengan berpura pura mengajaknya berburu. Di tengah hutan itulah Raja Sandubaya di Kudeta (hehe) dan Akhirnya Raja Sandubaya tewas dan Putri Seruni sekarang berstatus Janda.

      Beberapa hal saya temui di tempat tinggal saya yang baru. Hal baru yang lebih banyak saya amati adalah pada komposisi penduduknya. Yang lebih menarik perhatian saya adalah keberadaan para janda. Setiap kali saya melakukan Study kelayakan mitra ada saja terjaring dua sampai tiga orang janda di setiap RT dan penyebab mereka menjanda adalah bukan semata ditinggal mati tapi tidak sedikit yang ditinggal cerai.

      Di kampung tempat saya bertugas setiap ada yang meninggal dunia maka akan diumumkan lewat corong masjid atau mushola terdekat. Sudah beberapa hari berturut turut dari hasil pengumumam itu kebanyakan warga yang meninggal adalah laki-laki, alias bapak-bapak. Saya akan maklum bahwa dengan meninggalnya mereka tentu saja menambah daftar janda di kampung ini.

     Teringat ceramahnya Almarhum KH. Zainuddin MZ disebutkan bahwa masih banyak orang yang perlu bantuan di sekitar kita “janda-janda tua, orang-orang jompo yang tidak mampu”. Pemilihan kata janda tua, bukan duda, bukan nenek mungkin karena profil seorang janda memperlihatkan sosok yang, maaf, menyedihkan. Tapi, di kampung ini walaupun mereka berstatus janda, produktivitas mereka luar biasa.

      Meskipun di dalam keramaian, tetap ada kesepian di hati para janda itu. Para janda itu telah hidup puluhan tahun bersama suaminya, kehilangan tentu tidaklah mudah bagi mereka. Meskipun tidak semua kenangan adalah indah, kehilangan tetaplah menyakitkan.

      Corong kembali membahana (hehe) mengumumkan warga yang meninggal. Dari cerita yang saya dengar kabarnya yang meninggal adalah salah satu warga yang beberapa tahun terakhir kena stroke akhirnya meninggal. Kejadiannya tiba-tiba, awalnya karena tersedak, lalu kehilangan nafas. Sempat tertolong karena makanan yang menyumbat jalan napasnya berhasil dikeluarkan. Tapi setelah itu napasnya yang sudah kembali akhirnya pergi juga untuk selamanya. Keluarganya sempat histeris dan akhirnya satu janda bertambah lagi di kampung ini.

       Budaya mudahnya jatuh talaq suami terhadap istri di Lombok membuat seorang suami begitu tinggi posisinya. Sering saya lihat suami dzholim sama keluarga. Banyak saya lihat suami tidak memberi nafkah yang layak tapi tidak menyempurnakan ikhtiarnya. Bahkan sudah tidak memberi uang memukul pula. Saya lihat contohnya tidak hanya satu atau dua. Herannya para istri masih saja mau mendampingi lelaki macam begini. Si istri banting tulang, berdagang kesana kemari untuk menghidupi keluarga, sementara suami ongkang-ongkang kaki di rumah sambil merokok pula. Tapi lihatlah ketika tiba-tiba si istri menjanda, gurat kesedihan terus menempel di wajahnya. Maka jangankan suami idola, yang bajinganpun akan ditangisi juga.

{fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan