Membangun Basis Ekonomi baru

 Masih segar dalam ingatan, ketika ekonomi negeri ini ambruk diterjang badai krisis moneter pada tahun 1998. Ekonomi indonesia pada waktu itu berada pada titik terendah, ditambah lagi muncul kekisruhan sosial yang membuat investor meninggalkan indonesia. Kejadian ini melanda hampir di seluruh kota-kota besar yang mempunyai peran strategis terhadap perkembangan ekonomi indonesia pada waktu itu terutama jakarta.

Secercah harapan kebangkitan ekonomi muncul, ketika kenyataan bahwa usaha mikro yang sebelumnya kurang dilirik ternyata mampu bertahan dari badai krisis. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa, usaha mikro tetap berputar dengan konstan dan cenderung meningkat pasca krisis. Dari 36.813.578 unit usaha mikro di tahun 1998 menjadi 56.534.592 unit di tahun 2012 (Data Kementrian Koperasi dan UKM), ada peningkatan 19.721.014 unit atau 34.88%. ini menjadi angin segar bagi perekonomian nasional.

 Kejadian yang seharusnya menjadi perhatian dan pelajaran, untuk menjadikan usaha mikro menjadi prioritas dalam pembangunan ekonomi negeri. Ketangguhannya mampu mengembalikan hegemoni ekonomi negeri. Perlu kebijakan-kebijakan yang memihak dan mendorong pelaku usaha mikro agar mampu berkembang.

Koperasi menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang dimiliki indonesia, yang mampu mendorong tumbuhnya perekonomian tingkat mikro. Slogan bahwa koperasi adalah sokoguru ekonomi bukanlah isapan jempol. Koperasi mampu menggerakkan usaha mikro sampai tingkat paling bawah (grass root). Dulu di kenal hanya koperasi unit desa yang dibentuk oleh pemerintah, namun sekarang banyak berdiri koperasi yang memang lahir dari keinginan masyarakat. Koperasi-koperasi mampu mentransformasi diri menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Eksistensinya mulai diakui oleh masyarakat yang langsung merasakan manfaat secara ekonomi.

Kulewasan koperasi ini menjadi salah satu hal yang diminati oleh masyarakat. Koperasi mampu menempatkan sesuai bidan dan kebutuhan, misalnya koperai petani, koperasi nelayan, koperasi pedagang pasar dan koperasi jasa keuangan. Tidak heran jika bermunculan koperasi dengan berbagai bidang usaha. Data kementerian koperasi tahun 2013 jumlah koperasi 203.701 dengan pertumbuhan rata-rata 4,7 %/tahun sejak tahun 2000.

Pesatnya pertumbuhan koperasi bukan tanpa masalah, karena ternyata tidak semua koperasi aktif. Koperasi yang tidak aktif kebanyakan dirikan karena sekedar keinginan punya koperasi bukan didasarkan kemampuan dan kebutuhan. Idealnya pembentukan sebuah koperasi harus mempunyai fondasi yang kuat, baik secara keanggotaan, kepengurusan, administrasi dan kepercayaan. Salah satu langkah yang harus dilakukan adalah dengan bimbingan dan pendampingan yang intensif. Model lembaga pendahuluan sebelum menjadi lembaga berbadan hukum koperasi bisa manjadi langkah awal. Lembaga pendahuluan ini menerapkan sistem seperti koperasi, baik kepengurusan maupun administrasinya. Lembaga pendahuluan ini menjadi ‘sekolah’ bagi pengurus sebelum menjadi lembaga berbadan hukum koperasi.

Lembaga-lembaga pemberdayaan telah melakukan penguatan ekonomi dengan model tersebut. Awalnya dengan memberikan pembiayaan modal usaha kepada masyarakat dengan berkelompok. Dari dua  atau lebih kelompok dalam satu lokasi dibentuk Induk sebagai lembaga yang mengelola kelompok-kelompok usaha. yang kepengurusannya di pilih dari anggota-anggota kelompok yang potensial. Kemudian dari dua atau lebih induk bentuk lembaga yang menaungi semua kelompok. Lembaga ini dikenal sebagai Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM), lembaga ini yang menjadi lembaga pendahuluan. Sistem yang dibangun menggunakan sistem koperasi. Semua pengurus diambil dari anggota kelompok atau pengurus induk yang telah dilakukan proses seleksi. Dengan model seperti ini akan diperoleh kepengurusan yang solid dan siap untuk membawa koperasi kearah yang lebih baik.

Kalaupun tidak sampai terbentuk lembaga berbadan hukum koperasi, level ISM pun bisa mengelola walaupun dengan jumlah yang terbatas.  

Dengan semangat untuk menggapai manfaat bersama, koperasi yang terbentuk melalui proses pemberdayaan yang intensif akan menjelma menjadi penggerak ekonomi yang mampu melahirkan basis-basis ekonomi baru. Basis ekonomi yang terbentuk karena bukan karena monopoli pemilik koperasi yang menimbulkan kesenjangan sosial baru, namun basis ekonomi ‘kerakyatan’ yang benar-benar membantu masyarakat semua lapisan.

 {fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan