Memilih Jalur Pemberdayaan

Pengalaman pendampingan telah menjadi hadiah berharga bagi MM sendiri. Disadari, nilai manfaat akan berlipat ganda jika hadiah ini dibagi untuk siapapun yang berminat belajar tentang model pendampingan. Maka, tak sedikit lembaga dan korporat yang telah belajar seputar pendampingan.

Dalam konsep pembangunan berkelanjutan, proses pembangunan harus mampu melibatkan peran-serta banyak pihak (multistakeholders), terutama masyarakat. Program pembangunan haruslah sesuai dengan kebutuhan masyarakat tempat program dilaksanakan. Sebenarnya konsep ini mulai banyak dilakukan oleh banyak pihak, baik dikalangan LSM, pemerintah, perusahaan dengan program CSR dan PKBL-nya.

Dalam konteks pengentasan kemiskinan atau lebih khusus dalam konteks pemberdayaan, masih sedikit program-program yang dalam proses pelaksanaanya dilakukan pendampingan secara intensif. Pengalaman Masyarakat Mandiri (MM) ketika berdialog dengan kalangan pemerintah atau swasta, bahwa sebagian besar dari kalangan ini masih melihat bahwa biaya pendampingan intensif hanya ‘membuang’ dana untuk menggaji pendamping dan operasional. Sehingga mereka lebih cenderung memilih program yang bersifat instan, seperti santunan/sumbangan sosial atau usaha yang dikemas dengan seremoni. Tidak salah memang, jika prinsipnya dana sampai kepada masyarakat.

Tetapi jika, konteksnya kita memberdayakan, tentu memiliki paradigma dab metode yang berbeda. Pemberdayaan untuk sebuah kemandirian masyarakat, paling tidak harus memiliki hal berikut : Pertama: Penyadaran. Ini dilakukan dengan dialog intensif yang difasilitasi oleh seorang pendamping. Tanpa hal ini, mustahil kesadaran hakiki akan diperoleh. Kedua : Kaderisasi. Agar program tetap sustain, diperlukan kader yang mampu berperan sebagimana layaknya fasilitator program sebelumnya. Kader ini juga akan berperan sebagai motivator lokal. Ketiga: Tumbuhnya kelembagaan. Masyarakat akan berdaya jika memilki tempat untuk berkumpul, bercerita dan menyelesaikan permasalahan. Dengan lembaga diharapkan masyarakat semakin memiliki daya tawar. Keempat: Sistem organisasi. Tanpa sistem yang disepakati bersama dan menjunjung nilai norma agama, lembaga masyarakat ibarat delman tanpa kusir. Kelima : terapan beberapa hasil teknologi tepat guna untuk peningkatan kesejahteraan

Untuk mewujudkan lima hal diatas, tentunya memerlukan proses pendampingan. Pendampingan memiliki sisi mulia, karena hanya berpamrih pada perubahan masyarakat yang didampingi. Pendampingan berharap tumbuhnya keberdayaan. Di sinilah posisi Masyarakat Mandiri. Paradigma pemberdayaan dengan metode pendampingan menjadi pilihan. Pendampingan memberikan harapan pada terjadinya perubahan dan kemandirian masyarakat, baik kemandirian material, pengetahuan dan manajemen. Pilihan ini lebih jauh menjadi wahana sumbangsih berbagai pihak untuk turut serta dalam peningkatan harkat warga masyarakat.

Masyarakat Mandiri mengukuhkan dirinya sebagai lembaga pendampingan sejak tahun 2005. Meski tergolong muda, MM sebelumnya telah melakukan pembelajaran cukup panjang sebagai lembaga pendampingan. Berbagai segmen wilayah disentuh dengan metode pendampingan. Wilayah perkotaan, pedesaan, kantong pekerja migran dan pascabencana.

Pengalaman pendampingan telah menjadi hadiah berharga bagi MM sendiri. Disadari, nilai manfaat akan berlipat ganda jika hadiah ini dibagi untuk siapapun yang belajar tentang model pendampingan. Pengalaman dan pengetahuan yang ada pun, kami share pada mereka yang berminat. Maka, tak sedikit lembaga dan korporat yang telah belajar seputar pendampingan.

Program-program pendayagunaan dana zakat, infak, shodaqoh dan wakaf dari Dompet Dhuafa Republika bertahun-tahun diejawantahkan dalam ikhtiar pendampingan. Seiring kepercayaan terhadap efektifitas terhadap model ini, beberapa lembaga dan korporat pun mempercayakan MM untuk menggawangi program-program pemberdayaan komunitas.

Pernah diposting pada 15 Oktober 2008
Oleh: Ponco Nugroho, Pendamping Senior

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan