Dompet Dhuafa Gairahkan Pemberdayaan Purna TKI di Kabupaten Sragen

Bila mendengar sebutan “Pahlawan Devisa”, sebagian besar dari kita tertuju dengan berbagai persoalan yang menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau buruh migran. Persoalan buruh migran di Indonesia seakan tidak kunjung usai, sejak proses keberangkatan (pra penempatan), penempatan kerja diluar negeri maupun pada saat kembali lagi ke tanah air (purna). Belum lagi, tragedi kekerasan, pemerasan dan tindakan asusila lainnya selalui menghantui para TKI yang berjuang di negeri orang.

Sebutan “Pahlawan Devisa” disematkan kepada para buruh migran dikarenakan mereka telah berkontribusi dalam pendapatan negara. Pada tahun 2013 tercatat 4 juta TKI telah menyumbang devisa lebih dari Rp 100 triliun per tahun ke negara. Cukup besarnya nilai devisa yang diberikan buruh migran, setidaknya dapat mendorong pemerintah untuk melakukan program pemberdayaan yang terintegrasi khususnya pada saat buruh migran kembali ke tanah air.

Namun faktanya, masih banyak buruh migran di Indonesia yang sulit memperoleh pekerjaan saat pulang ke Tanah Air. Hingga akhirnya menambah jumlah angka pengangguran di negeri ini. Para buruh migran tersebut tak memiliki skill yang mumpuni sehingga sulit bersaing dengan para pekerja professional lainnya.

Kondisi yang dialami para buruh migran tersebut membuat  Dompet Dhuafa melalui Karya Masyarakat Mandiri (KMM)  turut berkontribusi dengan menginisiasi program pemberdayaan bagi buruh migran purna. Program Pemberdayaan Purna TKI sendiri bertujuan meningkatkan usaha ekonomi keluarga migran purna melalui fasilitasi penguatan kegiatan usaha. Selain meningkatkan usaha ekonomi, tujuan dari program pemberdayaan ini diharapkan mampu menjadi kerangka advokasi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh buruh migran,  juga sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan potensi diri dan lingkungannya dalam aspek ekonomi.

Salah satu wilayah yang menjadi pemetik manfaat dalam program ini adalah Kabupaten Sragen. Program pemberdayaan purna TKI Sragen telah berjalan  selama enam bulan. Program ini direncanakan dilaksanakan selama satu tahun.

“Alhamdulillah, saat ini sudah terbentuk sebanyak 4 kelompok  dengan 30 orang mitra yang menjadi pemetik manfaat yang tergabung dalam anggota Keluarga Migran Indonesia (KAMI) Sragen.  Kabupaten Sragen dipilih, karena buruh migran purna cukup banyak di wilayah tersebut,” ujar Rudi, Pendamping Program saat dihubungi pada Rabu (6/4).

Dalam Program Pemberdayaan Purna TKI, Rudi menjelaskan, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan secara umum adalah sosialisasi program, perekrutan mitra melalui studi kelayakan mitra dan latihan wajib kelompok, penguatan usaha mitra dan kelompok melalui pertemuan kelompok dan pembiayaan usaha serta penguatan kelembagaan lokal dengan pembentukan struktur kepengurusan pra koperasi serta asistensi dan pelatihan.

Empat kelompok yang sudah terbentuk dalam Program Pemberdayaan Purna TKI Sragen di antaranya Lestari Mulyo, Gemah Ripah, Subur Makmur, dan Sumber Rejeki. Jenis usaha kelompok yang dikembangkan di antaranya produksi aneka kripik, ternak kambing, budidaya jangkrik dan budidaya jamur tiram. Hasil produksi lalu dipasarkan melalui kerjasama dengan para stakeholder, baik instansi pemerintah yaitu Dinas Koperasi, maupun lembaga lainnya seperti KAMI Sragen dan BNP2TKI, pengusaha jangkrik dan sentra oleh-oleh.

“Mereka mengaku, penghasilan yang mereka terima dari usaha kelompok yang dijalani saat ini mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, dan semakin mumpuni dalam memasarkan produksi setelah mendapatkan pendampingan dan pelatihan dari Dompet Dhuafa,” jelas Rudi.

Dengan demikian, pelaksanaan program pemberdayaan purna TKI Sragen ini juga tidak terlepas dari tujuan Dompet Dhuafa yang ingin memberikan kontribusi nyata dalam upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia. Tujuan mulia tersebut tentu tidak dapat dilakukan sendiri, oleh karena itu dukungan dan sinergi semua pihak. (Dompet Dhuafa/Uyang)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *