Ngadi : “Kami Merasa Seperti Yatim Piatu”

Payung Lukis Juwiring kondisinya semakin memprihatinkan, dulu menjadi kebanggaan namun sekarang dilupakan. Pengrajin yang masih bertahan  tinggal 11 orang, mereka bertahan semata untuk mempertahankan budaya payung lukis yang semakin hari semakin pudar.

Mereka berjuang  sendirian, seolah dilupakan begitu saja. Mereka sering ikut dari  festival ke festival dengan biaya sendiri. Kadang mereka merasa iri dengan daerah lain yang diperhatikan oleh pemerintah setempat.

“Kami kemaren ikut festival di solo. Kalo dari peserta Payung dari Tasikmalaya, tim dinas nya mengawal sampai akomodasi  semua disediakan. Kalo payung Juwiring, Alhamdulillah kami berdua saya dengan pak Heri kesana nyarter motor. Kalo sebagai pengrajin payung, kami merasa seperti yatim piatu”, Ujar Ngadiakur, pengarjin payung dari kelompok Ngudi Rahayu.

Perhatian dari intansi terkait mutlak dibutuhkan, Karena tanpa campur tangan kebijakan maka payung lukis akan semakin meredup. Ngadi berkisah bahwa di festival payung yang diselenggarakan di Solo juga dihadiri oleh Pengrajin dari luar negeri dengan produk yang lebih bagus.

“Kami baru kali ini kami melihat  payung yang bagus sekali, payung dari Cina dan Thailand. Di Cina pemerintah langsung terjun menangani dari pembuatan bahan, kerangka dan desain  menjadi lebih baik sampai layak ekspor” lanjutnya.

Permasalahan regenerasi menjadi permaslahan yang sama. “Kami disana juga bertukar pikiran  dan ternyata mereka mengahdapi masAlah yang sama dengan kita yaitu maslah regenerasi” ungkap ngadi.

Perkembangan jaman yang begitu pesat, teknologi semakin melesat membuat ‘kaum’ muda lebih suka dengan hal-hal yang berbau teknologi dan hal-hal kekinian. Jadi tdak heran mereka enggan berprofesi menjadi tukang payung yang di anggap kuno. Membutuhkan waktu seharian untuk mengerjakannya dengan hasil yang tidak pasti. Mereka lebih memilih kerja di pabrik dengan hasil yang pasti waktu yang sudah pasti dan bisa menghabiskan waktu bermain smartphone. Butuh terobosan supaya ‘kaum’ muda tertarik kembali menggeluti profesi ini.

Dia berharap dengan pemberdayaan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa dan Asuransi Astra Syariah dapat memajukan payung  Juwiring. “Terima kasih atas kepercayaan untuk mengelola amanah yang bagi kami sangat besar ini. InsyaAlloh dengan keyakinan dan doa kita bersama kami bisa mengamban dengan baik. Dengan pendampingan yang diberikan selama 2 tahun oleh mas Teguh kami berharap semoga kedepan payung Juwiring semakin berkembang” tukas ngadi dalam sambutan acara launching Program Pemberdayaan Payung Lukis Juwiring.

1 reply

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] (Baca juga : Ngadi : “Kami Merasa Seperti Yatim Piatu”) […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan