Mendampingi dan Belajar Bersama

Pemberdayaan masyarakat yang kami lakukan tidak bisa dilepaskan dari kegiatan pendampingan yang merupakan salah satu strategi penting penunjang keberhasilan. Pendampingan berprinsip “membantu komunitas agar mampu membantu diri mereka sendiri”. Pendamping adalah pendamping, bukan dewa penolong atau problem solver secara langsung.

Para pejuang lapangan ini bekerja memfasilitasi komunitas dalam mengorganisasikan diri mereka agar mampu mengidentifikasi potensi dan masalah, serta mampu merencanakan dan melakukan aksi menyelesaikan masalah mereka dengan kemampuan dan sumberdaya yang dimiliki. Hal ini tidak muncul secara tiba-tiba, perlu proses, tumbuh dan berkembang sejalan dengan interaksi pendamping dan komunitasnya. Pendamping adalah sosok yang memiliki bekal kerelawanan dan pengalaman luas dalam menfasilitasi kegiatan pendampingan masyarakat.

Pendamping komunitas sebagai ujung tombak program pemberdayaan dituntut untuk mampu menjalankan peran-peran utama yakni : 1) Fasilitatif yaitu mampu peleburan diri ke masyarakat, mediasi, negoisasi, mengembangkan mufakat, fasilitasi kelompok, pendayagunaan ketrampilan dan sumber daya serta pengorganisasian kegiatan agar berjalan sesuai rencana, teratur dan sistemik, 2) Edukatif yaitu pendamping memberikan masukan positif dan direktif untuk meningkatkan kesadaran kelompok, membuat perubahan, memberi informasi, mendorong kelompok lebih kreativitas dan semangat untuk maju, melatih formal dan informal sesuai kebutuhan kelompok dampingan, 3) Representatif yaitu pendamping menjadi perantara/perwakilan dengan pihak luar baik atas nama individu, kelompok atau komunitas dampingan 4) Teknis yaitu peran yang mengacu pada aplikasi ketrampilan yang bersifat teknis.
Dalam menjalankan peran edukatif, pendamping tidak melulu menjadi guru tapi dapat belajar bersama komunitas, mencari dan menemukan bersama solusi dalam mengatasi masalah di komunitas. Di Way Bungur, Lampung kami punya Pak Parno, sosok pekerja keras inspiratif bagi teman-temannya sesama petani singkong. Di sekitar Jalan Tol Tanjung Perak, Surabaya ada Bu Siti Komariyah, pengasong nasi jagung dan nasi kuning yang semangat, optimis dan percaya diri. Sedangkan di Warakas, Jakarta ada Bu Cucu pengusaha Usaha Kue Akar Kelapa yang tetap bangkit walau sempat ‘jatuh’ berkali-kali.

Kami belajar bahwa dalam menentukan wilayah dan komunitas sasaran program pemberdayaan tidak asal karena miskin, asal terpencil dan tidak memiliki akses. Dibutuhkan penggalian mendalam bersama komunitas apa yang menjadi potensi mereka baik dari sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia, bagaimana kondisi akses baik transportasi maupun informasi dan faktor-faktor lain yang menunjang. Kami belajar bahwa pendampingan komunitas perkotaan sangat berbeda dengan komunitas perdesaan, apalagi komunitas wilayah pasca bencana. Kami belajar bahwa kondisi sosial dan politik yang tidak mendukung dapat menghambat upaya pemberdayaan masyarakat bahkan menggagalkannya.

Belajar juga bisa di mana saja. Dari kaki bukit Sanggabuana, Pesisir Pantai Muara Teluk Naga, pinggiran kali Bidaracina atau bahkan ke Negeri Belanda. Kami akan tetap belajar!

Diposting oleh Armie Robi, Direktur Masyarakat Mandiri

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan