Kabar dari Pacitan : “Asa itu Masih Ada”

Menuju Desa Mantren dari Kota Pacitan membutuhkan waktu tempuh 45 menit. Letak Desa Mantren di lereng pegunungan, perjalanan yang ditempuh menanjak dan menurun. Letak antar rumah warga berjauhan dan biasanya berkelompok. Satu kelompok 2-5 rumah ada juga juga satu rumah. Jarak antar kelompok rumah ± 20 meter.  Kondisi jalan sudah baik, sudah dilakukan pengaspalan dan pengecoran. Ini berbeda ketika 8 tahun yang lalu ketika Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa memulai program pemberdayaan petani gula kelapa. “Dulu jalannya nggak seperti ini, masih batu-batu makadaman. Pernah ke Desa Mantren naik motor win jatuh saking jeleknya jalan” ungkap Rudi, mantan Pendamping Program Pemberdayaan Petani Gula Kelapa Pacitan. Ia juga mengatakan bahwa telah banyak perkembangan dibanding ketika dulu dia dan Gito (pendamping program) tinggal selama tiga tahun disana.

Obrolan terhenti ketika kendaraan yang penulis tumpangi berhenti di halaman sebuah rumah bercat hijau. Baru membuka helm, terdengar sapaan “lho pak rudi, pripun kabare. Anake mboten di jak” suara perempuan setengah baya menyapa Rudi. Mereka ngobrol akrab seperti saudara yang sudah lama tidak bertemu. “pak rudi, pripun kabare”, seorang laki-laki masih muda, berjenggot umurnya kira-kira 38 tahun. Dialah Khoirul Huda yang akrap disapa Pak Irul, kader lokal sekaligus ketua Koperasi ISM Manggar Sari, koperasi yang di inisiasi oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa dalam Program Pemberdayaan Petani Gula Kelapa Pacitan.

Obrolan mengalir deras di antara keduanya, ikatan yang dulu telah terjalin selama 3 tahun membuat keduanya seperti saudara. “ Alhamdulillah pertemuan kelompok, pertemuan induk masih jalan. Tapi ada kelompok yang bermasalah, pertemuan kelompok sudah tidak ada lagi ” papar Khoirul, menjelaskan tentang perkembangan program. “ Sekarang malah beberapa kelompok tidak hanya sekedar pertemuan tapi juga mengadakan yasinan kelompok ” lanjutnya.

Ia mengungkapkan susah senangnya menjalankan koperasi. Karena memang tidak mudah dalam mejalankan koperasi apalagi ini berhubungan dengan orang banyak. Ada juga mitra yang tidak mau menjual gula ke koperasi dengan selisih yang hanya 200 rupiah, ada juga mitra yang tidak mau meningkatkan kualitasnya sehingga terkendala masalah pemasaran. Ia tetap berharap bahwa mereka mau berubah, ia ingin koperasi ini menjadi wadah penjualan gula sehinga mempunyai posisi tawar yang tinggi teradap pedagang besar maupun perusahaan.

Semangat tidak patah arah untuk membantu masyarakat. Usahanya untuk membuka akses pasar gula sudah teruji sampai ke Trenggalek, Temanggung dan Waleri bahkan Kulon Progo. Walaupun tidak selalu untung, kadang malah merugi. Keinginanannya agar para pembuat gula bisa meningkat pendapatnya yang membuat ia terus bertahan. “  Kalo nggak ingin memajukan masyarakat saya sudah mundur dari koperasi. Mendingan usaha sendiri. Sebenarnya saya cuma ingin supaya para penderes tidak mengeluh pendapatannya minim karena harga gula yang rendah “ ujarnya.

Beberapa yayasan dan perusahaan yang ingin mengembangkan gula kelapa di Pacitan bisa dipastikan diarahkan ke Koperasi ISM Manggar Sari. Disatu sisi dia terbantu, di sisi lain muncul masalah baru. “ Pernah ada yayasan yang ingin mengembangkan gula kelapa di Pacitan. Awalnya lewat saya, saya yang melakukan pendataan semua petani. Tapi akhirnya bermasalah juga terkait tranparansi. Dulu dari perusahaan exportir ingin memberikan bantuan untuk membuat rumah produksi higienis ke Koperasi Mangar Sari. Namun lewat yayasan tersebut dialihkan ke desa yang lain. Perusahaan kaget, saya juga bingung akhirnya saya dan kelompok memutuskan keluar dari keanggotaan program itu. Makanya setiap orang yang kesini yang mau melakukan pendampingan selalu saya sampikan bahwa pendampingan yang benar-benar pendampingan adalah yang dilakukan oleh Masyarakat Mandiri. Kalo ingin melakukan pendampingan saya sarankan konsultasi ato kerjasama dengan MM saja “ ujar tokoh pemuda Desa Mantren ini. Saat ini koperasi sedang manjajagi kerjasama dengan perusahaan exportir di Kulon Progo untuk mengembangkan gula cetak dan gula semut organik.

Tekadnya yang kuat  mampu menembus batas-batas cara  berfikir orang di lingkungannya. Ketegasan dan terobosannya menjadikan dia mempunyai posisi tawar lebih bagi mereka yang ingin mengembangkan gula kelapa Pacitan maupun perusahaan yang ingin berkerjasama.

Keteguhan memegang amanah tidak lepas dari ajaran pendidikan pesantren yang melekat pada dirinya. Pergaulannya dengan banyak pihak membuat cara berfikirnya lebih maju. Pengalaman dalam dunia usaha gula sejak terlibat di koperasi membuatnya matang berfikir dan mampu mengukur diri. Tidak mudah menemukan orang-orang seperti Khoirul. Sederhana, agamis dan idealis….yang penulis lihat dari sosoknya.

 {fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan