Modal Sosial bagi Dhuafa

Ramadhan. Bulan penuh berkah dan bulan penuh amalan. Di manapun, di daerah yang semula hingar-bingar, menjelang Ramadhan menjadi lebih sedikit ’adem’. Meski kadang masih perlu berhitung, golongan kaya mulai berderma dan yang miskin tidak mau ketinggalan. Mereka mengorbankan apapun yang dia miliki, meski kadang tidak pernah berpikir untuk esok harinya. Si kaya dan si miskin berharap hanya untuk mendaptkan kebaikan.

Dalam konteks pemberdayaan, aktivitas seperti di atas dapat dinamakan modal sosial. Yakni perasaan kebersamaan, keinginan saling berbagi, nuansa ingin saling menjaga. Suasana di mana tidak ada lagi batas kemiskinan dan kekayaan. Mereka berusaha datang pada barisan awal saat tarawih hari pertama hingga kesepuluh. Yang berbeda hanya besarnya rupiah yang beredar mengelilingi barisan. Yang berbeda hanyalah model pakaian.

Kita sebenarnya berharap, semua bulan memiliki suasana seperti bulan Ramadhan. Bulan yang paling tepat untuk meningkatkan modal sosial. Coba kita lihat. Dari sisi dana, lembaga sosial hampir seluruhnya mengalami peningkatan pendapatan dana 100 %. Bahkan, di bulan ini semua elemen berlomba-lomba membuat simpati untuk mendapatkan ’dana cash’. Dari aspek non fisik, semua orang mulai menjaga dari perbuatan yang tidak baik, dari lisan dan perbuatan.

Coba kita lihat negeri ini. Empati begitu mahal, barisan relawan masih susah dicari, Rakyat miskin semakin melimpah sedang yang kaya bergelimang harta. Penguasa negeri cukup kewalahan mengatur strategi yang tak kunjung menujukkan hasil. Konon dibulan Ramadhan, semua menjadi peduli.

Yang perla kita pikirkan adalah bagimana moment bulan ini, tidak pudar pada bulan-bulan berikutnya. Harga diri orang miskin terjaga dengan tidak meminta-minta, orang kaya datang dengan ikhlas mencari siapa yang layak mendapat santunan dari ’sisa’ harta mereka. Lantas modal sosial seharusnya dimiliki siapa? Bagi para pemberdaya masyarakat, masihkah kita berharap kepada masyarakat yang lemah, miskin untuk memiliki modal sosial yang berlimpah? Sedang di sisi lain, mereka ‘bertarung dengan hidup’. Memang sebaiknya modal sosial dimiliki oleh siapa saja. Lantas, bagaimana dengan orang yang telah diberi kelebihan dari mereka? Seharusnya mereka mampu mengajarkan cara menamkan modal sosial di ’gurun’ kemiskian. Semua masih perlu waktu.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan