Mereka Rela Tidak Digaji

Suyatno ditemani seorang teknisi mesin sejak ba’da Shubuh, Rabu (2/5), bergelut dengan diesel dan penggilngan. Beberapa baskom plastik bahan dan bumbu bakso berjajar di di bangku. Beberapa pelanggan juga mulai antre meja layanan daging yang berjarak semeter dari mesin giling. Ghofar sibuk memotong-potong daging sesuai pesanan.

Dua mitra dampingan juga membantu merapikan sekitar mesin, freezer dan kios bahan. Di kios yang dikontrak berseberangan dengan kios penggilingan itu, tampak Giman yang mulai sibuk melayani pelanggan penggilingan yang tak lain juga tukang bakso. Di kios ukuran 3 x 5 meter itu, penuh tumpukan tepung, mie kering, kecap dan beberapa produk bumbu yang digantung di sisi depan.

Sebuah papan nama kuning bertuliskan Gerai BasoCip Penggilingan dan Bahan Bakso dipampang di depan kios. Dari namanya, tampak jelas, usaha para mitra dampingan MM Dompet Dhuafa itu bergerak pada usaha penggilingan bakso sekaligus penyediaan bahan membuat bakso. Ditilik dari profesi masing-masing, para pengelola penggilingan itu semuanya penjual bakso. Dengan usaha gerai penggilingan bakso, mereka berharap bisa melayani para tukang bakso di sekitar Cipinang yang selama ini harus menggiling daging ke Pasar Mester Jatinegara.

Gairah usaha bersama patut diacungi jempol. Problema keterpurukan akibat kasus formalin, menurut Giman, sedikit banyak membuat mereka menoleh arti pentingnya kebersamaan. Giman mencontohkan seratusan lebih tukang di blok kontrakan padat tak jauh dari petak yang disewanya kini tak sampai separo.

Giman. Dalam diri pria asal Sukoharjo, Jawa Tengah itu, mengalir jiwa kepedulian. ”Mungkin tukang bakso bisa berguyub, lalu maju bersama. Saya yang tua ini, hanya bisa mendorong keguyuban ini. Biarlah teman-teman bisa memetik buahnya kelak,” tutur Giman setahun lewat. Giman memang orangnya total. Tak hanya mendorong terbentuknya usaha bersama. Bapak dua anak itu turut berkeringat untuk tetap berputarnya gerai penggilingan dan kios.

Jam menunjukkan angka delapan. Mata Giman mulai kuyu. Sembari membuat bungkusan-bungkusan garam, ia bercerita, kalau mitra-mitra pengelola gerai dan kios sementara tak ada gaji. Namun, ia dan kawan-kawan sangat yakin bahwa usahanya itu akan semakin berkembang. Sejak dibuka di Maret 2007, omset semakin meningkat. Semakin banyak tukang bakso yang tertarik menggiling dan berbelanja bahan baku di kios.

Delapan orang yang bekerja pekerja, yang semuanya mitra, rela mengurangi jatah tidurnya untuk membantu jalannya gerai. Ada yang sebagai tukang giling, tukang cuci daging, tukang mencatat, bahkan tukang potong ayam. Semua rela tidak dibayar demi kelancaran usaha. Sebut saja Giman sendiri, Gofar, Yatno, Itang, dan empat orang mitra lainnya.

”Ini bakso yang digiling dari Bakso Cip, pengenyalnya juga pakai Karagenan…,” ujar Giman sambil menunjukkan hasil Bakso yang sudah matang dengan memakai pengeras yang aman, yaitu karagenan, yang terbuat dari rumput laut. Gerai, menurut Giman dalam bulan April 2007 saja berani mentargetkan sekitar 50% dari sasaran pelanggan yang dibidik.

Mentari makin meninggi. Optimismisme masih bergayut di kelopak mata Giman yang makin kuyu karena kantuk. Mungkin juga belum sempat sarapan karena lupa atau tak sempat akibat banyak pelanggan. Ternyata benar, Giman belum sarapan, kecuali segelas teh manis.

Hery DK, Achi Hoashi

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan