Haji Udin Bangkit Lagi

Pabrik kecil berupa bangunan papan beratap daun kirai tak seberapa luas, kini hidup lagi. Tepatnya saung konveksi. Mesin-mesin jahit berderet, bekerja siang-malam. Di belakang mesin, beberapa buruh serius menekuni pekerjaannya. Usaha itu menemukan nyawanya lagi sesudah melampaui sekian gelombang naik dan surut. Dulu usaha konveksi itu dirintis dari nol, lalu menjadi besar, tetapi lantas jatuh tak terkira dalamnya.

Belum lama ini, Haji Udin dipercaya sebuah perusahaan kantong buah berskala ekspor. Ia melibatkan bebrapa karyawan untuk memproduksi kantong. Siang hari ia bisa melibatkan 8-10 orang, malamnya ia mengajak lembur 5 orang. Orang-orang desa Rancalabuh, Kecamatan Kemiri Kabupaten Tangerang turut menikmati lapangan pekerjaan yang dibuat Udin.

Saung itu satu-satunya bangunan miliknya. Sebuah rumah saung di sebelahnya telah ia jual kepada orang lain. Ia menjadi saksi terakhir fase kebangkrutannya. Rumah dijual menyusul mesin-mesin jahit yang terlebih dulu dijual. Haji Udin dan keluarganya tinggal di saung konveksi. Keputusan besar itu tak bisa dihindari mengingat ia harus bisa menghidupi keluarganya, sementara usaha mandeg total. Semua itu bermula dari musibah kebakaran di Pasar konveksi Cipulir. Barang turut kebakar, uang tak mungkin terbayarkan. Ditambah kenaikan harga BBM yang menghempaskan banyak pelaku usaha.

Menganggur sempat membuatnya gelisah. Ia mencari-cari harmoni hidup dengan dekat orang-orang shaleh. Udinpun sempat menjauh dari urusan duniawi. Namun, ia menyadari juga harus menghidupi isteri dan empat anaknya. Karena itu ia terus berusaha bangkit mencari jalan keluar. Sebuah pelajaran penting didapatnya dari Munipah, Pendamping Mandiri dari Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa Republika di tahun 2000. Munipah pernah menyampaikan tips tentang kecerdasan hidup yang tak hanya mengandalkan otak dan emosi, namun juga sisi spiritual. Kebahagiaan hidup akan tercapai dengan kerja keras, kerja cerdas, sekaligus menyandarkan segalanya pada Sang Khalik.

”Sungguh, motivasi dari Mbak Munipah itu tak bisa diganti dengan uang. Ini yang membuat saya tak mau berdiam diri,” tuturnya bersemangat. Selain itu ada pelajaran berharga lain yang digalinya kembali, di antaranya membuat neraca keuangan dan proposal usaha. Ilmu memang tak kan lekang dimakan waktu, selagi manusia menghidupkannya.

Dengan modal berapa Haji Udin bisa bangkit?

”Usaha saya berawal dari dua puluh ribu rupiah!” matanya berbinar-binar. Dengan Rp 20 ribu, ia berjualan snack kemasan di sebuah perhelatan kampanye calon bupati di desanya. Beberapa orang juga menitipkan dagangannya. Rizki memang tak bisa disangka datangnya, Haji Udin hari itu bisa mengantongi Rp 500 ribu. Uang sebesar itu dibelikan sebuah mesin jahit. Tawaran produksi kantong buah datang. Beberapa teman turut meminjamkan modal yang mengantarkan Udin jadi bisa memiliki beberapa mesin jahit.

Tampaknya ia seperti mengulang kebangkitannya di masa lalu. Meski ia bergelar haji, ia tak punya harta dan pekerjaan tetap, kecuali guru ngaji. Gelar hajianya diperoleh saat masa remaja diajak orang tuanya berhaji atas fasilitas sebuah BUMN. Saking tak ada penghasilan tetap, istrinya sampai mau minta cerai. Bersyukur, Udin mampu menjaga bahtera keluarga agar tak oleng.

Tahun 2000 program pemberdayaan Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa masuk Rancalabuh. Udin awalnya tak percaya dengan tawaran modal mikro tanpa bunga. Namun, ia segera percaya dan bergabung. Ia meminjam Rp 500 ribu untuk berdagang pakaian pas menjelang lebaran. Ia meraup dua juta rupiah yang di antaranya ia bisa membangun rumah biliknya.

Udinpun cepat melunasi pinjaman, dan segera ia memperoleh tambahan pinjaman dengan mekanisme kelompok dampingan. Tak butuh waktu lama, usahanya melesat. Ia membesarkan usaha konveksi dengan beberapa mesin. Nilainya kira-kira Rp 50 juta. Udin juga memiliki sebuah mobil untuk menunjang usahanya.

Begitulah cerita perjuangan Haji Udin. Ia sempat di atas sebelum akhirnya jatuh. Dan, bangkit lagi.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan