Mbak Asti, Inspirasi Difabel Mandiri

     

     Asti Handayani nama lengkapnya, perempuan asli Sukabumi ini memang tidak seperti orang pada umumnya. Lumpuh yang di deritanya sejak lahir, membuat ruang geraknya terbatas. Kemana-kemana ia menggunakan kursi roda kesayangannya. Keinginan untuk tidak menjadi beban membuatnya berusaha keras untuk mencari pekerjaan. Beruntung, ada perusahaan percetakan yang mau menerimanya, ia di tempatkan dibagian bagian setting. Dengan hasil kerjanya ia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. ”Dulu sebelum menjahit saya bekerja sebagai tukang setting di percetakan. Lumayan lah bisa untuk sehari-hari” ujar wanita 35 tahun ini.

    Namun pekerjaan yang penghasilan lumayan tidak mampu menahan mimpinya  untuk menjadi pengusaha sukses. Setelah keluar dari pekerjaanya, ia mengikuti  pelatihan menjahit di Cipayung, Depok. Setelah pelatihan ia tidak langsung memulai usahanya, karena tidak ada modal.  Ia tinggal bersama keluarganya di Jati Bening Bekasi, kemudian ia diperkenalkan temannya pada bu Paini. Sejak  perkenalan itu, ia memutuskan bergabung dengan kelompok Usaha Bersama Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Rawa Lumbu Berkarya yang semua  anggotanya adalah para penyandang difabel.

    Setelah bergabung ia memmilih untuk hidup mandiri dengan mengontrak rumah yang sekaligus dijadikan sebagai tempat usaha. Ia tinggal bersama Neneng sesama penyandang diffabilitas, yang sudah lebih dahulu bergabung dengan usaha bersama.

    Setahun sudah ia bergabung dengan  kelompok usaha ini, sejak itu pula ia pindah ke Rawa Lumbu Bekasi untuk memulai usahanya. Karena punya keahlian menjahit yang didapat dari pelatihan, ia memutuskan menekuni usaha jahit baju dewasa dan anak. Order menjahit ia dapatkan dari warga sekitar , namun ada juga orderan dari baju anak dari tangerang yang rutin tiap bulan. Dengan usahanya ini ia bisa mengantongi panghasilan bersih Rp. 500.000/bulan. “Usaha kecil-kecilan lah mas.  Jahit baju untuk orang dewasa. Ada juga baju anak. lumayan lah, karena kan disini masih kampung jadi harganya juga gak bisa tinggi. Kalo orang jual gamis diluar bisa 160.000/potong, disini gak bisa paling Rp. 70.000-80.000” Ujar Asti.

    Sejak bergabung dengan ISM, tidak hanya keuntungan secara finansial yang ia dapatkan. Beberapa kali ikut kegiatan seperti pameran, wawasannya pun bertambah banyak. Ia tidak lagi menggantungkan hidup pada orang lain. dia membuktikan bahwa kondisinya yang terbatas tidak menghalangi mimpinya untuk maju dan mandiri.

   Asti merupakan salah mitra program pemberdayaan difabel wilayah Rawa Lumbu Kota bekasi. Secara keseluruhan Penerima manfaat program ini berjumlah 37 mitra yang semuanya adalah penyandang difabel. Program ini memberikan modal usaha, pelatihan dan peningkatan kualitas produk yang dihasilkan. Program yang dilakukan dengan metode pendampingan intensif yang berarti pendampingan dilakukan dari mulai membuat perencanaan usaha hingga pemasaran. Program yang diinisiasi oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan penyandang difabel secara ekonomi sehinhgga mereka mampu berdiri sama tinggi dan tidak lagi didiskriminasikan. {fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan