Berbagi Cinta dan Keswadayaan

Bersama teman-teman pendamping kami pernah berbincang santai. Ternyata menjadi pendamping masyarakat untuk program pemberdayaan bukanlah cita-cita awal. Ada yang ingin sekali menjadi penyanyi, model, dokter, pilot dan tentara. Dan, saat ujian seleksi perguruan tinggi selepas SMA-pun kami memilih jurusan yang sesuai dengan cita-cita. Tapi rupanya Tuhan menentukan lain.

Masyarakat lebih butuh kami untuk kerja pemberdayaan dan pendampingan. Pekerjaan yang pada awalnya tidak pernah terbayangkan dan yang tidak mudah untuk dicintai. Kondisi masyarakat dampingan yang serba kurang; kurang pintar, kurang motivasi dan kurang fasilitas penunjang hidup. Belum lagi hambatan dari diri sendiri seperti godaan untuk bekerja di bidang yang ‘lebih menjanjikan’, desakan orang tua untuk menjadi pegawai negeri dan lain sebagainya. Beberapa pendamping akhirnya memilih keluar dan mencari pekerjaan lain. Tidak juga salah karena setiap orang boleh punya pilihan. Sedangkan beberapa yang lain tetap bertahan dan mulai menganggap bahwa menjadi pendamping komunitas, bekerja untuk pemberdayaan masyarakat adalah salah satu pilihan hidupnya. Dan, setelah beberapa tahun bekerja dalam komunitas; merencanakan, melakukan pendampingan dan mengevaluasi bersama, kami jadi paham bahwa pekerjaan ini tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa cinta.

Kecintaan Dompet Dhuafa pada pemberdayaan umat khususnya dhuafa telah melahirkan Masyarakat Mandiri dengan cita-cita agar tumbuh komunitas-komunitas yang berdaya serta mampu meningkatkan kualitas kehidupannya secara mandiri dan berkesinambungan. Komunitas yang masih terabaikan dan kurang mampu dirangkul, disadarkan bahwa perlunya membangun diri dan lingkungan ke arah kehidupan yang lebih berkualitas. Penting bagi komunitas untuk sadar bahwa keswadayaan bisa mereka bangun sendiri. Berbagai upaya dilakukan untuk membangun kapasitas kelembagaan lokal mereka dan difasilitasi terjadinya sinergi multistakeholder untuk keberlanjutan sistem mata penghidupan mereka. Beragam program digagas dari bermacam issue. Mulai issue pedagang yang rentan keamanan pangan, penggangguran putus sekolah, ketahanan pangan, penguatan UMKM kerajinan, perikanan, pertanian dan potensi-potensi lokal lainnya. Mulai dari wilayah perkotaan, pedesaan dan recovery wilayah pasca bencana.

Suatu saat nanti kami ingin menjangkau semua komunitas yang membutuhkan dampingan di seluruh Indonesia. Dari nelayan tradisional di Sabang hingga petani kecil di Merauke. Dari pengerajin sasando di Pulau Rote hingga petani kopra di Pulau Miangas. Ideal memang, tapi itulah cita-cita. Dan, jalan menuju cita-cita ini masih panjang, karena belum semua pulau di Indonesia terlayani.

Walau cinta itu telah ditebar di 4 pulau, di puluhan kota dan kabupaten dengan ratusan kelompok serta ribuan penerima manfaat namun kami sadar bahwa Indonesia tidak hanya Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Lombok. Masih ada Kalimantan, Bali, Maluku, Nusa Tenggara, Papua dan ribuan pulau-pulau kecil lainnya. Kami perlu banyak cinta untuk dibagi, dan perlu mitra sinergi. Ayo berbagi!

ARMIE ROBI, Direktur Eksekutif Masyarakat Mandiri

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan