Catatan Pemberdayaan Pesisir Serang Banten

Daerah pesisir identik dengan kemiskinan, setidaknya itulah yang ditunjukkan data dari Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, yang memperlihatkan lebih dari 70 % penduduk miskin di Indonesia adalah masyarakat yang hidup di kawasan pesisir dan pedesaan. Ironi di tengah negeri yang 2/3 wilayahnya merupakan lautan dan memiliki kekayaan bahari yang sangat besar dan melimpah sampai  dinobatkan sebagai negara maritim terbesar di dunia.

Namun ini adalah realita yang tidak bisa dipungkiri. Tidak pantas jika kemudian hanya berpangku tangan, mengeluh atau mengkritik tanpa solusi. Kemiskinan tidak bisa diselesaikan dengan wacana, namun dibutuhkan aksi nyata yang terukur dan terencana.

Dompet Dhuafa sebagai lembaga kemanusiaan berbasis zakat, mencoba mengambil peran dalam pengentasan kemiskinan di negeri ini. Beberapa program pengentasan kemiskinan dilaksanakan untuk menjadikan masyarakat miskin mampu hidup mandiri berkecukupan tanpa mangharap belas kasihan dari orang lain. Salah satu program pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa adalah Program Pemberdayaan Nelayan Kerang HIjau. Program ini dilaksanakan di Kp. Rujak Beling, Kelurahan Margaluyu, Kota Serang-Banten.

Kp. Rujak beling mayoritas penduduknya adalah nelayan terutama nelayan kerang hijau. Kerang hijau tidak hanya melibatkan kaum laki-laki namun juga melibatkan istri-istri nelayan sebagai tenaga pengupas kerang. Kerang hijau di Rujakbeling menjadi penopang utama ekonomi masyarakat.

Tahun 2012 Dompet Dhuafa (DD) bersama Jejaring Ekonominya Masyarakat Mandiri (MM) berkerjasama dengan Keluarga Muslim Citibank (KMC) memulai program tersebut. Kondisi masyarakat dengan pendapatan harian yang minim, biaya kebutuhan hidup yang relatif tinggi, kurangnya fasilitas usaha yang mendukung perekonomian keluarga serta mental sumber daya manusia yang lemah menjadikan komunitas ini masih jauh dari indikator kesejahteraan.

Untuk memberdayakan sebuah komunitas di masyarakat diperlukan konsep yang jelas, strategi pemberdayaan yang tepat, tahapan yang sistematis, tujuan yang realistis dan waktu yang tidak singkat agar mencapai goal yang diinginkan. Karena komponen pemberdayaan masyarakat tidak hanya sebatas meningkatkan pendapatan komunitas saja, namun lebih luas dari itu. Pemberdayaan juga mencakup perubahan attitude, sikap dan tingkah laku, selain itu juga membuka paradigma komunitas bahwa mereka memiliki potensi yang bisa dikembangkan dan memiliki hak untuk lebih maju dan sejahtera.

Masalah kemiskinan nelayan merupakan masalah yang bersifat multi dimensi sehingga untuk menyelesaikannya diperlukan sebuah solusi yang menyeluruh, dan bukan solusi secara parsial. Setiap pihak harus bersinergi, terkoneksi satu dengan lain, membangun sebuah gerakan bersama menanggulangi kemiskinan secara berkelanjutan.

Ini lah kemudian MM-DD menempatkan seorang fasilitator atau Pendamping, yang tinggal dekat dengan komunitas dampingan. Tugas berat mesti dipanggul seorang pendamping masyarakat,  karena berhasil atau gagalnya program bergantung dipundaknya.

Aneka peran yang harus dilakukan oleh pendamping dari mulai proses rekruting calon penerima manfaat supaya tepat sasaran, sebagai motivator, sebagai analisator usaha dan sebagai penghubung dengan pihak lain.

Dalam program Pemberdayaan Nelayan Kerang Hijau pendamping mampu melakukan tugasnya dengan baik, sehingga ada perubahan baik secara ekonomi maupun sikap penerima manfaat. Pendamping mampu meleburkan diri sehingga bisa diterima dan didengar oleh masyarakat. Sehingga masyarakat dengan senang hati menerima arahan dari pendamping.

Pelaksanaan Program Pemberdayaan Nelayan Kerang Hijau melalui kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Kota Serang telah berakhir pada tahun 2014, namun proses fasilitasi dan pembinaan masih dilanjutkan oleh lembaga pendamping secara berkala.

Selama dua tahun pelaksanaan program, terlihat adanya perubahan-perubahan baik secara ekonomi maupun sosial. Secara ekonomi pendapatan penerima manfaat naik sebesar 20 % dan sebagian penerima manfaat sudah lepas dari cengkeraman rentenir.

Secara sosial yang darinya sendiri-sendiri dalam usaha sekarang berkelompok, kepedulian dengan yang lain juga semakin terpupuk. Infaq yang mitra kumpulkan dipergunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Hal jarang ditemui di masyarakat saat ini.

Sumbangsih yang sedikit ini, semoga bisa menjadi inspirasi dalam hal pengentasan kemiskinan. Sehingga program-program pengentasan kemiskianan tidak terkesan reaktif dan sporadis tanpa perencaanaan yang matang. Pemberdayaan bukan sekedar memberikan bantuan sekali atau dua kali selesai, namun memerlukan proses, dan proses ini tidak bisa dilakukan oleh masyakarat sendiri. Perlu peran fasilitator yang mamapu membimbing dan mengarahkan menuju masyarakat yang mandiri.

Selanjutnya program Pemberdayaan Kerang Hijau akan ditingkatkan dengan tambahan modal yang lebih banyak. Dengan harapan penambahan modal akan mampu merubah kondisi ekonomi masyarakat. Merubah yang tadinya Mustahik (penerima zakat) menjadi Muzakki (orang yang berzakat).

{fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan