Belajar Kelembagaan Ekonomi Lokal di Rotterdam

Di kota Rotterdam, Belanda, Tim REDs mendapatkan kesempatan belajar pengembangan ekonomi lokal di HIS Erasmus University. Selain mendapatkan materi akademik, dua pekan lebih, kami berkesempatan melakukan kunjungan dan berinteraksi langsung dengan pelaku/stakeholder ekonomi lokal di Provinsi Limburg dan Westland.

Materi perkuliahan ditekankan pada prinsip-prinsip dan teknik pengembangan ekonomi lokal: partisipasi, independen dan profesional. Kemampuan melakukan proses partisipasi lintas stakeholder dari tahap awal menjadi langkah penentu efektifitas pengembangan ekonomi lokal. Kekeliruan yang sering kali terjadi pada proses partisipasi adalah ketidaktepatan dalam mensinergikan stakeholder utama, mengenal problem inti dan penentukan tujuan (objective) yang SMART: Stimulating, Measurable, Acceptable, Realistic and Time bound.

Selain membutuhkan langkah awal yang tepat, pengembangan ekonomi lokal membutuh kondisi lingkungan dan lembaga yang mendukung. Dibutuhkan lingkungan yang lebih merangsang masyarakat untuk membangun jiwa entrepreneurship dibanding memanjakan sifat konsumsi. Selain itu, kelembagaan yang bersifat BDS (Business Development Support) menjadi pilihan tepat untuk menginisiasi jiwa entrepreneurship masyarakat dan mendampingi pengembangan usaha yang telah ada. Tetapi yang perlu diingat, BDS harus menjadi sebuah lembaga kombinasi nirlaba-bisnis yang menginisiasi dan mengakselerasi masyarakat ataupun usahawan dalam berbisnis secara mandiri.

Praktek di Indonesia, seringkali format BDS lebih banyak dilakukan oleh perbankkan yang lebih bersifat akselerator tatapi sulit menjangkau fungsi insiator karena kepentingan bisnis menjadi tujuan utama. Sedangkan fungsi inisiator lebih sering dilakukan oleh instansi birokrasi yang pendekatannya malah sering berujung pada ketergantungan usahawan dibanding menumbuhkan jiwa entrepreneurship.

LIOF (Limburg Development and Investment Company), merupakan model kelembagaan yang berperan sebagai BDS di Belanda yang menjadi salah satu tujuan objek lesson learn.Lembaga yang dibentuk sejak tahun 1975 oleh Kementerian Ekonomi ini memiliki tanggung jawab membenahi dan membangun perekonomian Provinsi Limburg yang mengalami keterpurukan akibat penutupan tambang batubara di tahun 1965. Batu bara sebelumnya menjadi lokomotif ekonomi di provinsi yang berbatasan langsung dengan Jerman itu. Meskipun 92% saham dimiliki oleh pemerintah pusat, akan tetapi pengelolaan LIOF diserahkan kepada profesional dengan mekanisme korporasi swasta yang independen. Fokus utama LIOF adalah memberi inovasi dan nilai tambah pada struktur ekonomi Limburg.

LIOF memiliki empat aktivitas kunci yakni Modal Ventura,Business Park,Pengembangan bisnis dan promosi investasi, serta pengembangan inovasi. Hal menarik dari sistem pembiayaan, bagian 62 % diperuntukan kepada pengusaha kecil atau IKM baru. Sistem yang diterapkan LIOF, mayoritas tidak menggunakan sistem bunga, akan tetapi menggunkan sistem saham/investasi dengan mekanisme shareprofit. Adapun pembiyaan dengan sistem penyertaan modal menggunakan mekanisme interest sebesar inflasi tahun berjalan. Meskipun sistem pengelolaan korporasi profesional, keempat aktivitas LIOF bukan berorientasi bisnis. Adapun untuk kemandirian finansial, LIOF memiliki unit bisnis tersendiri dan juga berhak menanam saham di perusahaan yang berinvestasi di Limburg.

Diposting oleh Nurhamdani S.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan