Klaster Mandiri, Kian Mandiri

Lokasi desa yang di kelilingi gunung dengan jalan berkelok tajam, menjadi cerita penyedap proses pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Kulon progo tepatnya di Desa Hargo Rejo, Kecamatan Kokap. Program pemberdayan bertajuk Klaster Mandiri yang di inisiasi oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa (MM-DD). Program Klaster Mandiri di mulai tahun 2011 dengan sasaran komunitas pembuat gula kelapa “ Program klaster mandiri masuk ke Kulon Progro 3 tahun yang lalu tepatnya tahun 2011. Awalnya program di Desa Kali Rejo tempat  kantor ISM dengan mitra dampingan adalah ibu-ibu pengolah gula kelapa” ujar Widi, Pendamping Program

Program klaster mandiri Kulon progo sudah merupakan program salah satu program yang telah dimandirikan. Dengan hal dimandirikan dengan artian segala bentuk bantuan pembiayaan dan pendampingan program yang selama ini dilakukan oleh MM-DD dihentikan. Semua aset program diserahkan kepada masyarakat melalui Lembaga Lokal atau Koperasi yang dibentuk masyarakat peserta program (mitra), karena pada dasarnya dana dari MM-DD  adalah dana Zakat Infaq Shodaqoh (ZIS) yang merupakam hak mitra. Dana program tidak diberikan dalam bentuk hibah, namun dalam bentuk modal usaha.

Modal usaha yang diberikan harus dikembalikan dan digulirkan kembali kepada mitra tersebut kembali jika masih membutuhkan tambahan modal usaha atau orang lain yang benar-benar membutuhkan modal usaha. Penerima manfaat program berjumlah 148 mitra dengan jenis usaha cemilan, Gula Semut dan Batubata.

Usaha-usaha mitra terus berkembang. salah usaha unggulan batu bata yang berada di Desa Hargo Rejo, Kecamatan Kokap. Beda dengan mitra lainnya yang kebanyakan ibu-ibu karena semua mitra di desa ini adalah Bapak-bapak. Salah satunya adalah Kelompok Tri daya Usaha Dusun Selo timur, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap. Kelompok ini merupakan kelompok terakhir yang di bentuk oleh program Klaster. Beranggotakan 10 mitra yang semuanya membuat batu-bata. “Ini kelompok terakhir di bentuk, baru 10 bulan” ungkap Muhadi,anggota tertua dengan logat khas jawa. Anggota kelompok ini sebelumnya bekerja sebagai buruh. “Saya membuat batu bata setelah bergabung dengan kelompok yang di bina mas widi, dulu saya kerja sebagai buruh bangunan” ujar Muhtamar, anggota kelompok.  Kelompok ini sudah mampu membuat lebih dari 15.000 bata/bulan, walaupun masih ada kendala terkait tempat penjemuran yang terbatas. Namun mereka tetap optimis, karena melihat pasar yang terbuka luas dengan dukungan dari pemerintah.

Merubah pandangan masyarakat dari pekerja menjadi wirausaha. Karena meyakinkan masyarakat untuk berusaha mandiri butuh waktu, sedangakn program pastilah terbatas oleh waktu. Seperti yang diungkapkan oleh widi, pendamping Program “Mengajak masyarakat untuk berubah itu susah. Karena masyarakat belum memahami potensi diri, mereka lebih memilih usaha yang  ‘hanya’ terlihat lebih menguntungkan tanpa dapat melihat resiko”.

Sejak dimandirikannya program, masyarakat ternyata bisa lebih mandiri. Ini bisa dilihat dari jumlah mitra program yang menjadi anggota koperasi berjumlah 143 dari total 148 mitra dampingan. Kelompok-kelompok sudah mampu mengelola keuangan secara mandiri. keuangan Dimotori oleh Koperasi ISM Gempita Mandiri yang diinisiasi oleh program, keberlanjutan program ini tetap bisa berjalan walaupun sudah tidak dilakukan pendampingan. Pengurus yang jujur dan mampu memotivasi mitra menjadi salah satu kuncinya. Fungsi-fungsi kelompok, induk masih berjalan sebagaimana ketika masih ada pendampingan. Permasalahan yang terjadi langsung diselesaikan di tingkat kelompok.

Pengkaderan yang dilakukan selama 3 tahun dan berbagai halangan telah dilalui, menjadi seleksi untuk pengurus sehingga menghasilkan kader kader lokal handal yang mampu menggantikan peran pendamping. Honor yang kecil tidak menyurutkan mereka untuk mengabdi. Finansial bukan hal utama yang penting maju bersama, mungkin itu semboyan yang mereka pegang. {fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan