Mimpi Besar Orang Desa Pesisir

Bahkan, mereka bangkit, lebih tegak. Dulu warga mendulang rizki hanya bersifat individual. Kini, mereka berusaha bersama-sama, terorganisir, dan memiliki sebuah koperasi syari’ah. Ketuanya seorang perempuan dinamis, yang dari mula pascabencana sudah menunjukkan pengabdiannya. Untuk kemanusiaan, untuk desanya. Dialah Titoh, 34 tahun.

Pada acara Temu Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) – sebuah lembaga lokal hasil pendampingan Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa, ia begitu bersemangat mengikuti sesi-sesi pengembangan kapasitas sebagai pengelola ISM. Ia mengaku sempat terharu mendengarkan kisah-kisah bermuatan motivasi dari trainer M. Jamil Azzaini. Titoh lalu merefleksikan dengan liku-likunya meretas lembaga lokal yang mengorganisir warga di desanya, ISM. Ia harus berpeluh dan berolah sabar oleh sebab hambatan luar biasa di depan mata. Ternyata mengajak orang memperbaiki kondisi ekonomi secara babarengan tak segampang membalik uang logam. Warga Desa Legokjawa menjadi korban bencana tsunami. Kebersamaan sebagai sesama korban bencana tak otomatis mengikatkan pada gairah untuk bersama-sama memperbaiki penghidupan. Ada sisi-sisi individualisme yang tak mudah dikikis Titoh dan beberapa mitranya yang juga giat mengajak warga lain bangkit.

Namun, ia menyadari betul ada modal yang musti dipupuk, apalagi kalau bukan ketekunan. Pendamping dari MM Eri Sugiyanto yang ’ditanam’ 1,5 tahun di desanya terus memberi dukungan. ”Kalau Ibu mampu, maju terus.”

Titoh juga menemukan daya dalam dirinya. Dalam tempo hanya beberapa bulan, upaya bersama mitra lain menampakkan hasil. Buah dari tekun. Sebuah koperasi dibentuk, namanya Koperasi Syari’ah ISM Bangkit Bersatu. ”Kalau saya tidak menekuni dari awal, mungkin sudah ambruk. Malah, mungkin tak bisa membuat koperasi. Apalagi ini urusannya dengan masyarakat banyak,” katanya dengan mata berbinar-binar.

Di awal pembentukan lembaga lokal, Titoh kembali mengisahkan, untuk mencari mitra begitu susah. Titoh dan beberapa pengurus ISM Legokjawa sudah mengurusi kantor ISM beserta aset ekonomi traktor, perontok padi dan lain-lain bantuan Dompet Dhuafa. Alat produksi disewakan pada para petani dengan model bagi hasil. Selain, pertanian, lembaga ISM di awal pembentukan juga menggarap mitra nelayan.

Nah, sekarang sudah kelihatan hasil berupa koperasi, orang-orang tampak menyesal, kenapa tidak dari dulu bergabung. Tapi, sekarang sebagian warga ikut menjadi anggota layanan koperasi pimpinannya. Beberapa kelompok di bawah ISM dibentuk menaungi beberapa jenis pekerjaan, seperti petani, nelayan, peternak, dan aneka usaha. Mereka tersebar di empat dusun di wilayah Legokjawa. Peternakan mengembangkan ternak sapi dan kambing. Aneka usaha, para ibu dibimbing untuk mengembangkan komoditas lokal seperti pisang untuk dibuat sale dan keripik berbagai varian.

Titoh suka merendah ketika ditanya tentang jenjang pendidikannya.”Ada yang lucu. Saya pernah bilang ke Pendamping, ini tidak nyambung. Kenapa saya cuma SD, sedangkan Sekretaris Koperasi saja PNS, lalu Bendahara seorang sarjana, malah.”

Pengalaman didampingi, termasuk turut dalam pelatihan, membuat Titoh mampu membangun mimpi lebih besar. Meski hanya berijazah SD, ia yakin dengan mimpinya yang bisa lebih tinggi. Ia ingin koperasinya sanggup menjangkau pasar kecamatan, bahkan kabupaten, di tahun 2012. Mimpi orang desa pesisir ini begitu terukur.

Titoh juga menetapkan syarat untuk mewujudkan mimpinya. Syaratnya ada kasumangatan (spirit) dan dukungan yang lain. Mimpi itu juga bukan buat dirinya seorang, namun teruntuk desanya. Berjaya koperasinya, makmur masyarakatnya, mandiri ekonominya.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan