‘Meloncat Selamat’dari Lumpur Panas

Satu di antara ribuan warga Kedung Bendo Sidoarjo ialah Sri Wahyuni (32). Perempuan tiga anak itu mengandalkan penghidupan dari membuat dompet selama 18 tahun bersama Sutoyo suaminya. Bencana lumpur panas turut mengubur kesempatan berusaha yang selama ini ditekuni secara berdikari. Dalam kungkungan psikologi yang rawan, usaha Sri dengan suaminya turut amblas. Citra Tanggulangin yang dikenal pusatnya industri dan belanja tas dan dompet di Surabaya, bahkan nasional ambruk berbulan-bulan. Bencana membuat Tanggulangin sepi dari kunjungan.

Di Tanggulangin ada sekitar 360 show room tas, dompet dan asesoris berbasis kulit/imitasi. Satu showroom bisa melibatkan beberapa perajin. Di luar itu ada para perajin tanpa showroom seperti Sri Wahyuni. Para konsumen tahunya kawasan itu tidak berfungsi lagi karena bencana lumpur. Omset rata-rata perajin pun terjun bebas. “Kami kehilangan pasar, turun 80 %, kami benar-benar menganggur,” kata Sri sembari melem dompet-dompet karyanya.

Saat ditemui, Sri tampak sumringah. Wajahnya menggambarkan keyakinan kuat memandang hari esok. Usahanya telah menggeliat. Perlahan namun pasti pelanggan dari berbagai tempat kembali memborong produknya. Berkebalikan dengan kondisi saat puncak bencana, para pelanggan putus komunikasi. “Saya sempat kehabisan modal setelah ngungsi di Pasar Porong,” tutur Sri.

Dua bulan jadi pengungsi di Pasar Porong, ia dan suaminya membawa 100 lusin dompet yang berhasil diselamatkan dari amukan lumpur, namun hanya laku dua lusin. Itupun keuntungan penjualan habis buat jajan anak-anaknya. “Pulang ngungsi tidak punya modal lagi. Nganggur, makan dikasih sama Pemda. Tapi modal tidak dikasih.”

Rumah tempat berpulang dilahap lumpur yang datangnya tidak pernah disangka seumur hidupnya. Bersyukur Sri bisa menyelamatkan sebagian harta bendanya. Rasa syukur menjelma menjadi kekuatan untuk bertahan dan melawan putus asa. “Dompet Dhuafa Republika lewat MM menawarkan bantuan untuk memulihkan usaha. Sebenarnya sebelum dipinjami sudah jalan meskipun dengan modal mepet dari tabungan,” ungkapnya.

Selama didampingi MM, bersama puluhan mitra lain, Sri Wahyuni juga mendapuk sebuah koperasi yang memiliki ancangan menjadi koperasi yang bisa membantu modal usaha bagi warga atau perajin di daerahnya. Mereka ingin banyak orang menegakkan kembali masa depannya.

Masa-masa penderitaan saat lumpur menghajar Kedung kampungnya Bendo dilewatinya dengan bersusah-payah, sampailah ia dan keluarga menemukan hidupnya kembali. Sri dan keluarga seolah berhasil meloncat selamat menghindari lumpur panas yang datangnya tiba-tiba itu.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan