Ini masih Indonesia ???

Ini masih Indonesia ???. Kalimat yang terlontar dalam perjalananan menuju mitra dampingan program Klaster Mandiri di Kecamatan Cimarga Kabupaten Lebak-Banten.

      Semangat pantang menyerah diperlihatkan dari kelompok mitra produsen batu bata program Klaster Mandiri Kabupaten Lebak-Banten, walaupun dengan penghasilan minim dan melihat lokasi kampung Pasir Awi-Cimarga yang jauh dari hingar-hingar kehidupan kota besar. Jarak tempuh desa kurang lebih 25 Km ke ibukota kecamatan Cimarga namun kondisi jalan yang berbatu membutuhkan waktu tempuh sampai 1,5 jam bisa lebih jika sedang turun hujan.

      Menuju Kampung Pasir Awi tidak mudah, apalagi yang baru pertama kali kesana. Menuju lokasi harus melewati hamparan kebun sawit dengan kondisi jalan berbatu dan berlubang ditambah kontur perbukitan membuat kendaraan sulit untuk mencapai lokasi. Selama perjalanan hanya bertemu truk-truk pengangkut kelapa sawit dan kayu. Setelah melewati hutan sawit masih harus melewati 2 kampung lagi yang jaraknya berjauhan yang dibatasi hutan rakyat.  ‘disini mah mobil kecil jarang yang kesini, palingan mobil besar. Kalo musim hujan mobil besarpun terpaksa kesini karena harus mengambil batu-bata” kata masyarakat yang kami temui. ketika melewati perkebunan sawit sempat terlontar kalimat ‘Ini Masih Indonesia ???’ karena melihat medan berat yang sepertinya belum ada upaya perbaikan.

      Lokasi yang jauh tidak membuat mereka jadi minder, namun membuat masyarakat lebih semangat lagi untuk memperbaiki hidup. Mitra di kp. Pasir Awi berjumlah 20 orang yang kesemuanya produksi batu-bata. Dalam sebulan mitra mampu membuat batu bata 5.000 buah dengan harga Rp. 400,- bata. Sebenarnya pendapatan ini masih sangat kurang dihitung dari keuntungan bersih yang hanya Rp. 500.000/bln. Besaran ini dibawah standar WHO tentang kemiskinan, dimana orang miskin berpendapatan $ 2 /hari atau sama dengan Rp. 640.920,- / bulan. Mitra merasakaan bahwa pandapatan ini sudah jauh lebih baik dibanding sebelum mengikuti program. Sebelumnya pendapatan mitra kurang dari Rp. 200.000/bulan karena terjerat sistem ‘dum-duman’ 

      Selama bertahun-tahun mereka terjerat sistem dumduman selama itu mereka merasa di dholimi namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisi yang memaksa. Sistem dumduman mirip dengan sistem rente, kalo sistem rente sangat jelas karena bunga pinjaman yang ‘mencekik’. Kalo dalam sistem dumduman bukan bunga yang tinggi, karena mitra meminjam uang, cara melunasinya mitra membayar dengan bata tapi dengan harga yang minim dan tidak manusiawi. Dumduman ini yang membuat mereka tidak maju.

      Masuknya program Klaster Mandiri yang dilaksanakan oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa telah sedikit merubah kehidupan mereka. Produksi mereka sudah mulai bertambah. ‘dulu mah waktu masih ikut dumduman cuman bisa buat 7500 bata/2 bulan, untungnya tidak ketahuan kadang hanya sisa Rp. 100.000,-.  alhamdulillah setelah mengikuti program masyarakat mandiri dompet dhuafa yang dikelola oleh pak Asep (pendamping), sekarang bisa membuat 10.000 bata/2 bulan dan keuntungan bersih sekitaran Rp. 1.000.000” ungkap Tusma, Ketua Kelompok.

      Ditengah gempuran teknologi yang menghadirkan bahan bangunan seperti batako, tidak mematahkan semangat mereka untuk terus memproduksi batu bata. Mereka yakin produk mereka mampu bersaing dipasaran. Optimisme ini yang membuat orang yang bertemu mereka akan meras kagum sekaligus bangga.  Kondisi minim ‘belum’ mendapat perhatian dari pemerintah tidak membuat mereka larut dalam kegalauan. Yang membuat labih kagum lagi adalah cita-cita mulia mereka yang ingin menggeser sistem dumduman dengan sistem syariah seperti yang diterapkan oleh program yang mereka anggap lebih manusiawi. 

{fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan