Belajar dari Guru Sejati

Kisah tentang Bu Yuyun, mitra Masyarakat Mandiri di atas bukit Cibeureum, masih menarik untuk kita diskusikan. Bu Yuyun merupakan sosok ibu rumah tangga yang sangat menyayangi keluarganya. Sebelum program MM hadir di Desa Buanajaya yang terpencil di Kabupaten Bogor itu, ibu beranak tiga ini bukanlah siapa-siapa. Dia tidak pernah diperhitungkan di lingkungan RT-nya.

Dalam perjalanan waktu, Bu Yuyun yang sebelumnya hanya sebagai anggota biasa dalam aktivitas MM di desa, terpilih menjadi Ketua Induk (kelompok di tingkat kampung). Kepemimpinan Bu Yuyun mulai menonjol, semangat makin membara hingga akhirnya dia terpilih menjadi Ketua Koperasi ISM Buanajaya. Kali yang pertama dalam sejarah desa.

Ocehan, bisik-bisik hingga celaanpun tak terhindar dari orang di luar anggota. ”Kami hanya ingin punya peran melayani masyarakat” jawabnya lirih kepada setiap orang yang menanyakannya. Baru beberapa hari terpilih, ibu ini diberi cobaan sakit selama tiga bulan. Sakit parah yang membuatnya tidak mampu beraktivitas, untuk keluarga maupun lembaganya. ”Saya selalu memikirkan bagaimana nasib koperasi saat sakit, karena koperasi menjadi harapan 50 anggota keluarga. Saya punya tekad untuk memajukannya, hingga menjadi yang terbaik di Kabupaten Bogor. Doakan, ya Pak” Begitu ucapnya ketika ibu ini hadir dalam acara Sambung Rasa Antar Mitra MM, Senin (9/10), bertepatan dengan 17 Ramadhan .

Ibu Yuyun yang hanya tamat SD ini tidak pernah membayangkan akan menjadi aktor utama dalam sejarah koperasi di desanya. Dia tidak lupa meminta restu dari suami untuk berjuang membangun desanya. Kini, ibu ini mulai merakan jerih payahnya. Bukan harta yang dia telah dapatkan. Tapi, nilai silaturahmi. Dia bangga telah diundang ke Bandung oleh sebuah bank syariah. Ia tak bisa menutupi rasa bahagia, karena setiap bulan sekali turut dalam rapat Dinas Koperasi Kabupaten. Pun, beberapa kali diwawancarai media cetak dan TV. Tentu bukan ketenaran, karena dia tidak pernah memikirkan itu.

Sosok Yuyun menjadi refleksi bagi para pemberdaya masyarakat. Para fasilitator, para pendamping atau apapun predikatnya. Mungkin kita menjadi pemberdaya masyarakat hanya dalam lingkaran waktu kerja, karena dibayar oleh lembaga. Ketika di luar jam kerja, barangkali ego kita masih cukup tinggi. Waktu yang kita curahkan untuk sekitar kita, sangatlah sedikit, sikap kita mungkin tidak ramah, berbeda saat kita bekerja. Kita menjadi cepat lelah, ketika di luar waktu kerja kita. Dan, mungkin masih banyak lagi kekurangan kita, dibanding Bu Yuyun.

Dia tidak kenal lelah, meski tanpa gaji. Tidak pernah kendor meskipun tanpa reward. Dia juga tidak peduli dengan ejekan, karena dia yakin telah melakukan yang terbaik dan didukung oleh keluarganya. Mungkin dalam hal ini, Bu Yuyun adalah guru kita, tentang kesabarannya, keikhlasannya, dan semangatnya memberikan yang terbaik meski ilmunya tidak segunung yang telah kita miliki. WaAllahu showwab

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan