Buah Perjuangan Murtiningsih selama 23 tahun

Sejak suaminya meninggal dunia tahun 1992, Murtiningsih memulai usaha jualan nasi kuning. Kondisi ekonomi dan menyandang status single parent membuatnya menjadi perempuan tangguh. Ia hanya berfikir bagaimana anak-anaknya bisa makan dan sekolah. ‘Suami saya meninggal tahun 92, dari situ saya mulai usaha ini (nasi kuning). Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak”, ungkap ibu 3 anak ini.

Perjuangannya selama 23 tahun tidak sia-sia, sekarang ketiga anaknya sudah mandiri. “Alhamdulillah sekarang anak-anak saya sudah bisa mandiri. Yang pertama sudah menikah, yang kedua sudah kerja sebagai lab. Analis di RS, Telogo Rejo yang bungsu sedang kuliah sambil kerja” paparnya. Rasa bahagia jelas terpancar dari wajahnya.

Diusianya yang memasuki kepala enam, idealnya sudah menikmati hari tua apa lagi semua anaknya sudah mandiri. Tapi ia tidak mau berdiam diri dan menunggu  ‘jatah’ dari anak-anaknya. Ia terus bekerja sama seperti dulu, seolah-olah tidak ada capeknya. “Saya klo diam malah capek, suntuk. Jadi harus gerak biar sehat. Makanya saya tetep buka warung ”ungkap De Murti, begitu ia di sapa oleh pelanggannya.

Setiap harinya ia membuka warung nasi kuning di pinggir jalan dekat rumahnya. Warungnya mungilnya berdiri di tanah milik PT KAI yang diberikan hak guna saja untuk masyarakat sekitar. Lokasi tersebut cukup ramai, karena  dilalui para  buruh pabrik di kawasan industri Tanjung Mas. Ia membuka warung mulai dari jam 06.00 sampai pukul 08.00, karena waktu-waktu itulah saat para buruh pabrik beraktivitas. Murtingsih menyiapkan dagangannya sejak pukul 02.00 dini hari. Dan itu ia lakukan setiap hari.

Ia mempunyai pelanggan tetap, yang setiap pagi setia berbelanja di warungnya. Dari hasil jualannya ia putar lagi untuk modal, sisanya ia sisihkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dan menopang aktivitasnya sebagai ‘sosialita’. “Sehari-harinya saya dapet 200 ribu. Alhamdulillah untuk tambah-tambah lah. Kan biasa ibu rumah tangga di kampung banyak kegiatanya. Arisan, PKK, dasa wisma dan pengajian. Sedikit-sedikit juga diinfaqkan”, tandasnya.

Murtiningsih termasuk wanita aktif di kampungnya. Ia sering ikut kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Sekarang ia juga aktif sebagai mitra program Pemberdayaan Kelompok Pedagang Makanan Sehat di wilayah Tanjung Mas Semarang Utara. Program ini dilaksanakan oleh Dompet Dhuafa (DD) dan jejaring ekonominya yaitu Masyarakat Mandiri (MM)

Ia senang bisa ikut program ini karena selain mendapat tambahan modal untuk usahanya ia juga mendapatkan pelatihan tentang kemanan pangan, mendapat pembinaan dan pendampingan.

Kini ia mempunyai usaha tambahan yaitu warung sembako yang ia buka dirumahnya. Ia membuka warung setelah selesai berjualan nasi kuning. Ia masih ingin terus membuka usaha selama ia mampu. #inspirasiuntuknegeri

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan