Ingin Indonesia Berdaulat Gula

     Negeri yang sejahtera adalah negeri yang mandiri mampu memenuhi kebutuhannya tanpa bergantung pada pada negar lain. Kemandirian bangsa ini telah rintis sejak dulu, hasilnya adalah indonesia mampu swasembada beras pada tahun 1984. Walaupun tidak lama merasakan swasembada namun usaha itu terus di coba dan sejarah itu berulang pada tahun 2008 ketika indonesia mampu swasembada

    Ketidakmampuan dalam mencukupi kebutuhan nasional membuat, terlalu banyaknya barang impor yang merajalela di negeri ini membuat. ironinya masyarakat lebih bangga memakai barang ataupun mengkonsumsi makanan yang ‘berbau’ import. Padahal produk dalam negeri tidak kalah kualitasnya, bahkan malah disukai di luarnegeri. Salah satu produk yang kurang populer dimasyarakat namun sangat di sukai di luarnegeri adalah gula kelapa. Ditengah maraknya gula rafinasi impor yang sangat disukai oleh masyarakkat, peran gula kelapa seolah oleh terlupakan. Padahal dilihat dari segi manfaat, Gula kelapa mempunyai banyak manfaat karena selain bahan alami juga mengandung  kalori yang tinggi, Mengandung mineral, Kandungan gula (sukrosa) lebih kecil, Mengandung Thiamine, Riboflavin, Nicotinic Acid, Ascorbic Acid, protein dan vitamin C, Untuk terapi asma, kurang darah/anemia, lepra/kusta, dan untuk mempercepat pertumbuhan anak, Salah satu manfaat gula kelapa adalah untuk meringankan batuk yang disertai demam. Baik untuk makanan awal bagi penderita penyakit typhus, Baik untuk diet, mengurangi panas pankreas, menguatkan jantung, membantu pertumbuhan gigi sehingga kuat.

     Besarnya manfaat gula kelapa seharusnya menjadi perhatian untuk mengembangkan gula kelapa sebagai pengganti gula rafinasi. Jika tidak maka banyak anggaran yang akan dipake untuk impor gula, karena produksi gula rafinasi tidak mencukupi kebutuhan nasional. Prediksi Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Total kebutuhan gula nasional tahun 2014 sebesar 5,7 juta ton, terdiri dari 2,96 juta ton untuk konsumsi langsung masyarakat dan 2,74 juta ton untuk keperluan industri.  Produksi gula nasional 2,6 juta ton, sehingga pemerintah melakukan ekspor 3,1 juta ton.

Situasi seperti ini perlu dilakukan upaya-upaya untuk merubah ketergantungan kepada gula rafinasi dengan mulai mebudayakan untuk menggantinya dengan gula kelapa atau gula aren. Perlu dorongan untuk mengembangkan dan mempopulerkan gula sebagai produk lokal yang banyak manfaat pangganti gula rafinasi. Stimulasi perlu dilakukan untuk membuat petani meningkatkan produksinya. Kondisi sekarang, antara harga jual petani yang tidak sebanding dengan proses produksi, sehingga para petani hanya menjadikan produksi gula menjadi usaha sambilan selain berladang.

     Perusahaan swasta telah bergerak cepat karena melihat potensi gula kelapa dan produk turunannya. Bentuk upaya mereka untuk bisa meraup keuntungan dari ptoduk lokal ini adalah memberikan pendampingan dan Quality control sehingga masyarakat ‘terikat’ terhadap perusahaan dan menjual produk gulanya kepada perusahaan. Keseriusan perusahaan sampai pada tahap mendorong petani untuk memproduksi gula organik dengan memberikan harga lebih mahal diatas harga pasaran. Semua proses ‘pengorganikan’ dari hulu-hilir dibantu dan didampingi. Lahan-lahan juga diberikan sertifikasi organik dari luar negeri.

     Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa sebagai lembaga pemberdayaan tergerak untuk membantu para petani gula dengan menggulirkan program pengembangan gula kelapa di Pacitan dan Kulon Progo. Program-program tersebut mampu meningkatkan produksi dan kualitas, sehingga produk mitra dilirik oleh perusahaan dengan nilai tawar lebih tinggi di banding petani lain. Mitra juga mampu memasarkan gula secara mandiri. Kemampuan produksi gula mitra mencapai 85 ton Gula pertahun.

     Indonesia mempunyai potensi untuk mampu mandiri dari segala hal, negari kaya raya namun belum mampu mengelola dengan baik. mimpi kami sederhana ingin mewujudkan kedaulatan pangan, dengan kedaulatan gula. {fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan