Menjadi mitra MM Dompet Dhuafa adalah jawaban atas do’a-do’a kami

      Pekerjaan bukanlah semata-mata soal profesi melainkan pengabdian. Secara tidak sengaja saya menyempatkan mampir ke warung kecilnya untuk bebelanja makanan cemilan. Saya selalu heran ketika menjumpai warung-warung kecil yang menjajakan makanan jaraknya hampir berdekatan. Selang satu rumah bisa ditemui warung yang hampir menjajakan makanan yang mirip. Perlahan mengingat perkataan ‘rezeki memang sudah di atur dan setiap orang tidak mungkin ketuker rezekinya’.

      Warung itu sangat sederhana, dan sepertinya tidak tampak seperti warung. Hanya ada satu meja dan terpal penutup sebagai atap yang perlahan mulai bolong. Yang mencerminkan sebuah warung adalah adanya aktifitas jual-beli yang saya dapati ketika melewati tempat tersebut. Letaknya persis disamping warung yang permanen dan berjualan barang yang lengkap.

      Pertama saya mengucap salam, memperkenalkan diri, menanyakan keadaan dan bertanya seputar aktifitas jualannya. Namanya Ibu Rumiyati, Ibu satu anak ini berjualan sejak suaminya berhenti bekerja dan tidak berpenghasilan. Sempat mengalami cobaan sakit, semua anggota keluarga dan tidak memiliki uang untuk sekedar membeli beras RASKIN sebagai jatah dari Ketua RT setempat. Sejak itu, jiwanya terguncang, putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa.

      Maka sisi keimanan yang menjadi penolongnya, Ibu Rumiyati bercerita, bahwa sejak saat itu beliau sering merutinkan untuk solat tahajud dan menyempatkan solat dhuha sebelum beraktifitas, tentunya setelah solat fardu dikerjakan dengan sempurna 5 waktu. Berjualan menjadi aktifitas pilihanya untuk menjemput rezeki. Walaupun banyak di tentang oleh kelurganya untuk berjualan, karena Ibu Rumiyati berjualan persis di samping warung permanen milik mertuanya. Ibu Rumiyati mensiasati untuk barang yang dijual adalah barang yang tidak ada di warung Ibu mertunya, maka dipilihlan jualan Pop Ice, mie rebus, dan berbagai minuman dingin.

     Saya tawarkan progran Ibu Warung Anak Sehat untuk Alfamart Raya Puspitek, alhamdulillah Ibu Rumiyati berminat karena rumahnya dekat deng lokasi Alfamart. Penolakan datang dari mertuanya, karena khawatir tidak bisa mengembalikan modal. Saya di anggap sebagai marketing dari bank atau koperasi yang menawarkan jasa pinjaman. setelah saya jelaskan kelebihan dari program Ibu Warung Anak Sehat tidak sekedar pinjam uang, maka perlahan mertuanya mengijinkan.

     Penolakan kedua datang dari suaminya, yang belum yakin dengan program IWAS ini. Saya mengundang Ibu Rumiyati pada Pelatihan IWAS selama tiga hari di RST DD, dan alhamdulillah Ibu Rumiyati bersedia hadir plus diantar oleh suaminya. Setelah pelatihan Ibu Rumiyati semakin semangat untuk menjadi Ibu Warung Anak Sehat karena bisa bertemu dengan IWAS yang lain dan berbagi pengalaman. Bahkan Ibu Rumiyati berencana belajar masak dari Ibu Ida (IWAS Alfamart Cabe Raya-penjual lauk mateng) dan minta difasilitasi oleh pendamping. Alhamdulillah setelah pelatihan suaminya juga melunak dan mengijinkan Ibu Rumiyati ikut program IWAS.

     Pada kunjungan ke-2, Ibu Rumiyati berkeyakinan bahwa menjadi mitra di Masyarakat Mandiri dalam program Ibu Warung Anak Sehat Sehat adalah apa yang selama ini ia minta pada Allah SWT. Melalui program ini Ibu Rumiyati ingin maju dan bisa menghidupi kelurganya. Tidak lama berselang ternyata Allah mengabulkan do’a Ibu Rumiyati yang lain, yaitu suaminya sudah mulai bekerja di tempat Loundri.

     Saya menjumpai sedikitnya 3 orang yang merasa bahwa menjadi mitra di MM-Dompet Dhuafa adalah jawaban Allah atas do’a-do’a mereka. Ini adalah langkah kecil yang merupakan bagian dari pengabdian kita untuk membuat orang jadi berdaya. 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan