Bubar Sebelum Mekar

 

20 Agustus 2014

     Dinginnya pagi, membuatku menunda untuk mandi. Ku duduk sambil ngopi menyiapkan materi Latihan Wajib Kelompok Mitra (LWK). Bahagia rasanya, usaha yang kulakukan selama sosialisasi sebulan ini akhirnya membuahkan hasil. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 8 pagi, aku bergegas mandi untuk memulai aktivitas.

     Selesai mandi, terdengar ringtone handphoneku berdering, buru-buru datangi sumber suara. Private number yang terbaca di layar handphone. “siapa ya?”, gumamku. “Assalamu’alaykum”, Terdengar suara ibu-ibu mengucapkan salam. ‘Wa’alaykumsalam”, jawabku. “Mas rois,  LWK jadinya hari senin malam bukan malam senin ya”,  lanjut suara di ujung telepon tanpa memperkenalkan diri. “Ini mbak Rianti bukan?” tanyaku, sok tau. “Iya mas”, jawabnya. Rianti adalah Sekretaris KM Barokah Kelompok Pertama yang melakukan LWK.

     Rianti mengklarifikasi sms yang ia kirim, bahwa ibu-ibu bisa ikut LWK senin malam bukan malam senin “Salah ketik” katanya. “Mbak, maaf kalo bisa jangan terlalu lama, supaya akhir agustus ini LWK selesai dan bisa melanjutkan proses pengajuan” jelasku. “Iya mas tapi saya bilang dulu sama yang lain, kebetulan beberapa ibu-ibu masih dipasar”, responnya.

Sambil menunggu kabar dari Rianti, aku membaca-baca lagi materi-materi LWK. Tidak lama kemudian terdengar ringtone Handphone ku kembali berbunyi. Ternayata  Short Mesagge dari  Rianti ‘mas, rois LWKnya nanti malam ba’dha magrib di rumah ibu Maninten ya. Terimakasih’.  ‘iya. insyaAlloh nanti saya kesana’, balasku.   

                                                            ­­——————————————-

   Adzan magrib berkumandang, bergegas kutunaikan kewajibanku di mushola dekat kostan. selesai sholat aku bergegas kerumah ibu Maninten, yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku.

    “Monggo mas rois, sebentar nggih kulo pel dulu lantainya” sapa bu Maninten dengan wajah sumringah menyambutku. Sambil ngobrol aku duduk di teras menunggu ibu-ibu yang lain yang belum satupun hadir.

     Satu persatu ibu-ibu calon mitra berdatangan, aku tunggu sampai lengkap 10 orang baru aku mulai LWKnya. Waktu berjalan, 10 menit kemudian ibu calon mitra terakhir datang. Akupun mulai LWK dengan penuh semangat. Ibu-ibu juga terlihat antusias mendengar kan materi pertama LWK tentang gambaran umum program. saking asiknya dan semangatnya, tidak terasa sudah 50 menit aku memberikan materi.

    “Pripun ibu-ibu sampun mengertos nggih (gimana ibu-ibu sudah mengerti ya)”, tanyaku. “Benjing saged LWK maleh nggih. Yen saget tigang dinten berturut-turut. Pripun? (besok bisa pertemuan LKW lagi ya. Kalo bisa 3 hari berturut-turut)”, Tanyaku. ”Langsung tigang dinten mawon mas (langsung 3 hari aja mas)”, sahut bu Maninten, yang juga Ketua kelompok. Lega rasanya LWK pertamaku sukses. Akupun minta ijin pulang duluan kepada ibu-ibu. Ibu masih asyik ngobrol waktu ku tinggalkan, tidak ada yang aneh dengan mereka.

     Dijalan sudah terbayang besok ngisi LWK lagi, bertemu dengan ibu-ibu yang semangat dan kompak. Berharap nanti, kelompok ini akan menjadi contoh untuk kelompok-kelompok berikutnya.

21 Agustus 2014

     Setelah selesai menunaikan sholat magrib berjamaah di mushola, aku bersiap berangkat kerumah bu Maninten. Dengan penuh semangat ku langkahkan kaki tanpa ragu. Sampai dirumah bu Maninten, kok sepi, pintu tertutup rapat. Ku ketuk pintu tapi tidak ada jawaban. “kutungguin ajalah, mungkin lagi keluar”, kataku dalam hati. ”Mas Rois” terdengar suara dari dalam rumah. “lho nggak ada yang ngasih tau tho”, tanya bu Maninten. “Kasih tau apa bu?”, tanyaku balik. “Mas rois nggak dikasih tau Rianti, kalo kelompok kita (KM Barokah) sudah bubar tadi malam”, ungkap ibu Maninten. “Kok bisa begitu, bu “ tanya ku kaget dan bingung. “ Iya mas kata ibu-ibu semalem, jumlah pembiayaan terlalu kecil dan belum tentu jumlah yang diajukan bisa 100 % cair” jelasnya. Setelah menerima penjelasan tersebut, ku coba klarifikasi ke Rianti, sekretaris kelompok, namun tidak ada. “Rianti, ten griyane morosepuhe mas (Rianti lagi dirumah mertuanya mas)”, jelas orang tua Rianti.

    Dengan langkah gontai dan kecewa aku melangkahkan kaki beranjak pulang. Nggak habis pikir, kelompok yang terlihat kompak dan semangat harus bubar sebelum mekar menjadi kelompok yang menjadi contoh kelompok lainnya. Tapi aku aku tidak boleh larut, masih ada kelompok-lain yang alhamdulillah sudah terbentuk. Berharap kelompok-kelompok lainnya tidak ‘bernasib’ sama dengan KM Barokah.

     Sebulan berlalu, Walapun masih heran dengan kejadian KM barokah, namun semua telah terobati karena saat ini sudah ada 3 kelompok yang berhasil sampai tahap pengajuan dan pengajuan mereka diluluskan 100%. Total mitra ada 26 orang, malahan dari sejumlah mitra tersebut menyepakati untuk membentuk semacam paguyuban dengan nama Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Mandiri Amanah Sejahtera yang dimotori oleh ibu Shofiyatun. (kisah KM Barokah, Program KPMS Semarang)

{fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan