Memulai Program : Sosialisasi, Awal yang Tepat Menentukan Langkah Selanjutnya

Pasca pemetaan sosial (social mapping) terhadap suatu wilayah, terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk memulai suatu program pemberdayaan. Tahapan-tahapan tersebut diperlukan untuk memudahkan pelaksanaan program baik secara teknis maupun strategis.

Secara garis besar tahapan memulai program terbagi menjadi dua, pertama tahap pra pelaksanaan atau tahap persiapan program. Beberapa tahapan pra pelaksanaan atau persiapan program yang bisa dilakukan di antaranya adalah : 1) Penyusunan matrik perencanaan program (MPP) yang terdiri dari aktivitas atau kegiatan, target, indiktor keberhasilan dan waktu pelaksanaan program. 2) Penyusunan cetak biru (blue print) program yang merupakan gambaran secara menyeluruh tentang program yang dijadikan patokan dan panduan umum dalam pelaksanaan program. Dengan kata lain, MPP maupun blue print merupakan bagian dari tahapan strategis dalam pelaksanaan program.

Kedua tahap pelaksanaan program, secara umum tahap ini merupakan implementasi dari tahapan sebelumnya di mana seorang fasilitator atau pendamping secara teknis akan berperan langsung dalam memulai pelaksanaan program di lapangan. Tahap ini sangat penting karena akan berimplikasi terhadap tercapainya target, tujuan, dan out put program. Oleh karena itu seorang fasilitator harus sangat memahami konsep program yang tertuang dalam MPP maupun blue print program.

Sosialisasi merupakan langkah awal dalam pelaksanaan program. Meskipun terlihat sepele dan ringan, namun proses sosialisasi sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan program. Sehingga seorang fasilitator harus sangat berhati-hati dalam proses sosialisasi, mengingat kondisi masyarakat yang sangat heterogen, baik tingkat pendidikan, karakter, daya terima dan pemahaman masyarakat. Dalam proses sosialisasi seorang fasilitator setidaknya melakukan sosialisasi terkait personal dirinya, seperti nama, asal, maksud dan tujuan datang ke wilayah tersebut, kemudian melakukan sosialisasi tentang lembaga dan program. Dalam sosialisasi lembaga, setidaknya fasilitator menginformasikan tentang profil lembaga seperti nama lembaga, alamat lembaga, visi dan misi lembaga, bidang kerja lembaga dan bisa juga prestasi yang telah dicapai oleh lembaga. Selain profil lembaga, yang tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi program seperti nama program, tujuan program, konsep program, jangka waktu pelaksanaan, sasaran dan target program.

Seorang fasilitator juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik atau harus komunikatif. Artinya harus memiliki kemampuan dalam menyampaikan informasi yang mungkin baru kepada masyarakat dan semaksimal mungkin masyarakat memahami dan bisa menerima sesuatu yang baru tersebut. Komunikatif tidak harus yang banyak bicara namun lebih kepada bagaimana bisa menyampaikan dengan tepat, bisa difahami dan diterima. Ada kalanya masyarakat masih belum memahami konsep program yang akan dilakukan atau salah menterjemahkan informasi terkait program sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda. Tak jarang masyarakat menentang pelaksanaan program karena merasa apa yang disampaikan saat sosialisasi dan saat pelaksanaan berbeda, padahal mereka telah mengikuti program. Untuk menghindari hal-hal tersebut proses sosialisasi harus dilakukan menggunakan bahasa yang mudah difahami masyarakat dan harus dilakukan secara kontinyu baik kepada komunitas sebagai sasaran program, kepada instansi pemerintahan untuk mendapatkan dukungan dan kepada stakeholder terkait.

Beberapa metode sosialisasi yang bisa dilakukan diantaranya 1) sosialisasi langsung, yaitu proses sosialisasi dilakukan secara langsung oleh fasilitator kepada masyarakat. Metode ini paling efektif karena fasilitator akan berhadapan langsung dan memberikan penjelasan terperinci terkait program untuk mengurangi kesalahfahaman karena masyarakat mendapatkan informasi langsung dari sumbernya. Metode ini bisa dilakukan dengan direct selling atau berkunjung langsung dari rumah ke rumah, pertemuan RT, arisan, pertemuan tingkat desa, tahlilan atau saat nimbrung di warung maupun di sawah. 2) sosialisasi tidak langsung, melalui perantara. Metode ini efisien dari segi waktu, namun kurang menjamin dari segi hasil karena masyarakat tidak mendapatkan informasi langsung dari sumbernya. Contoh metode tersebut adalah meminta bantuan aparat desa, tokoh masyarakat, atau salah satu warga untuk mensosialisasikan program kepada masyarakat, tanpa didampingi oleh fasilitator.

Pada prinsipnya sosialisasi bisa dilakukan kapanpun, di manapun dan kepada siapapun, tidak dibatasi oleh waktu, tempat dan kepada siapa sosialisasi dilakukan. Oleh karena itu sosialisasi harus dilakukan dengan tepat dan benar karena hal tersebut merupakan langkah awal yang sangat menentukan pelaksanaan program berikutnya.

Oleh: Rudi DS, Koordinator Program

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan