Jumrah: “Saya Jadi Bisa Baca Tulis”

Jumrah, Ketua Ikhtiar Swadaya Mitra Desa Sukawijaya, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi sejak tahun 2004. Isteri Mukri ini cukup teruji dengan berbagai hambatan yang tak jarang datangnya justru dari para mitra anggotanya. Tapi, ia mengaku tak putus asa kalau menghadapi di antaranya kemacetan pembayaran para mitra. Kalau ada setoran macet, Bu Jumrah berusaha menyambangi mitra. Tak kurang-kurang, di rapat induk, pertemuan tiap kelompok mitra, ia juga memberikan dorongan dan terus mengingatkan akan kewajiban angsuran.

Pembiayaan untuk usaha para mitra di Sukawijaya merupakan dana bergulir (revolving fund). Dengan berpegangan pada prinsip dana bergulir, Bu Jumrah tak membiarkan dana macet. ”Tolong usahakan lancar, kalau nggak lancar, kan nanti teman lain nggak bisa pinjam,” begitu ia sering memperingatkan para mitra. Dengan upaya yang keras, hasilnya ada juga yang akhirnya mitra kembali lancar mengangsur. Meski, menurutnya, ada yang gitu-gitu aja. Tak ada perubahan sikap yang berarti dari yang dinasihati. Untuk urusan keaktifan partisipasi dan kedisiplinan kelompok, Bu Jumrah juga suka menanyakan siapa yang tidak hadir di setiap pertemuan induk.

Tantangan yang dihadapi tampaknya tidak ringan. Namun, wanita yang tidak lulus Madrasah Ibtidaiyah itu merasa bersyukur dengan bergabungnya dengan MM, jadi punya banyak teman. Berarti jadi tambah pergaulan dan wawasan. ”Dulu saya nggak bisa baca tulis, alhamdulillah sekarang jadi bisa,” ucap perempuan yang namanya identik dengan prosesi ibadah haji di Mina. Bukan apa-apa, nama Jumrah memang terkait dengan keinginan kedua orang tuanya yang sangat kuat untuk menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Kala itu, Bu Jumrah masih dalam kandungan. Alhamdulillah, sang ayah akhirnya bisa mewujudkan impiannya.

Wanita berumur 45 tahun ini sehari-hari menjalankan usaha pakaian keliling. Ia membawa dagangannya berupa kerudung dan pakaian anak-anak dari kampung ke kampung di sekitar Sukawijaya. Di rumahnya yang sederhana, telah tersedia sebuah mesin jahit. Karena itu, ia pun melayani pesanan pakaian untuk dijahit. Usaha pakaian di daerahnya sangat tergantung dari musim. Kalau musim panen padi, Bu Jumrah turut panen penjualan pakaian. Sebaliknya, saat sawah mengalami paceklik, ia memperoleh pemasukan sekadarnya. Berbeda lagi dengan waktu lebaran tahun tiba. Penghasilannya terbilang cukup lumayan.

Sebagai mitra, Bu Jumrah pernah mendapatkan pembiayaan sebanyak tiga kali sebesar Rp150 ribu, disusul Rp 300 ribu serta Rp 500 ribu. Tiga tahap pembiayaan (skim) ini digunakan untuk mengembangkan usaha berjualan pakaian. Dengan usaha yang dijalankan, ia hanya bisa berharap sanggup menunjang penghasilan suaminya yang menjadi buruh tani sawah. Seperti banyak warga Sukawijaya, Pak Mukri terbilang memperoleh pendapatan sekadarnya dari pekerjaan sebagai buruh di sawah orang lain. Sawah di desa itu memang luas-luas, tapi tak sedikit milik orang luar desa. Hasilnya pun hanya sebagian kecil yang bisa dinikmati orang Sukawijaya, termasuk keluarga Mukri. ”Ya, cukup nggak cukup,” kata Bu Jumrah menggambarkan kondisi ekonominya.

Bersama sang suami, ia kini tengah membesarkan enam anak. Kebanyakan masih membutuhkan biaya sekolah. Menghadapi kebutuhan keluarga, banyak hal pernah dicoba. Suaminya pernah mencoba membuat telur asin, namun peternak bebek di desanya pada macet. Beberapa mitra peternak bebek di Sukawijaya banyak menghadapi masalah dengan telurnya yang kecil-kecil. Itu akibat bibit bebeknya jelek.

Bu Jumrah suka berbagi dengan Pak Mukri, suaminya. Dalam pengelolaan ISM, tak segan-segan ia minta pendapat kalau ada kesulitan. Bahkan Pak Mukri pernah terlibat juga pada pembinaan keagamaan di lingkungan mitra, selain ikut pelatihan yang diadakan oleh MM.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan