Mursidi: Ini Amanah

Penyebab paceklik udang tak lain adalah limbah yang mencemari laut yang selama ini menjadi ladangnya. Melimpahnya limbah industri secara cepat mampu menyingkirkan populasi udang ke tengah laut. Tentu ini makin menyulitkan para nelayan kecil yang kebanyakan belum memiliki perahu dan peralatan yang memadai.

Namun, rasa prihatin Mursidi cukup terobati dengan perahu yang dimilikinya selama lima tahun belakang. Ia mengambil manfaat dana bergulir dari MM sebesar Rp 500.000,- untuk membeli mesin second seharga Rp 550.000,- . Dengan mesin itu, ia bisa membawa perahu kecilnya ke tengah. Biasanya Mursidi cuma bisa ngoyor, memasang jala di laut dengan bambu-bambu yang dipancang di dasar laut. Jadilah, ia meninggalkan status sebagai “nelayan pinggir”. Dengan perahu itu pula, ia bisa melayani jasa angkut ikan ke Muara Angke, Jakarta Utara.

Kemudian, ayah dua anak ini mengambil pembiayaan lagi dari MM untuk membeli perahu yang lebih besar. Besarannya Rp 2 juta. Perahu lama dijual, lalu Mursidi membeli perahu second (kualitas masih 80 %) dengan nilai Rp 2,5 juta. Dengan perahu berbahan kayu jati itu, Mursidi bisa membuka usaha berupa jasa mengantar para penggemar mancing ikan di Pulau Bidadari. Selain itu, ia bisa mengangkut ke Tempat Pelelangan Ikan di Kamal Jakarta Utara.”Alhamdulillah, pendapatan kami bisa naik, malah lebih dari dua kali dibanding dengan dulu sebelum ambil pembiayaan,” ungkap Ketua Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Muara ini. Manfaat berikutnya tentu bagi keluarga. Dirinya mengaku bisa membangun teras rumah, selain juga menyekolahkan anaknya.

Pembayaranpun sudah impas, baik yang pertama sebesar Rp 500.000,- maupun yang Rp 2 juta. Bahkan pembayaran pertama yang harusnya enam bulan, impas lebih awal dari tenggat waktu, yakni empat bulan.Tak selamanya, Mursidi lempang dalam usaha. Iapun pernah kesandung batu ujian. Wawasan telah terbuka, ia ingin membuka usaha lain di luar nelayan. Peluang itu adalah pengumpulan plastik bekas. Untuk mengawalinya, ia mengambil pembiayaan dari program MM dengan model syirkah, besarnya mencapai Rp 7 juta. Namun, tak disangka-sangka, rekanan usaha yang dipercaya mengurusi operasional usaha, ternyata tak jujur. Rekanan itu disuruhnya membelikan mobil untuk angkutan barang, temyata tak layak pakai. Celakanya lagi, rekanannya menilep barang-barang yang dikumpulkan dlan dijual ke pengumpul lain. Akibatnya, Mursidi belum bisa menutupi sebagian besar pembiayaan ketiga. Tapi, guratan di wajahnya menunjukkan sebuah keyakinan. Keyakinan bahwa kegagalan adalah sisi lain dari seorang yang mau berusaha. Bahkan, ia tetap bersemangat
dan aktif mengawal ISM.

Banyak sisi positif yang ia nikmati. “Saya dituntut untuk membantu orang lain. Malah, terkadang kita harus mengutamakan pertemuan kelompok mitra, dengan meninggalkan keluarga. Ini amanah,” ungkap Mursidi serius. Mursidi memang cuma lulusan SD, namun ia mengaku suka membaca buku. Ia juga seorang pemuda yang gesit dan bersemangat. Mungkin karena itulah, ia dipercaya para mitra untuk menjadi Ketua ISM dua periode.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan