Kerang Hijau, Penjaga Stabilitas Ekonomi Rujakbeling

Program Pemberdayaan Nelayan Kerang Hijau Kecamatan Kasemen Serang Banten sudah memasuki semester ke dua. Banyak kegiatan yang sudah dilakukuakn salah satunya dalah pembentukan koperasi ISM Sinar Abadi. Koperasi tersebut kini menjadi harapan untuk mengadukan masalah ini, Koperasi ISM Sinar Abadi ditantang terus menerus berusaha untuk meningkatkan produktifitas hasil tangkapan kerang hijau. Dengan terus menerus mempertahankan bagan milik koperasi serta memperbaikinya jika terdapat kerusakan. Serta mengajak pihak-pihak tekait untuk sama-sama memperhatikan kondisi ini. Sehingga ibu-ibu komunitas kerang hijau terus dapat mengais rejeki, roda perekonomian kampung ini akan terus berputar.

Lebih dari separo ibu-ibu RT Kp Rujakbeling berprofesi sebagai pengupas kerang.  Profesi ini dipilih karena tidak punya ide usaha yang lain. Duduk dan bermodalkan pisau dapur, sudah cukup untuk bekal membersihkan cangkang kerang. Di Kp. Rujakbeling yang menjadi anggota koperasi sebanyak 50 yang sebagian besar adalah ibu-ibu pengupas kerang. Pekerjaan mengupas kerang hijau sudah lama mereka geluti, sehingga pekerjaan ini mempunyai kontribusi besar terhadap siklus ekonomi kampung. Sehari mereka tak beraktivitas roda perniagaan desa ini melambat, ini juga berpengaruh terhadap para penjual dagangan keliling. Pendapatan pengupas kerang berbanding lurus dengan omset pelaku usaha di sekitarnya.

Musim masih menjadi kendala keberadaan kerang hijau. Kerang sebagai salah satu hasil tangkapan laut, kondisinya sangat bergantung dengan musim. Masuknya musim barat menandai awal berkurangnya pasokan kerang hijau. Angin dan ombak tinggi menyebabkan nelayan enggan melaut, bagang pun sebagian ada yang rusak diterjang ombak. Kondisi ini otomatis berpengaruh terhadap hasil panen, panenan kerang hijau  turun drastis malah terkadang tidak bisa panen. Kurangnya pasokan kerang hijau mambuat penghasilan mitra pengupas kerang ikut  berkurang. Hal inilah yang akan membuat tingkat konsumtif mereka menurun.

Panggil  saja Mang Obiet (45 th) beliau menerima imbas jika tak ada kerang hijau. “kalo ga ada kerang berarti khan ga ada yang ngupas, klo ga ada yang ngupas, ibu-ibu ga dapet duit, kalo ga ada duit, dagangan saya ga laku” ujarnya

Mang obiet sehari-hari berjualan buah keliling mengelilingi jalan-jalan desa, pendapatannya sebagian besar diperoleh dari ibu-ibu pengupas kerang. “Normalnya omset saya Rp 300 rebu perhari kalo kondisinya begini (kerang lagi sedikit) ya paling dapat 150rebu perhari”

Tidak hanya mang obiet, mamang2 lainnya juga ikut kena dampak, pedagang gorengan keliling seperti Cakem  (60 th) juga menurun pendapatannya. Warung kelontong juga ikut sepi, pulsa ga ada yang beli, minyak eceran juga ikut-ikutan ga laku. Jika ini terjadi dalam jangka lama siklus ekonomi kampung ini bisa saja lumpuh. diperlukan alternatif usaha atau teknologi budidaya kerang sehingga mereka tetap berpenghasilan tanpa bergantung musim. Dengan alternatif tersebut diharapkan mampu menjaga “stabilitas” ekonomi kampung. 

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan