Jadi Pelukis Payung Hias, Raka Bangga Lestarikan Warisan Budaya

“Pemuda saat ini jauh dari kata kreatif. Sekalinya kreatif, tapi yang dihasilkan belum tentu bermanfaat. Makanya, alhamdulillah saya bangga dianugerahi Allah sebuah potensi keterampilan, menjadi pelukis payung hias saat ini,” ujar Baharudin Raka, pemuda asal Pledan, Klaten, Jawa Tengah, saat ditemui dalam acara Pameran Produk Pemberdayaan Lokal Dompet Dhuafa beberapa waktu lalu.

Raka, demikian sapaan akrab pemuda berusia 23 tahun ini menceritakan, keahliannya dalam melukis payung hias (payung lukis), yang merupakan warisan budaya di wilayah Klaten ini, sudah ditekuninya sejak 3 tahun yang lalu. Selesai menamatkan pendidikan pada Jurusan Pelayaran, ia memantapkan hati untuk hijrah dalam dunia pelayaran dan memilih menjadi pelukis payung hias (payung lukis).

“Kala itu saya hanya berfikir, selain mencari uang untuk kebutuhan hidup, dari keterampilan yang saya miliki, saya juga bisa melestarikan warisan budaya di daerah Klaten ini, karena saya bangga jadi pemuda Klaten yang bermanfaat,” ungkapnya.

Ia mengaku, keterampilan seni yang dimilikinya mengalir dari darah kesenian sang ayah yang juga merupakan pengrajin batik di Solo. Sejak kecil, Raka sering menyaksikan sang ayah memproduksi kerajinan batik. Mulai dari situ, ketertarikannya dalam dunia melukis mulai dirasakannya.

“Awalnya sih lihatnya kayak rumit, tapi lama-lama seru juga. Dan nggak nyangka sekarang bisa punya keterampilan lukis ini,” papar Raka yang hobi bermain futsal ini.

Untuk memantapkan keterampilan lukis yang dimilikinya, Raka pun bergabung dengan sebuah Komunitas Lukis di wilayah tempat tinggalnya. Hingga pada akhirnya, Pak Ngadi (55) salah seorang Pengrajin Payung Lukis asal Klaten yang merupakan penerima manfaat jejaring Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa ini, tertarik melihat bakat yang dimiliki Raka, dan mengajaknya untuk bergabung di Komunitas Pengrajin Payung Lukis.

“Alhamdulillah, dengan senang hati saya menerima tawaran Pak Ngadi. Di Komunitas Pengrajin Payung Lukis tersebut, saya semakin bisa berkreasi dengan keterampilan saya,” ujar Raka tersenyum.

Diakui Raka, memiliki bakat keterampilan melukis tidaklah mudah. Meski sudah terbiasa melukis, ia mengaku ada saja kesulitan-kesulitan yang ditemuinya ketika mulai mengkreasikan ide kreatifnya tersebut.

“Tingkat paling kesulitan saat melukis payung hias ini adalah ketika merangkai motifnya. Sedikit rumit dibagian ini, karena butuh konsentrasi tinggi dalam penyempurnaan lukisan,” jelasnya sambil mempraktikkan keterampilan melukisnya.

Diakhir perbincangan, Raka membagikan beberapa pesan dan motivasi bagi generasi muda sepertinya. Ia berharap, generasi muda saat ini mampu melestarikan warisan budaya serta produk lokal yang menjadi ciri khas masing-masing daerah dengan turut berpartisipasi meneruskan kekayaan milik negeri tersebut.

“Kita harus bangga jadi pemuda Indonesia yang bisa meneruskan warisan budaya lokal. Ini salah satu bentuk perjuangan dan pengabdian untuk bangsa ini. Jadi, tidak perlu malu atau ragu untuk melestarikannya,” pesannya. (Dompet Dhuafa/Uyang). sumber ww.dompetdhuafa.org

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan