Mardiono, Lontong Sayur Pembawa Berkah

Badai moneter 1998 memporakporandakan perekonomian Indonesia. Imbasnya, banyak perusahaan dan pabrik yang mendadak bangkrut. Ratusan karyawan terkena pemutusan hubungan kerja. Mardiono salah satunya. Pria yang sudah tujuh tahun bekerja di perusahaan ekspor impor buah itu, harus kehilangan mata pencahariannya.

“Saat itu saya panik. Saya tidak punya sumber keuangan lain, kecuali mengandalkan gaji bulanan. Ingin buka usaha sendiri, nggak punya kemampuan. Maklum, saya lulusan SMP,” kenang Mardi, panggilan akrabnya.

Mardi menuturkan, Lamini, istrinya, tak bekerja. Sejak Fitriani, anak pertama lahir, Mardi memang memintanya fokus dengan urusan rumah tangga. Mardi sudah pasang badan untuk mencari nafkah dan bertanggung jawab penuh sebagai kepala keluarga.

Setelah lama jadi pengangguran dengan mengandalkan hidup dari uang pesangon, Mardi mengambil langkah. Ia memulangkan istri dan anaknya ke Cilacap, Jawa Tengah, kampung halamannya.

“Biaya hidup di Jakarta sangat besar. Setiap hari uang belanja dan jajan anak tak cukup lima belas ribu. Kontrakan mesti dibayar tiap bulan. Sedangkan saya nggak punya pemasukan sama sekali. Nah, kalau di kampung, makan pake sayur dari hasil kebun aja udah cukup,” beber Mardi.

Beberapa bulan Mardi di kampung. Namun, lama-lama rupanya bosan juga menganggur. Ia memilih kembali ke Jakarta, tanpa ditemani istri dan anak semata wayangnya. Hanya saja, sebelum berangkat, ia berjanji, dirinya akan berusaha sebulan sekali pulang kampung.

Di ibukota, kehidupan baru mulai ditata. Mardi numpang hidup di tempat kakaknya yang menjual lontong sayur. Saban hari membantu kakaknya. Ia terlibat semenjak bikin lontong, memasak kuah hingga menjualnya. Lambat laun, Mardi jadi paham proses pembuatan lontong sayur.

Kakaknya lantas memberikan pinjaman modal. Mardi bersyukur mendapat kepercayaan itu. Beberapa peralatan dagang lontong sayur sudah disediakan sang kakak.

“Rata-rata peralatannya bekas kakak. Kalau uang pinjaman saya pake buat belanja bahan-bahan, seperti beras, tahu, telor, dan lainnya,” sebut Mardi.

Usai shalat Subuh, Mardi mulai menyiapkan perkakas dagangan. Satu persatu dicek. Tak sampai satu jam, semuanya beres. Mardi lalu mendorong gerobaknya. Tangannya memukul-mukul piring dan sesekali berteriak, “lontong sayur…lontong sayur…” Ia berkeliling dari Bidaracina, Jatinegara hingga Cawang. Menjelang Dhuhur, lelaki kelahiran 1970 itu baru pulang ke kontrakan.

Tak terasa, kurang lebih setahun Mardi menjalani rutinitas tersebut. Setiap hari, dua liter beras yang dibuat jadi tiga puluh lontong laku terjual. Penghasilan bersihnya tiap kali jualan sekira Rp. 30.000-Rp. 40.000. Hati kecilnya berkata, jika uang itu dipakai bersama istri dan anaknya, maka akan terasa keberkahannya. Mardi kemudian memboyong kembali istri dan anaknya ke Jakarta.

Kehadiran Lamini meringankan beban kerja Mardi. Setidaknya, untuk urusan meracik bumbu atau mengolah kuah, Mardi menyerahkan kepada istrinya. Sementara itu, Mardi yang mulai memiliki waktu senggang, berusaha mencari pangkalan lontong sayur yang tepat dan ramai.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ketika itu, Mardi belum juga menemukan tempat dagang yang sreg. Ia malah berjumpa Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa. MM mengajaknya berorganisasi. Beberapa program dijelaskan MM, seperti pendampingan usaha, pelatihan dan bantuan. Mardi tertarik, lalu bergabung. Ia mengikuti setiap acara yang digagas MM. Semangat belajarnya memang tinggi.

“MM memberikan pinjaman modal. Saya langsung pake uang itu untuk beli dandang baru, memperbaiki gerobak, beli velk dan ban luar. Alhamdulillah…gerobak saya jadi seperti baru, deh…” Mardi tersenyum.

Sepertinya gerobak ‘baru’ membawa bertumpuk berkah. Mardi mendapat pangkalan dagang strategis di Jalan MT Haryono, depan Gedung Nindya Karya. Pelanggan setianya orang-orang kantoran. Keuntungan meningkat jadi Rp. 70.000-Rp. 90.000.

“Alhamdulillah…kenaikan pemasukan berbarengan dengan kelahiran anak kedua saya, Rahmat Subekti,” tukasnya.

Tak lama berselang, Mardi dan istrinya dipercaya MM untuk mengelola Gerai Sembako Mandiri (GSM). Dari situlah ia mendapat tempat tinggal gratis dan gaji bulanan. Selain itu, Mardi ditunjuk sebagai bendahara koperasi ISM Bidaracina, binaan MM.

“Pak Mardi orang yang disiplin. Pagi hingga jam 11.00 jualan lontong. Lepas Dhuhur ngurus GSM, gantian sama istrinya. Menjelang tidur, ia rutin menulis pembukuan GSM,” seorang pendamping dari MM, Leni, angkat bicara. (LHZ)

Tulisan ini oleh tim media Dompet Dhuafa pernah dimuat di Harian Jurnal Nasional dan Situs www.eramuslim.com.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan