Grameen, AIM, dan MM

Indonesia sempat dibuat takjub atas fenomena penerima Nobel Muhammad Yunus, beberapa waktu lalu. Bahkan, banyak orang mungkin tak tahu bahwa dia ternyata pernah belajar pada model yang dikembangkan Bank Rakyat Indonesia. Orang hanya tahu, ia seorang pencetak Grameen Bank, bank untuk orang miskin.

Proses adopsi model keuangan mikro a la Indonesia telah dilakukan oleh Yunus, bahkan epos dan capaiannya lebih dahsyat. Grameen bank benar-benar untuk orang miskin, dan dimiliki mantan orang miskin yang pernah dibantunya. Cabangnya ada di beberapa negara.

Proses adopsi atau sekadar replikasi dari sebuah karya manusia bernilai sumbangan bagi kemaslahatan tentu patut dilakukan. Yang tidak patut pastinya meng-copy karya pengusung mudlarat. Dalam dunia keuangan mikro, Grameen Bank beberapa tahun lalu telah mulai dilirik pemeduli kaum marjinal. Di antaranya di negeri jiran Filipina, Burma, Thailand dan Singapura. Di Malaysia, model Grameen Bank ditegakkan dengan dana Pemerintah Kerajaan Malaysia bernama Amanat Ikhtiar Malaysia (AIM).

Orang-orang miskin di Malaysia cukup terbantu dengan beberapa layanan pinjaman bagi pengembangan usaha, bea pendidikan dan kesehatan. Tingkat pengembalian pinjaman dengan jaminan kumpulan atau kelompok sangat tinggi. AIM kemudian memiliki gaung cukup berarti.

Sampailah gaung itu ke Indonesia. Dompet Dhuafa Republika memilih lembaga AIM sebagai model yang memiliki beberapa kesesuaian dengan kultur di Indonesia. Selain pembiayaan untuk kaum miskin digunakan penjaminan kelompok, AIM menerapkan cara-cara agar orang miskin lebih mudah memperoleh akses pinjaman. Dompet Dhuafa setidaknya dua kali mengirimkan tim ke AIM. Tahun 1998 buat studi banding, disusul tahun 2001 untuk tujuan magang.

Tahun 2000, Tim DD telah mengembangkan perpaduan model community development dan mikrofinansial syariah. Dana sosial yang disalurkan untuk komunitas-komunitas kurang berdaya, dipercayakan sepenuhnya pada komunitas sebagai asset reform. Tentu tak serta-merta dana dari zakat, infak dan shodaqoh diserahkan pada penerima manfaat. Di sinilah peran model community development. Komunitas dibangun, dilejitkan potensi dan energinya agar lebih berdaya. Berswadaya.

Proses empowering dilakukan dengan pendampingan. Seorang Pendamping Mandiri dilibatkan di tengah-tengah masyarakat dampingan bertahun-tahun. Penguatan kapasitas digarap, dari intelektual, material sampai manajerial. Seiring pendampingan, keuangan mikro diterapkan. Model-model pembiayaan berbasis syariah dikenalkan. Di sinilah letak beda Dompet Dhuafa dengan AIM maupun Grameen.

Pendampingan di antaranya menghasilkan lembaga lokal yang pada gilirannya menjadi pemegang amanah asset reform dana sosial dari Dompet Dhuafa. Lembaga lokal menerapkan prinsip-prinsip keuangan berbasis syariah. Melalui sistem syariah, dana digulirkan bagi warga sekitar.

Tak hanya warga dampingan yang kemudian mengenal model syariah yang diharapkan membawa barokah. Warga yang lebih banyak lagi pun makin mengenal sistem keuangan alternatif. Mereka selama ini tak memiliki akses pembiayaan pada bank, kecuali bank keliling yang setia mengetuk pintu tiap hari. Model syariah dengan pendampingan, membuat mereka memiliki pandangan baru sama sekali tentang pembiayaan. Dana yang dihimpun dari kemuliaan para penyumbang (muzakki) pun, dinikmati penerima manfaat dengan harapan membawa barokah.
Masyarakat Mandiri dilahirkan sebagai pengembang sistem yang tak sebatas layanan keuangan mikro. Lebih dari itu, ia mengusung ikhtiar pembangunan manusia secara komunitas. Ia memang lahir dari pergulatan pemikiran dan perjuangan para pegiat di Dompet Dhuafa, di antaranya melalui proses belajar dari model-model yang telah ada sebelumnya.

Pada gilirannya Masyarakat Mandiri semoga bisa menjadi inspirasi bagi para pegiat community development, keuangan mikro, keuangan syariah, filantropi dan pemeduli masyarakat terpinggirkan. Sekali lagi, semoga!

Pernah diposting pada 6 Agustus 2008

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan