Mereka Kembali

Sudah hampir setengah tahun peristiwa tsunami yang menerjang Pantai Selatan. Bila kita menelusuri dari arah Pangandaran ke arah selatan hingga Cimanuk, masih mudah kita dapati mereka hidup dalam tenda-tenda darurat. Setidaknya sampai Nopember 2006lalu, ketika penulis bertugas ke wilayah itu. Musim hujan tentu menjadi ancaman bagi para pengungsi.

Kami, Tim Recovery Masyarakat Mandiri (MM) melakukan monitoring program pemberdayaan di salah satu lokasi yakni Desa Legok jawa. Di Desa Legok ini terdapat satu RT (yang dulu paling terisolasi setelah tsunami) yang orang menyebutnya Logodor. Belum ada yang istimewa di sana. Sebagian besar masih menggunakan tenda, meski mulai telihat jauh lebih rapi, tertib, dan bersih dibanding tiga bulan pascatsunami.

Hampir seluruh warga telah bekerja. Bahkan, mereka mengatur dan memperhatikan siapa yang belum bekerja, paling tidak untuk menjadi kuli bagunan. Sebagian besar dari mereka juga mempersiapkan pembangunan majelis taklim dan masjid.
Program pendampingan untuk pemulihan ekonomi oleh MM, sebenarnya tidaklah berarti apa-apa kalau tanpa adanya semangat mereka. MM melihat, mereka telah mendapatkan ruhnya kembali untuk bertahan hidup. Ada yang mulai berdagang, melaut, ke sawah, atau bekerja apa saja. Tak ketinggalan, para janda tua pun setiap sore berkumpul, untuk mengerjakan hal-hal yang produktif. Tangan-tangan sepuh masih lincah membuat sapu lidi yang lantas dijual secara bersama-sama di pasar.

Program pemulihan ekonomi di Logodor, telah pada tahap pembentukan kelompok. Antusias mereka tumbuh, setelah MM menawarkan pandangan program yang jauh ke depan, yakni kemandirian. Ya, kemandirian dengan kelembagaan yang mereka miliki. Semua bantuan produktif akan menjadi milik lembaga masyarakat. Kemudian dikelola bersama, dengan sistem keterbukaan dan saling percaya. Mereka menyebutnya Lumbung Tani Terpadu atau disingkat LTT. Meski berlabel nama ’Tani’, para nelayanpun ikut bergabung.

Kepengurusan LTT telah terbentuk. Program kerja pun mulai dirancang bersama pendamping. Tidak heran kalau kampung yang hanya 60 KK ini telah menolak bantuan dari sebuah NGO yang menawarkan sekolah darurat, yang menawarkan recovery mental untuk anak-anak. ”Lho, sekarang sudah tidak saatnya meratapi. Sekolah darurat telah dibuat Dompet Dhuafa sejal awal program, sekarang sekolah beneran dan anak-anak sudah tidak trauma. Buktinya sudah pada main ke laut,” komentar salah satu tokoh nelayan tentang tawaran program dari NGO tersebut.
Sering kita jumpai, banyak program hanya sekadar menyalurkan dana bantuan. Ternyata, bagi MM dana bantuan untuk korban tsunami dapat di-setting bersama masyarakat menjadi program kemandirian. Bantuan rutin usai fase emergency / darurat, justru membuat mereka tidak berdaya. Harapan kita pun sederhana. Bukan kita yang membuat mereka bertahan hidup. Tapi, motivasi dan semangat mereka yang tetap harus hidup.

Pernah diposting pada 20 Maret 2007
Oleh: PONCO NUGROHO, Pendamping Senior

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan