Berjalan 5 Jam Karena Senang Ikut Program

Pria bertubuh gempal ini sudah berdagang bakso sudah ia mulai sejak tahun 90-an. Awalnya ikut saudara namun kini ia mampu berdagang secara mandiri. Paimin biasa ia dipanggil, biasanya dia mangkal di daerah jati padang mulai pukul 16.00 – 21.00. Ia berkisah tentang bagaimana awal memulai usaha, banyak kendala yang dihadapi. Pernah kejadian gerobaknya terbakar karena jatuh waktu berangkat berjualan

“Pada awal jualan dulu, sedih. Gerobak saya pernah terbakar, awal jualan memang belum pernah pengalaman jadi waktu itu karena jalan rame mobil dibelakang nglakson saya kaget. Saya minggir ternyata jarak antara tanah dan aspal agak tinggi. Gerobak saya guling, waktu itu masih pake minyak tanah minyak nya tumpah langsung ngebakar gerobak” ia mengisahkan. Suatu kali ia juga pernah tersenggol truk sehingga gerobaknya rusah parah, ia mendapat ganti rugi dan diganti uang Rp. 30.000. waktu itu harga gerobak masih Rp. 20.000 sehingga sisanya bisa buat modal lagi.

Sejak Sepember 2013 ia bersama 100 pedagang bakso se Jakarta Selatan bergabung dengan program pedagang tangguh miwon yang merupakan kegiatan pemberdayaan pedagang bakso yang dilakukan oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa bekerja sama dengan PT Miwon Indonesia. Program ini memberikan bantuan peralatan berjualan bakso berupa gerobak, kompor, tabung gas dan peralatan makan.

Bahagia terlihat diraut mukanya ketika bapak dua anak itu mengetahui ia menjadi mitra program. sebagai wujud syukur dan rasa senangnya ia berjalan kaki lima jam sambil mendorong gerobak barunya. “Saking senangnya dapet gerobak saya dan temen-temen dorong gerobak dari kantor miwon di Pulauggadung, Jakarta Timur  sampai Pejaten Jakarta Selatan. berangkat jam 11.00 sampe rumah jam 16.00 WIB. Dijalan ada yang teriak lagi pawai ya…saya senyum aja” ujar bapak asal Karanganyar ini.

Semangat itulah yang mendorong untuk berusaha lebih baik. Lambat laun usahanya semakin berkembang “ Dulu omzet sehari 100-200 ribu, alhamdulillah sekarang menjadi 500-700 ribu per hari. Itu mulai dari jam 4 sore mas, istri saya juga jualan dirumah” ungkap nya dengan semangat. Istrinya berjualn bakso dirumah memanfaatkan gerobak yang lama.

Tinggal di Jakarta dengan beragam permasalahan tidak membuatnya surut semangat. Wilayah  tempat tinggal yang sekarang nya merupakan salah satu wilayah langganan banjir karena letaknya sebelah sungai. Ia menceritakan “Dulu waktu tinggal di kulon (sebelah barat) kalo banjir sampai setinggi gerobak, jadi nggak bisa jualan. Sekarang pindah di wetan (sebelah timur) kalo banjir paling hanya se roda gerobak karena posisinya lebih tinggi. Kalo lagi banjir saya berangkat dibantu istri, karna harus di lewat gang konblok yang disisinya ada got. Jadi istri saya didepan mencari jalan, gerobak saya miringkan kedepan (300 ) supaya tabung sama kompornya tidak terendam” ungkap bapak dua anak ini.

Masih ada keinginan yang ia pendam untuk memiliki kios bakso sendiri. Ia ingin mengajak kedua menantunya untuk patungan modal memulai usahanya.

{fcomment}

 

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan