Geliat Klaster Mandiri Rote Ndao

     Rote Ndao manjadi salah satu wilayah sasaran pelaksanaan program Klaster Mandiri yang dilakukan oleh Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa (DD). Klaster mandiri merupakan salah satu program unggulan berbasis pada pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal. Rote Ndao dinilai layak sebagai wilayah sasaran  program karena termasuk daerah miskin dengan angka kemiskinan 29,9 % (data BPS) dan mempunyai potensi kekayaan laut yang bisa dikembangkan.

     Klaster Mandiri Rote Ndao di mulai Oktober 2013 dengan wilayah sasaran yaitu Dusun Papela, Desa Landolusi Kecamatan Rote Timur dan Dusun Oenggae Desa Tungganamo Kecamatan Pantai Baru, dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah nelayan dan petani rumput laut.

    Pemberdayaan difokuskan pada pengembangan ekonomi masyarakat dengan bahan baku yang tersedia di sekitar mereka. Pulau Rote Ndao yang dikelilingi oleh laut manjadikan ikan menjadi komoditas yang mudah ditemui dengan harga yang relatif murah. Potensi inilah yang dikembangkan oleh MM-DD untuk meningkatkan pendapatan.

   Selama 12 bulan program berjalan  beberapa kegiatan telah dilaksanakan. Semua kegiatan dilaksanakan diikuti oleh masyarakat sekitar. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan antara lain Pelatihan pembuatan Kerupuk ikan, Abon Ikan dan amplang untuk ibu-ibu istri nelayan. Sedangkan anak muda yang masih menganggur diberikan pelatihan pembuatan kerajinan berbahan dasar pasir yang bahan bakunya mudah didapat dipantai disekitar pemukiman.

    Beberapa usaha sudah mulai berjalan dan memberikan hasil walaupun masih belum signifikan. Kerajinan pasir yang di gawangi oleh para pemuda yang tergabung dalam kelompok Papa sudah mulai kebanjiran pesanan kerajinan pasir dari sekolah-sekolah dan institusi disekitar Dusun Papela. Dengan bermodal uang 3,5 juta rupiah dari program mereka pergunakan untuk membeli peralatan dan bahan baku yang harus mereka beli di kupang.

     Semangat para pemuda ini menjadikan usaha ini mempunyai prospek cerah. Potensi wisata sebenarnya yang menjadi sasaran para pemuda. Mereka ingin hasil kerajinan tangan mereka menjadi salah satu cinderamata khas Rote Nado. Pengelolaan yang belum maksimal membuat wisatawan masih jarang berkunjung ke pantai di papela.

    Satu lagi kabar menggembirakan datang dari kelompok petani rumput laut di Dusun  Oenggae. Ditempat ini terdapat dua kelompok yaitu samudera bahari dan setia bahari. Butuh dana yang tidak sedikit untuk mengembangkan rumput laut. Modal dana 20 juta perkelompok yang diberikan program, mereka belikan peralatan dan bahan-bahan kebutuhan untuk menanam rumput laut. Sekarang Rumput laut yang mereka tanam sudah mulai terlihat hasilnya dan diharapkan panen nanti mampu memberikan keuntungan yang signifikan untuk kelompok maupun anggotanya.

     Musim masih menjadi kendala dalam pelaksanaan program. Profesi nelayan dan petani rumput laut sangat bergantung pada musim. Jika terjadi musim angin mereka harus menunggu sampai musim angin usai, baru mereka bisa beraktifitas seperti biasa.

   Program mencoba mendorong mitra untuk tetap mampu berpenghasilan walaupun kondisi sedang tidak melaut dengan melalukan aktifitas usaha non nelayan yang mampu memberikan penghasilan untuk menutupi kebutuhan selama tidak melaut.

    Saat ini program klaster mandiri telah ikuti oleh 37 mitra yang tergabung dalam 2 kelompok.  Dengan pola pendampingan intensif, diharapkan program ini mampu merubah tingkat ekonomi dan cara berfikir masyarakat. Tidak lagi bergantung sepenuhnya pada laut namun mampu membangun usaha produktif yang mampu menopang kehidupan mereka. #inspirasiuntuknegeri

{fcomment}

 

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan