Geliat Koperasi ISM Subur Jaya Cikoneng

Empat berkas ukuran A4 itu dijilid sederhana dengan balutan plastik mika sebagai sampul. Masing-masing berkas tergolong tipis, hanya 20an halaman. Kendati begitu, keempat berkas tersebut bukan sembarang dokumen bagi Siti Komariah (35).

“Dari berkas Laporan Pertanggung Jawaban dan Rapat Anggota Tahunan Koperasi ini semuanya jelas. Berapa total dana dan penerima manfaat koperasi,” ungkap Siti yang merupakan Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Subur Jaya, Desa Margaluyu, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat.

Dari dokumen tersebut diketahui, hingga laporan tahun buku 2012 lalu total penerima manfaat KSU ISM Subur Jaya—terdiri dari mitra dan anggota—mencapai 147 orang. Sementara, jumlah dana yang dikelola mencapai Rp164 juta. Dana tersebut, kata Siti, meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Pada masa awal berdiri tahun 2010, dana yang dikelola sebesar Rp133 juta. Sedangkan, pada 2011 sebesar Rp149 juta,” imbuhnya.

Berawal dari Masyarakat Mandiri (MM)

“KSU ISM Subur Jaya terbentuk tidak bisa lepas dari program MM Dompet Dhuafa. Waktu itu tahun 2009 di desa kami ini para pengusaha kecil mendapatkan bantuan,” terang Siti.

Lebih lanjut Siti memaparkan, bantuan yang diterima tersebut diperuntukkan untuk para pengusaha industri rumah tangga (IRT). Cikoneng sendiri mashyur sebagai kawasan pusat industri makanan ringan di Jawa Barat, khususnya Priangan Timur. Di kawasan perbatasan antara Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis itu beragam makanan ringan seperti kerupuk, keripik, dan makaroni diproduksi.

Penguatan Usaha Mikro IRT berbasis makanan ringan merupakan program MM Dompet Dhuafa di Cikoneng. Program hadir lantaran mayoritas IRT makanan ringan belum memperhatikan aspek kesehatan dan keamanan makanan. Produk pun kurang bisa bersaing dengan produk yang lebih modern dan pabrikan. Padahal, sentra-sentra produksi tersebut telah berjalan puluhan tahun.

Sementara masing-masing IRT berjalan sendiri-sendiri sehingga terjadi persaingan kurang sehat di antara para pengusaha. Hadirnya program MM di Cikoneng mendorong peningkatan kesejahteraan komunitas pengusaha skala mikro, khususnya pelaku IRT makanan ringan.

“Waktu itu ada pendamping yang didatangkan langsung dari Jakarta. Menetap di desa kami selama program berlangsung,” tutur Siti.

Siti menambahkan melalui pendamping, program disosialisasikan dan dijalankan. Pelatihan pembukuan, kewirausahaan, pemasaran, serta pembuatan makanan sehat dan aman merupakan realisasi program MM di Cikoneng.

Wawan Mujib Ridwan (40), salah seorang pelaku IRT kerupuk kulit menuturkan, program MM telah memberikan manfaat bagi dirinya. “Selain pengetahuan, terutama pemasaran, yang kami dapat, kekeluargaan sesama pengusaha terjalin karena berkomunitas,” katanya.

Usai berjalan selama setahun, program MM pun hendak melakukan exit program.  Para penerima manfaat program dan pendamping pun lantas merumuskan langkah ke depan. “Nah, saat itulah para pelaku usaha IRT mengusulkan dibentuk koperasi dan disetujui oleh pendamping,” papar Siti.

Usul tersebut lantas diajukan ke MM. Setelah disetujui dan mendapat dukungan dari MM, pada 24 November 2010 terbentuk KSU ISM Subur Jaya dengan Nomor Badan Hukum: 17/BH/XIII.6/KUKUM/2010.

Mitra Usaha Mikro

KSU ISM Subur Jaya memang bukan koperasi pertama dan satu-satunya yang ada di Cikoneng. Meski demikian, warga yang umumnya para pelaku usaha mikro lebih memilih KSU ISM Subur Jaya sebagai mitra usaha. “Dari segi margin lebih rendah dari yang lain. Maksimal 2%,” ungkap Nina Kurniawati (32), mitra KSU ISM Subur Jaya, pemilik usaha warung kelontongan.

Hal tersebut dibenarkan Siti. Koperasi yang ia pimpin mematok marjin maksimal 2%. Kebijakan tersebut dibuat agar tidak terlalu membebani mitra dan anggota. Di koperasi lain, informasi Siti, margin bisa lebih dari 2,5%.

“Para mitra usaha yang memanfaatkan layanan pinjaman dari Subur Jaya beragam. Mulai dari usaha kerupuk, cilok, warung, penjual baso, hingga tukang kredit. Total ada 17 kelompok mitra,” terangnya.

Layanan pinjaman modal dari Subur Jaya juga dimanfaatkan Wawan. Ia mengaku terbantu. Diakuinya, kebutuhan utama usaha mikro adalah ketersediaan modal. “Modal mah emang nomor satu. Setelah itu yang dipikirin pemasarannya bagaimana,” tutur Wawan yang dulu menjalani usaha makaroni ini.

Senada dengan Wawan, Agus Salim (26), pelaku usaha kerupuk mie merasa terbantu usahanya. Usahanya yang telah mendistribusikan produk hingga Bandung dan Purwakarta ini acapkali memerlukan modal cadangan.

“Biasanya pemborong ngambil barang dulu. Jadi, untuk produksi lagi mau gak mau harus ada modal cadangan,” jelas Agus.

Melihat pertumbuhan dana dan mitra yang meningkat tiap tahun, Siti berharap eksistensi Subur Jaya dapat terus tumbuh. Dengan begitu, berbagai IRT berbasis makanan di Cikoneng yang telah berjalan puluhan tahun pun dapat bertahan hingga puluhan tahun berikutnya. (gie)

Sumber: http://www.dompetdhuafa.org/2013/08/21/geliat-koperasi-ism-subur-jaya-cikoneng/

{fcomment}

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan