Luluk, Si Pendiam yang Menginspirasi

Namanya Luluk Khisbiyah, Biasa dipanggil Luluk. Ia lahir di Jombang 28 tahun yang lalu. Ia menjadi pendamping program pemberdayaan sejak tahun 2010. Menjadi sebuah pengalaman luarbiasa ketika ia menjadi pendamping msyarakat, karena dengan pengalaman itu ia merasa ada perubahan dalam dirinya.

Ketika awal menjadi pendamping ada kekhawatiran dalam dirinya, jika bertemu dengan masyarakat apa yang akan disampaikan, bagaimana cara penyampaian yang baik?maukah masyarakat mendengarkannya?banyak pikiran-pikiran yang ada dikepala. Namun, semangatnya untuk belajar membuat ia akhirnya mengambil tantangan menjadi pendamping program pemberdayaan.

Menjadi pendamping masyarakat baginya mampu membuka wawasan tentang bagaimana hidup bermasyarakat, bagaimana bergaul di masyarakat dalam satu komunitas dari orang biasa sampai pemangku kepentingan. Baginya menjadi pendamping menjadi pekerjaan yang unik, karena tidak sekedar bekerja namun juga menjadi ibadah. Pendamping tidak sekedar melaksanakan tugas atau SOP program namun pendamping dituntut mampu menjadi teladan bagi masyarakatnya. Mampu memberikan ilmu-ilmu selama kuliah , kepada masyarakat. Dalam program tidak melulu masalah ekonomi namun juga pendidikan, sosial dan penanaman mindset.

Pendampingan program klaster Mandiri Tuban dimulai pada tahun 2011 di Desa Wolutengah dan Desa gaji. Awal masuk wilayah dampingan agak kaget karena berbeda dengan kondisi sebbelumnya. Di dua wilayah ini masih lumayan pelosok yang masih kental dengan adat jawa, wajah-wajah khas pedesaan, masih banyak ibu-ibu yang berpakaian tradisional, bangunan-bangunan rumah yang masih banyak terbuat dari kayu, beralaskan tanah, banyak masyarakat yang memelihara anjing, kesenjangan sosial yang tinggi. Yang saya kagumi di wilayah dampinga ini  jiwa gotong royong masih tinggi.

Mayoritas matapencaharian masyarakat setempat adalah bertani, bertani mulai dari dataran rendah sampai pegunungan. Jenis tanaman yag dibudidayakan diantaranya adalah jagung, kacang dan ketela pohon. Hampir seluruh petani didesa ini menanam ketela pohon lantaran kondisi tanah dan ketersediaan air yang mendukung dan cocok untuk ditanami ketela pohon, maka tak jarang banyak penduduk yang memang sudah mengolah ketela pohon menjadi produk turunan berupa krupuk singkong, kripik singkong dan uyel (terbuat dari tepung gaplek).

Merintis program pemberdayaan di wilayah ‘antah berantah’ memang tidak mudah. Perlu penyesuaian diri terhadap lingkungan yang baru. Perbedaan karakter, kebiasaan membutuhkan waktu untuk proses adaptasi. Belum lagi dalam masyarakat sendiri juga mempunyai karakter yang berbeda. Perbedaan karakter terkadang memunculkan riak-riak kecil di kelompok. Disitulah peran pendamping sangat dibutuhkan, tidak gampang menyelesaikan permasalahan antar mitra.

Namun kebanyakan mitra agak segan kalo pendamping yang berbicara, faktor orang luar dan dipandang ‘lebih pintar’ berpengaruh terhadap kemudahan dalam menyelesaikan permasalahan. Ia juga bersedia datang ke pertemuan mitra yang dilaksanakan pada malam hari, dengan sabar ia mengikuti pertemuan sampai selesai. Terkadang baru selesai jam 9 malam. Pertemuan rutin dilakukan setiap 2 minggu sekali di masing-masing kelompok. Pertemuan rutin selain membahas investasi juga penyampaian materi tentang motivasi usaha, bussiness plan

Sifat keibuan yang ia miliki membuatnya mampu ‘ngemong’ mitra tanpa harus menjaga jarak dengan mitra. Terlihat bagaimana ia mampu mengkomunikasikan setiap program dengan baik, dan mitra dapat menerima. Ia juga punya jiwa sosial yang bagus, ia memberikan pelatihan komputer grtais kepada mitra. Keterbatasan sarana tidak membuatnya menjadi patah semangat, ia mengajar komputer secara bergantian.

Pengabdiannya selama 3 tahun membuahkan hasil sampai saat ini jumlah mitra yang berhasil ia ajak untuk mengikuti program sebanyak 10 kelompok dengan jumlah mitra 77 yang  dibagi 2 desa yaitu Desa Wolutengah dan Desa Gaji dnegan rincian KM Jelita Indah (3 Mitra), KM Mekar Jaya (9 mitra), KM Melati Indah (6 Mitra), KM Mekar Abadi (8 Mitra), KM Gading (7 Mitra), KM Kenanga (8 mitra), KM  Karya Cipta Bersama (11 Mitra), KM Karya Anugerah Bersama (11  mitra), KM Sri Rejeki (9 mitra) dan KM Barokah (5 mitra)

Berkat Kegigihannya sekarang ia tidak sendirian lagi. Sekarang ia dibantu oleh kader lokal yang bisa menggantikan tugasnya ketika ia berhalangan. Mereka adalah pengurus Ikhtiar Swadaya Mitra Al-Hidayah yang dibentuk sebagai lembaga yang yang menaungi kegiatan mitra program klaster mandiri program. Dengan adanya pengurus ISM tidak berarti ia berleha-leha, sekarang ia lebih fokus mengembangkan usaha ISM. Untuk mengembangkan usaha mitra terutama batik khas Tuban, Batik Gedog. Program membuat showroom batik ‘Griya Batik’ untuk memfasilitasi penjualan  batik mitra.

Dibalik sosok pendiamnya ada karakter yang menjadi kelebihan dimana ia mampu menjalin komunikasi dengan pihak diluar program. komunikasi yang sudah dibangun selama ini yaitu dengan Puskesmas Kecamatan Kerek, Dinas Kesehatan Tuban, Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban serta Koperasi Pondok Pesantren Nusya di Kecamatan Merakurak. Sinergi dalam upaya penguatan akses pemasaran batik  juga dilakukan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tuban dan Propinsi Jawa Timur.

Baginya keberhasilan mitra menjadi kebahagiaan tersendiri. Melihat sedikit saja perubahan usaha mitra membuat hatinya berbunga-bunga. Semangat dirinya untuk membuat mitra meningkat kesejahteraannya, ternyata mampu membuatnya keluar dari ‘tempurung’ keraguan akan kemampuan diri.

Kesungguhan dan keihklasannya dalam membangun masyarakat membuat seorang pemuda menaruh hati padanya yang kemudian menikahinya di awal tahun 2014. Sekarang kalau menghadiri pertemuan mitra dimalam hari selalu ditemani oleh suaminya.  {fcomment}

 

 

 

 

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan