Keterbatasan Fisik Bukanlah Keterbatasan Segalanya

Kamis, 30 Mei 2013 adalah hari yang tak akan pernah saya lupakan. Dengan mata kepala saya sendiri, saya berinteraksi langsung dengan orang-orang penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan dalam beraktifitas. Bukan karena kecacatannya yang membuat saya tertarik, bukan karena kekurangannya yang membuat diri ini terenyuh, bukan pula rasa kasihan pada keterbatasan mereka. Namun karena ada secercah harapan dari sosok mereka, antusias mereka, keramahan mereka dan kemandirian mereka untuk bisa bertahan dalam kehidupan ini, hingga tak ada kata menyerah dan malu dalam diri mereka untuk terus belajar.

Siang itu, tepatnya pukul 13.30-15.00 WIB, saya mendapat kesempatan untuk memberikan pelatihan ‘Manajemen Keuangan dan Administrasi Usaha’ di depan 23 mitra binaan Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa yang mengikuti Program Pemberdayaan Ekonomi Penyandang Disabilitas Produktif.  Program yang dimulai sejak bulan Maret 2013 ini memang diperuntukkan khusus kepada para penyandang disabilitas yang berada wilayah kelurahan Bojong Menteng, kecamatan Rawa Lumbu, Bekasi.

Mitra binaan yang mengikuti program ini merupakan para penyandang disabilitas fisik, seperti tunadaksa, tunanetra, tunarungu dan tunaganda. Mereka semua berbaur menjadi satu di ruang pertemuan kantor Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawa Lumbu, Bekasi. Awalnya ada kekhawatiran dalam diri saya; apakah apa yang akan saya jelaskan kepada mereka akan dipahami secara utuh oleh mereka? Melihat kondisi mereka yang memiliki keterbatasan; yang tak sama satu dengan yang lainnya. Akhirnya saya mencoba untuk lebih dekat, menghampiri mereka satu per satu. Rupanya banyak pertanyaan dan berbagi pengalaman yang terlontar dari bibir mereka hingga pemahaman itu tergali dari mereka sendiri.

Ada seorang bapak tunanetra yang memiliki usaha berjualan ban bekas dengan hasil penjualan setiap harinya sekitar 20-30 ban dengan keuntungan sebesar 20-30 ribu rupiah. Namun hingga saat ini beliau belum memiliki pembukuan usaha tersendiri. Ketika saya tanya alasannya, rupanya beliau memiliki istri yang normal, namun tidak bisa baca tulis. Mengetahui hal itu, saya pun menyarankan kepada istrinya untuk menyiapkan 3 amplop berbeda untuk pengeluaran,penjualan dan kebutuhan pribadi.

Ada juga seorang ibu tunaganda, ibu Neneng namanya. Beliau memiliki usaha menjahit pakaian yang tidak setiap hari mendapat pesanan. Ibu Neneng pun menanyakan bagaimana mencatat keuangan yang belum tentu setiap hari beliau menghasilkan uang atas usaha jahit pakaiannya. Saya menyarankan untuk dilakukannya pemisahan antara keuangan pribadi dengan usaha, serta tetap menyediakan kas usaha sebesar 5-10% dari omzet penjualan terakhir.

Lain lagi dengan ibu Asti (tunaganda) yang juga memiliki usaha menjahit pakaian dan merasa kesulitan dengan pencatatan keuangan usaha. Ada juga ibu Rahma (tunadaksa) sebagai pedagang kelontong yang sudah memiliki pencatatan keuangan usaha namun masih tercampur dengan keuangan pribadi. Kedua permasalahan itu berakibat pada ketidakjelasan penggunaan dana yang dimiliki sehingga yang terasa adalah habisnya uang setiap bulannya tanpa ada penambahan modal. Solusi yang saya tawarkan untuk kedua permasalahan ini adalah dengan menceritakan kasus orang yang memiliki usaha besar namun ia tidak memisahkan pencatatan keuangan usaha dan keuangan pribadinya dengan tujuan agar mereka mulai mengatur keuangan dengan lebih baik.

Selama 90 menit berinteraksi dengan mereka ada satu perkataan yang membuat saya semakin terenyuh, yaitu saat mereka mengatakan ‘mba, pelatihannya ada kelanjutannya lagi donk’. Keterbatasan fisik mereka rupanya tak membatasi mereka untuk menggali ilmu, belajar dan terus belajar. Dari sini saya belajar bahwa keterbatasan fisik seseorang tak lantas membuat ruang gerak dan ruang berpikir seseorang menjadi terbatas pula.

Lantas bagaimana dengan kita yang dianugerahi fisik sempurna tanpa keterbatasan?

(lhinblue)

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan