Banjirku Temanku

Fajar sudah menampakkan dirinya, walaupun agak sedikit malu-malu.
Udara basah yang terhirup dan dingin yang menyelimuti kulit terus menempel serta tak mau lepas. Namun semangat ini membakar hangus kegundahan pagi yang merambat sedikit demi sedikit. Basah,, ya sudah pasti. Karena air itu datang silih berganti, hingga meluapkan semua tempat dan mengungsikan sebanyak mungkin manusia yang bisa dia lakukan, entah sampai kapan akan berhenti..

Hari ini jadwal rutin dua mingguan untuk pertemuan kelompok, terbayang wajah-wajah tangguh para pedagang urban, sedikit terhimpit namun apalah arti kalau bisa menjadi duit.
Wajah kota ini sebenarnya sedang murung, kota ini sakit.
Air-air itu bukan lagi menjadi kawan, yang bisa diajak bermain oleh anak-anak.
Air-air itu kini menduduki tempat tinggal mereka… mengepung mereka… bahkan menendang mereka dari kasur-kasur empuk itu.

Namun, lagi-lagi semangatku membakar hangus kegundahan pagi yang merambat sedikit demi sedikit.
Kususuri jalanan pagi ini bersama raungan suara motor butut, becek..
Padahal buat apa aku repot-repot harus bangun dari tidurku pagi ini, sementara air itu bergelombolan datang mendentum-dentumkan atap seng, membuat suasana mencekam, dingin, dan siapapun akan enggan beranjak.
Bermalas-malasan lalu menarik selimut kembali.. aahhh….. hangat!

Semangat itu memang membutakan mataku yang sayu, membakar kulitku yang hitam, hingga mendidihkan otakku yang beku, sebeku es di kutub utara.
Semangat itu pula yang mendorongku untuk bangkit, berdiri dan menyusuri jalanan Jakarta yang padat, ditambah lagi hujan.

Hari ini memang harus lebih sabar, jarak yang biasanya hanya 30 menit menuju tempat pertemuan kelompok pertama harus aku relakan dimakan sang waktu hingga 1,5 jam, ditambah menggigil kedinginan, pakaian rada basah, dan jalanan yang agak tertutup oleh genangan-genang air hujan.

Tiba di tempat pertama dengan jumlah mitra 7 orang, berbagi pengalaman, diskusi dan sedikit guyon pasti akan membuat suasana menjadi hangat di tengah kondisi dingin seperti ini. Tapi lagi-lagi aku harus lebih bersemangat agar mataku yang sayu tidak dibutakan, kulitku yang hitam bisa terbakar, dan otakku yang beku bisa mendidih, lantaran dari 7 orang mitra tersebut hanya 1 orang yang hadir, itupun si mpu-nya rumah, sementara 6 lainnya berjuang melawan banjir dan pulang kampung demi menyelamatkan nyawa.

Tak pelak memang, kelompok berikutnya pun sama, bahkan tidak ada orang sama sekali, karena semua pulang kampung dengan kondisi serupa, kontrakan-kontrakan itu dikepung banjir hingga 1 meter lebih, gerobak-gerobak bakso-pun berendam air kali yang warnanya coklat keruh, ditambah sampah-sampah yang ikut berboncengan ria bersama air kali tersebut.

Seketika wajahku pucat, mataku buta, kulitku terkelupas dan otakku beku..
Lidah ini kelu -sekelu-kelunya, namun hati ini berbisik lembut,,, sabar-Semua pasti ada hikmahnya…

Akupun pamit, meninggalkan rumah kontrakan Pak Tarman, perjalananku terhenti tatkala mendapat kabar, jalan yang akan aku lalui selanjutnya terendam air kali yang meluap, penduduk setempatpun mengungsi. Masih 10 orang lagi yang harus aku temui di Mampang, namun otak reptilku berpesan ; “selamatkan dirimu!” banjir bukan teman, banjir juga bukan lawan, tapi banjir adalah peringatan Tuhan….

Jakarta, 21 Januari 2014

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan