Capek Kucing-kucingan dengan Petugas

Jae, panggilan Jaenal. Pemuda 23 tahun ini menikmati mudanya dengan hidup mandiri, meski harus melewati masa-masa pahit. Benih mandiri disemainya semenjak masa kecil.

Di desanya di daerah Cilacap, Jawa Tengah, Jae menikmati masa sekolah dasar di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Sembari belajar, di waktu istirahat Jae berjualan es lilin. Salah seorang gurunya sempat melarangnya dikarenakan pekerjaan berjualan bisa menganggu belajarnya. Tapi, Jae kecil tetap kukuh berjualan es lilin pada teman-temannya.

Kegemaran main jangkrik merangsang ‘otak bisnis’ Si Kecil Jae. Diapun lantas berjualan jangkrik. Tampaknya memang sepele. Tapi itulah yang mengantarkan jiwa Jae terpupuk untuk memilih dunia niaga di fase usia dewasanya.

Di masa remaja, Jae sempat tak karuan hidupnya. Akibat pergaulan, ia suka bolos sekolah. Jadilah, Jae melewatkan pendidikan hanya sampai kelas 2 SMA. Karena tak mau terpuruk dan keterusan berantakan hidupnya, ia memutuskan merantau ke Jakarta tahun 2008.

Jae bekerja pada seorang penjual es tebu. Seringnya ia mangkal di Pasar Minggu, menawarkan kesegaran es tebu pada pelanggan yang mencari minuman segar yang unik. Akan tetapi, kesegaran es tebu tak sebanding dengan nasib usahanya. Bersama pemilik dagangan, Jae harus pontang-panting ‘dikerjain’ petugas Satpol PP. Pedagang dengan motor beroda empat tak punya lapak resmi seperti bosnya tentu dianggap melanggar peraturan.

“Saya ikut capek dikerjain petugas. Dagangan memang laku, tapi harus terus kucing-kucingan dengan Satpol PP,” kenang Jae. Selain itu, ikut kerja pada orang membuatnya merasa tak berkembang. Sudah capek, ia tak menemukan kepuasan batin. Tekad untuk lebih mandiri pun dibulatkan. Tekad inilah yang memicu Jae untuk berhijrah.

Sesudah melewati berbagai ujian, Jae akhirnya menemukan jalan rizkinya. Dengan tabungan yang dimiliki ia membeli sebuah kios kecil di belakang masjid UIN Jakarta di Ciputat. Kebetulan seorang pemilik toko kelontong tak bisa urus kiosnya. Jae membeli isi kios dan meneruskan sewa kios.

Program Yang Muda Yang Mandiri dari Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa memberikan dampingan pada para pemuda yang potensial di lingkar Kantor Dompet Dhuafa sekitar Ciputat. Dari program ini, Jae di antaranya bisa beroleh pembiayaan untuk penambahan modal untuk menambah barang dagangan berupa galon air minum dan beras. Untuk melengkapi kios, ia juga menyewa kulkas untuk display minuman segar pada seorang kawan.

“Pendampingan itu membuat saya banyak teman, memperluas silaturahmi, bisa kenal ora-orang penting. Pendampingan juga bisa saling berbagi pengalaman dan belajar mengembangkan usaha.”

Kios kecil di gang belakang masjid UIN memang tak begitu ramai dibanding took-toko kelontong di pinggir jalan besar. Untuk sementara, penghasilannya masih pas-pasan, “Untuk sementara bisa buat makan saja sudah Alhamdulillah.”

Namun, dari yang kecil itu, Jae memupuk impian dan rencana-rencana. Diam-diam Jae menginginkan kios yang nantinya besar. Menjamurnya mini market membuatnya merenung. ‘Apa iya mereka yang bermodal besar saja yang bisa bikin toko-toko seperti itu?’

“Orang kecil seperti saya juga ingin punya toko sekelas mini market,” ucapnya serius. Jae juga menginginkan kelak bisa mempunyai sebuah toko di kampung halaman sana. Di desanya. Tempat ia pernah memupuk jiwa mandiri kala masih kecil. Kala Jae kecil berjualan es lilin dan jangkrik.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan