Mbah Kasmi, Master Gedog dari Tuban

Gedog, kain khas Tuban yang belum banyak dikenal orang. Kain gedog mempunyai arti dan sejarah tersediri bagi orang Tuban. Sentra pembuatan kain gedog salah satunya adalah di kecamatan Kerek yang berjarak 25 KM dari pusat kota Tuban.

Tidak semua orang bisa membuat kain gedog, selain diperlukan keahlian khusus, proses pembuatannyapun memakan waktu yang cukup lama. Di kecamatan Kerek hanya ada beberapa orang saja yang bisa membuat kain gedog, salah satunya adalah Mbah Kasmi, begitu orang memanggilnya. Ia tinggal di Desa Gaji, Kecamatan Kerek.

Melihat sosok Mbah Kasmi, orang tidak akan langsung mengetahui bahwa ia adalah salah satu ‘master’ kain gedog di Tuban. Penampilan sederhana khas perempuan jawa dengan kebaya dan jarik. Ia tinggal sendiri di rumah bilik berlantai tanah. Tidak ada yang istimewa dirumahnya, hanya ada perabot sederhana dan ‘pusaka’ alat gedog yang ia punya.

Selain membuat kain gedog ia juga sering diminta tetangganya untuk membantu di ladang “yen ten tegil nggih upahe mboten kathah sing penting cekap kangge tumbas beras (klo kerja di ladang upahnya nggak banyak, yang penting cukup untuk beli beras)” ujarnya dengan bahasa jawa kromo inggil.

Kesahajaan dan keluasan ilmunya yang membedakannya dari yang lain. Ia juga tidak sungkan membagi ilmunya kepada siapapun yang mau belajar. Keamahannya terlihat dari tuturkata dalam menyambut tamu yang berkunjung kerumahnya.

Keahliannya membuat kain gedog, menjadi sebuah karunia. Sudah puluhan kain gedog yang ia hasilkan dari tangan cekatannya. Proses yang lama tidak membuatnya putus asa dan berpindah profesi.

“Membuat kain gedog dari memintal kapas sampai jadi kain gedog itu butuh waktu 1 minggu paling cepat ” jelasnya.

Pemahaman dalam dunia prosuksi kain gedog, membuatnya mampu menjelaskan proses pembuatan kain gedog dengan fasih sambil praktek dengan peralatan sederhana yang ada dirumahnya tanpa harus melihat catatan.

“Dalam membuat gedog proses pertama kali nguter (memintal kapas), biasanya butuh waktu seharian” ungkap perempuan 56 tahun ini. “Dari nguter jadilah lawe (benang kapas), setelah itu di ublug (direbus). Kalo mau di kasih warna baiknya dilakukan saat proses ublug supaya hasilnya maksimal” ia menjelaskan sambil menata benang hasil nguter.

Dengan sabar beliau merapihkan benang-benang supaya tidak ‘ruwet’. “Setelah di ublug kemudian di ulur dengan ini (menunjukkan alat yang terbuat dari kayu dan bilah bambu). Supaya benangnya terpisah dengan dengan sempurna sehingga waktu di tenun lebih mudah” jelasnya dengan sabar.

Sebelum di tenun kain benang harus diatur sesuai motif warna kain yang akan dibuat “Sebelum dtenun dimanih dulu (pengaturan benang) supaya nanti hasil dan warnannya sesuai yang diingikan” terangnya. “Klo sudah siap baru di tenun, ini alatnya (sambul menunjukan alat tenun yang terbuat dari kayu. Orang menyebutnya gedog, karena kalo lagi nenun bunyinya dok..dok…dok” lanjutnya. “Itu juga yang membuat kainnya juga disebut kain gedog” ia mengakhiri penjelasannya.

Para pemesan banyak yang puas dengan kain karyanya. Keterbatasan ekonomi membuat keahliannya ‘terabaikan’. Keahliannya dimanfaatkan oleh orang lain dengan upah yang sangat minim. Upah untuk membuat satu kain berukuran 3 m sebesar 70 rb. Itu tidak sebanding dengan kerumitan dan waktu pembuatannya. Padahal kalo sudah masuk ke pasar harga bisa mencapai Rp. 800.000, bahkan salah satu Mall di Jakarta harganya mencapai Rp.  1.000.000/potong

Mbah Kasmi merupakan salah satu mitra program klaster mandiri yang digulirkan oleh masyarakat mandiri dompet dhuafa. Sekarang ia sudah mampu membuat kain sendiri. Ia mendapatkan penghasilan 2 kali lipat dari yang upah yang ia dapatkan dari ‘ngeburuh’ kain gedog.ia bisa menjual kain gedog buatannya sendiri degan harga mulai 100 ribu – 200 ribu bergantung pada ukuran dan warna kain.

Dari segi pemasaran juga dibantu oleh Griyo Batik, yang merupakan unit usaha ISM Al Hidayah yang di bentuk secara swadaya oleh mitra program.

Kekurangannya tidak menjadikan ia mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia berusaha mencukupi kebtuhan hidup dg jerih payah sendiri.

{fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan