Kader Lokal From Zero to Hero


     Seperti biasa Mursidi setiap pagi melakukan aktivitas rutin pergi ke bubu untuk mengambil hasil tangkapan udang. Ia mulai beraktivitas dari mulai sehabis sholat subuh, mengingat jauhnya jarak antar rumah dengan tempat bubunya cukup jauh. Rutinitas ini dilakukan oleh hampir seluruh warga di Kampung Garapan, Desa Muara, Kabupaten Tangerang.

    Mursidi merupakan salah satu kader lokal program pemberdayaan yang dilakukan oleh Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa (DD). Program pemberdayaan nelayan Desa Muara yang dilaksanakan pada tahun 2000-2005. Sosok Mursidi muncul bukan secara tiba-tiba namun merupakan hasil pengkaderan yang dilakukan selama pelaksanaan program.

   Mursidi, pemuda yang tidak tamat SD menjelma dari sosok pemuda biasa menjadi sosok yang diperhitungkan di desanya. Jabatannya sebagai ketua koperasi yang membawahi ratusan mitra dianggap mempunyai peran strategis. Perjuangannya dalam mempertahankan keberlanjutan program sungguh luar biasa. Sampai hari ini koperasi yang ia gawangi masih berjalan dengan baik.

    Lelaki yang biasa dipanggil onteng ini dikenal sebagai orang yang jujur, tidak heran ia dipercaya oleh masyarakat. Ketika ada event pemilihan kepala desa ia dipilih menjadi bendahara panitia PILKADES walaupun ia bukan anggota BPD. Keinginan untuk berubah dan merubah lingkungannya telah merubah mindsetnya. Ia terus berusaha mengembangkan diri, ia menempuh pendidikan non formal untuk mewujudkan cita-citanya bahkan sekarang ia sedang menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Terbuka. Semangat belajarnya ia dapatkan selama berinteraksi dengan pendamping program.

   Lain lagi dengan Khoirul, pemuda kelahiran Bandar Lampung ini awalnya adalah pendatang di Desa Mantren, Kecamatan Kebon Agung, Pacitan. Ia merantau ke Jawa sebenarnya untuk belajar di sebuah pesantren di daerah Jenes Ponorogo. Pernikahannya dengan pemudi Desa Mantren yang membuat ia ‘hijrah’ mengikuti sang istri. Dengan kemampuan seadanya ia belajar nderes kepada bapak mertuanya sambil beternak sapi dan kambing sampai ia dipertemukan dengan program.

  Tahun 2006 tepatnya bulan Juli Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa melakukan program pemberdayaan petani gula kelapa di Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Lokasi pemberdayaan dilakukan di dua desa sasaran yaitu Desa Mantren dan Desa Worawari. Bermula dari ketidak sengajaan namun berakhir dengan kesuksesan. Khoirul yang awalnya hanya seorang penderes biasa menjelma menjadi ketua koperasi yang membawahi 200 mitra. Jatuh bangun ia mengelola koperasi tidak membuatnya kapok, nemun ia belajar dari pengalaman yang ia alami.  Sekarang ia dikenal, sebagai salah satu tokoh dibidang industri gula di Pacitan Jawa Timur. Ia sering diundang menjadi narasumber untuk memberikan pelatihan tentang peningkatan mutu gula kelapa dan tata cara pembuatan gula semut serta sharing pengalaman pemberdayaan oleh Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur.

    Sekelumit kisah diatas merupakan sedikit dari sekian banyak tokoh lokal yang lahir dari proses pemberdayaan yang terencana dan berkesinambungan. Pemberdayaan membutuhkan karakter kuat seorang kader lokal untuk meneruskan estafet program dari pendamping. Kader-kader lokal inilah yang nantinya akan menentukan keberlanjutan program setelah program selesai atau exit program

    Masih banyak kader lokal yang menjadi ‘Hero’ di daerahnya sebut saja Itoh (Program Recovery Tsunami Pantai Selatan), Samidi (Program Recovery Situ Gintung), dan Kadarisman (Program Klaster Mandiri Kulon Progo)

     Semoga lahirnya kader lokal hasil pemberdayaan memberikan kontribusi nyata perubahan untuk masyarakat sekaligus menjadi #inspirasiuntuknegeri

*Bubu; alat penangkap udang terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat.

*nderes; proses mengambil nira kelapa

 {fcomment}

 

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan