Ketimbang Berebut Tulang di Seberang

Sebulan sebelumnya, Sutrisno meninggalkan desa. Menuju tanah seberang, Sumatera. Banyak hal yang ia tinggalkan. Di antaranya, tumpukan tugas sebagai bendahara kelompok pembuat gula kelapa di Wora-wari Kebonagung Pacitan. Lebih dari itu, ia tinggalkan anak dan isteri yang tengah hamil tua. Kepergian Sutrisno tak lain rangkaian ritme berulang dalam tembang kegetiran desanya.

“Kami ini kayak manuk. Di mana ada makanan, di situlah kita nemplok. Meski harus mengundi nasib di negeri seberang,” ucap Sutrisno, setengah bangga, setengah getir. Hampir semua orang-orang yang masih bertenaga pernah ke Sumatera, Kalimantan atau bahkan Malaysia. Mereka menjadi buruh perkebunan, perusahaan pemotongan kayu atau tambang emas.

Wora-wari, desa tertinggal peringkat satu di Kecamatan Kebonagung. Tak ada yang disesali petani itu dari ketertinggalan desanya. Sawahnya yang tak seberapa luas belum bisa ditanam akibat mundurnya musim hujan. “Lumayan, beras bisa buat dimakan sendiri. Kadang malah kurang,” ujarnya. Sawah macet, nderes nira juga seret. Akibat panjangnya musim kemarau, nira tak seberapa banyak yang bisa dijadikan gula merah. Trisno sehari paling hanya bisa nderes tiga pohon kelapa. Dalam keadaan normal, sehari seharusnya sampai 15-20 pohon bisa disadap. Dari sekian pohon, sebagian Trisno menyadap nira dengan cara maro. Sepekan sekali niranya buat si empu pohon, sepekan buat dirinya.

Ekonomi lagi seret. Trisno menyambut tawaran seorang agen penyalur tenaga kontrak dari Pacitan untuk kerja di Jambi. Pekerjaan sebagai pemotong kayu menunggunya di sana. Ia lalu berpamitan kepada pendamping, empat bulan ia meninggalkan aktivitas kelompoknya. Tapi, malang tak dapat ditolak. Perusahaan tempatnya menyulap kayu menjadi nasi, ditutup. Pemiliknya kabur. Trisno dan puluhan buruh lainnya hanya bengong dibuatnya. Gajinya yang baru sebulan telah habis untuk membayar utang keberangkatannya dari desa. Iapun pulang ke Jawa ngutang lagi pada penyalur.

Harga dirinya masih menyala. Ia sempat menggagas untuk menuntut keadilan pada perusahaan. Misalkan ia menuntur melalui jalur hukum, tentu perusahaan kalah. Tapi pihak penyalur yang masih tetangga melunakkan niatnya. “Daripada rame-rame di sana, lebih baik ngalah. Ketimbang rebutan balung (tulang) tanpa isi,” tuturnya menirukan si penyalur. Kalau berlama-lama di Jambi, utangnya bisa menumpuk. Iapun memutuskan pulang dengan tangan kosong ke desa bersama 40 orang senasib.

Ia kembali menikmati kegiatannya sebagai petani di sawah dan penderes nira. Sembari menunggui kelahiran anak keduanya, ia menyulam mimpi. Semoga nira di kelapa mengalir lebih deras untuk jaminan masa depan anak-anaknya. “Pokoknya anak-anak harus lebih tinggi sekolahnya dari orang tuanya,” harapnya yakin.

Pengalaman hidup mengajarkannya untuk tetap bertahan dan terus berkembang. Trisno pernah melakoni bakulan, menampung daun cengkeh, jahe, kunir, meski tidak lancar. Juga usaha pemotongan kayu. “Ya begini ini, sekarang balik tani,” ujarnya dengan tawa renyah. Sebagai bendahara Kelompok Mandiri Mekar Sari, ia memiliki tekad mulia. “Jangan sampai ada penyelewengan dana dalam kelompok. Mari, mana yang kurang benar, kita benahi….”

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan