Menapak Jejak Program Gula Kelapa Pacitan

Mendengar kata pacitan pastilah orang langsung tertuju ke Presiden Republik Indonesia saat ini, Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono.  Di kota kecil itulah beliau dilahirkan.

Pacitan termasuk salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian paling selatan Pulau Jawa dan di bagian barat berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah menjadikan daerah ini mempunyai peran strategis. Pembangunan Jalur lintas selatan (JLS) yang menghubungkan Yogyakarta, Jawa Tengah (Wonogiri), Pacitan, Trenggalek sampai Kediri akan membuat Pacitan mempunyai peran strategis sebagai jalur distribusi.

Secara geografis wilayah Pacitan didominasi oleh pegunungan. Hanya sebagian saja yang datar dan cocok dijadikan lahan pertanian padi. Sisanya berupa lahan perbukitan dengan tanaman utama kelapa, singkong dan umbi-umbian.

Kelapa menjadi ‘pimadona’ karena dapat dimanfaatkan semua bagiannya. Air kelapa bisa dimanfaatkan untuk minuman dan mempunyai kemampuan menawarkan racun dan nata de coco, batoknya bisa gunakan sebagai bahan bakar berupa briket arang, daging buahnya bisa dijadikan kopra dan virgin coconut oil (vco) dan minyak goreng, sabutnya bisa di jadikan keset dan pengisi jok mobil dan springbed, pelepahnya bisa di jadikan kayu bakar, lidinya bisa dijadikan sapu dan pohonnya bisa digunakan sebagai bahan bangunan dan meubel.

Dompet Dhuafa (DD) dan Masyarakat Mandiri (MM) sebagai lembaga pemberdayaan melihat Pacitan mempunyai potensi lain yang belum tergali maksimal, yaitu pemanfaatan nira kelapa sebagai gula terutama di wilayah Kecamatan Kebonagung. Berdasarkan hal tersebut Dompet Dhuafa dan Masyarakat Mandiri menggulirkan program pemberdayaan masyarakat berbasis klaster industri rumah tangga gula kelapa sebagai komoditi unggulan Pacitan. Mengingat mayoritas masyarakat Pacitan khususnya di wilayah Kecamatan Kebonagung berprofesi sebagai pembuat gula kelapa.

Program pengembangan gula kelapa di Kabupaten Pacitan mulai dilaksanakan tahun 2006 di Kecamatan Kebonagung. Dalam program ini Dompet Dhuafa dan Masyarakat Mandiri melibatkan stakeholders yang ada termasuk Pemerintah Daerah. Selama 3 tahun pelaksaaan program  telah terbentuk 13 kelompok penderes gula kelapa yang tersebar di dua desa yaitu Desa Mantren dan Desa Wora Wari. Selain itu telah terbentuk sebuah lembaga lokal Koperasi ISM Manggarsari sebagai wadah penjualan gula mitra anggota koperasi .

Salah satu capain program tersebut adalah mampu meningkatkan kualitas gula kelapa sehingga mampu diterima oleh pasar dan diakui oleh masyarakat luas. Terbatasnya waktu program mengharuskan masyarakat dampingan untuk mandiri dan setelah program selesai tidak membuat kelompok dan koperasi mandeg, mereka harus terus berimprovisasi mengembangkan diri.

Tiga tahun setelah program selesai, apa yang diharapkan oleh Dompet Dhuafa dan Masyarakat Mandiri menjadi kenyataan. Koperasi dan kelompok terus berkembang. Apa yang dulu dilakukan selama program tetap mereka pegang teguh. Pertemuan kelompok, pertemuan  induk, pengumpulan infak mingguan dan kegiatan menabung masih dilakukan. Yang membuat berdecak kagum adalah bagaimana mereka mampu mengimprovisasi kegiatan pertemuan, tidak hanya sekedar pertemuan namun menjadi kelompok- kelompok ‘Yasinan’. Koperasi yang dulunya hanya mengumpulkan gula mitra, sekarang mampu berperan sebagai ‘bakul’ besar yang membeli gula kelompok dengan harga di atas harga pengepul desa. Pengembangan pasar telah mampu menembus pasar antar propinsi seperti Kulon Progo, Waleri-Kendal dan Temanggung. Produk gula yang dihasilkan tidak hanya gula kepala tapi juga gula semut.

Sudah mulai banyak pihak yang melirik potensi gula Pacitan. Bahkan ada yang ingin mengklaim Pacitan sebagai daerah binaan. Namun koperasi tetap mengganggap Dompet Dhuafa dan Masyarakat Mandiri lah yang telah membina mereka hingga mampu menjadi seperti sekarang. Gebrakan terakhir yang dilakukan koperasi adalah pengembangan gula kelapa organik dengan menggandeng perusahaan eksportir gula kelapa. Tidak hanya gula kelapa organik namun juga gula semut organik.

Menjadi kabar yang menggembirakan ketika melihat sebuah program pendampingan mampu merubah kultur dan kondisi masyarakat. Mampu merubah pola fikir yang tadinya puas dengan kondisi yang ada menjadi inovator tangguh. Bagaimana ternyata program mampu mengedukasi, memberikan penyadaran dan menanamkan nilai-nilai kepada masyarakat untuk mandiri dan bisa selangkah lebih maju memperbaiki gula kelapa sehingga ikut meningkatkan pendapatannya.

Perlu kesabaran, kerja keras dan perencanaan yang terarah untuk menjadikan program berhasil. Sebuah catatan bahwa keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya tergantung siapa implementornya namun lebih pada sejauh mana mesyarakat mau menerima program dan mau untuk berubah.

 {fcomment}

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan