Khoirul dan Lompatan Petani Kelapa Pacitan

Laki-laki itu jangkung. Tapi ia tak sejangkung pohon kelapa yang dipanjatnya. Dia memanjatnya begitu cepat hingga mencapai rumpun pelepah, lalu mengunduh air nira. Laki-laki lain di desanya juga dikenal sebagai pemanjat kelapa yang cepat. Namun, sayang perbaikan nasib mereka tak secepat ketrampilan mereka menggapai pangkal manggar, tempat air nira berawal.

Laki-laki jangkung itu namanya Khoirul Huda. Perantau dari Lampung berdarah Jawa ini tinggal dan menetap di Pacitan, Jawa Timur. Sampai hari ini, Khoirul masih setia memesrai belasan batang kelapa yang tingginya antara 15 sampai 20 meter. Saban pagi dan sore, ia mengunduh bumbung-bumbung yang telah terisi sadapan nira, sekaligus memasang bumbung-bumbung kosong untuk menampung nira dan diunduh keesokan harinya. Kecepatan memanjatnya mirip beruk pemetik kelapa di tanah kelahirannya, Sumatera. Keterampilan itu ternyata dimiliki juga warga pria lain di Desa Mantren, turun-temurun.

Keterampilan memanjat batang kelapa yang tinggi selalu menggenapi keahlian para petani kelapa yang sekaligus menjadi pembuat gula kelapa di Desa di Mantren. Begitupun warga desa-desa lain di wilayah kelahiran Presiden SBY itu. Secara turun-temurun mereka membuat gula kelapa sampai sekarang. Gula kelapa Pacitan pun dikenal sampai luar wilayah Pacitan. Para produsen makanan berbasis gula kelapa di antaranya mengambil gula dari daerah yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah itu. Sayangnya, potensi kelapa itu tidak otomatis menyokong kesejahteraan warga desa, khususnya petani kelapa.

Petani kelapa tidak menjadi tuan rumah di kampung sendiri. Mereka hanya menyadap nira dan membuat gula, lalu dijual kepada para penampung yang menjadi tuan penentu harga gula. Margin keuntungan yang diperoleh petani seperti Khoirul, praktis tipis. Pemberdayaan petani kelapa oleh Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa beranjak dari sini. Dari masalah posisi tawar para petani kelapa yang rendah.

Selama tiga tahun, dua orang pendamping ditanam di Desa Mantren dan Wora-wari, Kecamatan Kebon Agung. Mereka ‘dipaksa’ hidup bersama komunitas petani desa. Mereka membina, mendampingi, dan mengevaluasi day to day, dengan tujuan program benar-benar membawa manfaat bagi petani. Para pendamping rela naik-turun gunung di wilayah dua desa itu untuk memastikan ikhtiar pemberdayaan yang dibawanya, tak sia-sia. Dan, mereka memastikan, dana sosial yang disalurkan dari Dompet Dhuafa, benar-benar memberdayakan.

Pendampingan membuat para petani kelapa sekaligus menjadi trader kolektif, istilah lokalnya Bakul. Lima tahun lalu sampai hari ini mereka telah berubah status, tak sekadar petani dan pembuat gula biasa, namun mereka menjadi penentu harga gula. Mereka menjadi tuan rumah di kampung sendiri. “Sekarang fokus kita memperbanyak penampung-penampung gula. Gula dari para anggota koperasi dan warga lain pembuat gula. Dengan cara ini, mitra pembuat gula memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan gula. Alhamdulillah, tidak seperti dulu, tipis sekali keuntungan dari tiap kilo gula, ” ungkap Khoirul.

Selain koperasi, Khoirul dan ratusan petani membangun sebuah griya industry gula kelapa pada masa pendampingan Masyarakat Mandiri. Griya ini berfungsi sebagai kantor koperasi, produksi gula, standarisasi mutu gula dan berbagai kegiatan pembuat gula. Kemandirian komunitas ini bukan sekadar teori pemberdayaan. Keyakinan yang berhasil ditumbuhkan pada para kader lokal beriringan dengan berbagai langkah penguatan kapasitas selama masa pendampingan menjadi modal mereka berkembang. Bahkan, Khoirul dan kawan-kawan tengah melakukan lompatan dalam pencapaian kelembagaan yang mereka kelola.

Koperasi ISM Manggarsari, lembaga yang dipimpin Khoirul, menjangkau batas-batas desa dan kecamatan. Koperasi ini menjadi koperasi terbaik kedua di Kabupaten Pacitan, sekaligus dianggap sebagai koperasi yang memiliki anggota aktif para petani, peternak dan usaha mikro. Koperasi ini juga memiliki usaha yang konkret di antaranya trading gula. Di sela-sela momen Pelatihan Gula Semut di Pacitan, Khoirul pada 4 Maret 2010 dipanggil pihak Pemda di Pendopo Kabupaten. Tak disangka-sangka, hari itu ia bertemu Menteri Koperasi dan UKM RI Syarif Hassan. Sang Menteri menyerahkan secara simbolik sejumlah dana hibah bagi koperasi yang dipimpin Khoirul. Dengan dana itu, pemerintah mempercayakan Koperasi ISM Manggarsari mengkoordinir pengembangan gula semut khususnya di wilayah Kecamatan Kebon Agung. Di wilayah ini, potensi kelapa cukup besar selain tenaga terampil para pembuat gula kelapa.

Kebutuhan pasar gula semut menurut Khoirul cukup besar. Dari pelatihan yang pernah diikutinya di Jogja, diperoleh informasi, gula semut yang dihasilkan industri di Jogja kewalahan memenuhi permintaan ekspor. Pacitan prospektif menjadi produsen gula semut untuk memenuhi kebutuhan pasar termasuk untuk dijual ke mancanegara. Gula semut menjadi bagian dari bahan pangan yang dibutuhkan di era pangan organik di berbagai negara.

Khoirul dan kawan-kawan tengah menuai kepercayaan dari kerja keras dan kerja ikhlas pengabdian mereka. Di belakang mereka ada hampir 200 orang menjadi mitra atau anggota koperasi. Mereka terdiri pembuat gula, usaha mikro dan peternak. Karena sokongan semangat dan amanah dari anggota ini juga, Khoirul dan kawan-kawan selalu memiliki energi untuk maju. Dulu mereka sama-sama pada posisi ‘zero’ sebagai petani kelapa biasa. Lompatan yang mereka capai dengan berbagai kepercayaan yang datang sekarang tak lain merupakan hasil kerja keras yang dilandasi jiwa gotong-royong yang masih terawat secara baik selama ini.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan