Hidup adalah Pilihan

‘Jangan suka menahan uang zakat. Dosa!’

Kalimat ini yang diterima Bu Sri Sugesti dari salah satu mitra yang dibinanya. Ketua Koperasi ISM Sumber Rejeki ini terbilang tegas terhadap pembiayaan usaha yang dananya digelontorkan oleh Dompet Dhuafa. Bukan bermaksud menahan uang zakat tapi selektif terhadap mitra yang akan menggunakan dana untuk pembiayaan usaha ini. Tak heran jika ada mitra binaan yang tak suka padanya karena merasa dipersulit untuk memperoleh kembali pembiayaan usaha. Mitra yang tak disetujui pengajuan pembiayaannya itu menurut ibu dari dua anak ini karena bukan digunakan untuk usaha. Namun untuk membayar cicilan hutang ke pihak lain, biaya sekolah anak, dan lain sebagainya. Demi menjunjung amanat dari Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa yang memberikan pembiayaan yang hanya digunakan untuk usaha, maka ia rela ‘dimusuhi’ oleh mitranya.

Baginya, hidup adalah pilihan. Jika sudah memilih yang satu maka ia akan meninggalkan yang lain. Ibu yang akrab disapa Bu Hesti ini mengakui bahwa sebelum ada pembiayaan dari Dompet Dhuafa, ia meminjam dari Bank Keliling dan Mitra Bisnis Keluarga (MBK). Setelah mendapatkan pembiayaan dari Dompet Dhuafa dan mengikuti berbagai pelatihan, Bu Hesti paham mengenai pembiayaan syari’ah yang tentunya berbeda dengan pembiayaan yang ada pada Bank Keliling dan MBK. Walaupun pembiayaan dari Dompet Dhuafa tak sebesar pembiayaan dari Bank keliling dan MBK, tapi baginya yang terpenting adalah bagaimana rasa syukur dan prasangka baik kita kepada Allah.

Prinsip ‘Hidup adalah pilihan’ ini juga tak hanya diamalkannya seorang diri. Beliau berusaha menanamkannya pada semua mitra. Ada seorang mitra Koperasi ISM Sumber Rejeki mengajukan calon mitra kepada Bu Hesti yang tak lain adalah orangtua dari sang mitra. Tentu saja Bu Hesti menanyakan alasan kenapa mengajukan nama tersebut. ‘Ibu saya jualan dan sehari bisa 50 ribu bayar ke Bank Keliling. Saya nyaranin untuk ikutan yang ini aja biar ga ke Bank Keliling lagi.’, tutur Bu Hesti yang bergaya menyampaikan alasan sang mitra. Dengan alasan itulah (dan tentunya juga kriteria yang telah ada), Bu Hesti menerimanya sebagai mitra Koperasi ISM Sumber Rejeki. Mencegah mudharat lebih penting baginya.

Dengan adanya mitra tersebut rupanya meninggalkan kesan tersendiri bagi Bu Hesti. Dari segi kehadiran dalam pertemuan dan pembayaran cicilan tiap bulannya sangat bagus. ‘Bahkan kalo saya lagi ga ada di koperasi, dia nyariin dan nyamperin ke rumah saya untuk bayar cicilan. Dan sekarang dia udah ga ke Bank Keliling. Itu yang penting.’, ujar Bu Hesti tampak antusias. Tak heran jika Bu Hesti berani memberikan pembiayaan usaha sebesar Rp 4 juta kepada mitra tersebut. Padahal selama ini maksimal pembiayaan baru sampai angka Rp 2 juta. Bukan bermaksud pilih kasih. Setelah dilihat analisis usahanya untuk bulan Ramadhan nanti yaitu jualan kurma dan membutuhkan modal sebesar Rp 6 juta, maka pembiayaan usaha mitra tersebut disetujui pada angka Rp 4 juta. ‘saya khawatir kalo ga saya kasih nanti dia lari ke Bank Keliling lagi. Padahal dia kan udah milih ninggalin Bank Keliling untuk ikut pembiayaan dari  DD ini. Dan saya berani ngasih Rp 4 juta karena dia raportya bagus, kehadirannya rutin, selalu tepat waktu bayar cicilan. Saya ga mau apa yang udah dia pilih untuk ninggalin Bank Keliling malah terjerumus lagi cuma gara-gara ini’, ungkap ibu kelahiran Jakarta, 17 Desember 1972 ini.

Betapa perubahan pemikiran dari seorang Bu Hesti mampu mengubah keyakinan dan sikapnya. Mengubah keyakinannya tentang pembiayaan syari’ah yang walau tak sebesar pembiayaan lainnya bahwa yang terpenting adalah rasa syukur dan prasangka baik pada Allah. Mengubah sikapnya untuk tetap pada pilihannya dan berusaha mengubah orang disekitarnya.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan