Nikmatnya Berkelompok

Begitu bergabung, ia langsung dipercaya menjadi Ketua Unit ekonomi lembaga lokal ISM yang dibentuk pada bulan yang sama. Sebelumnya Suhadi hanya pedagang kecil. Begitu menjadi mitra ia beralih profesi menjadi peternak itik, profesi jamak di Sepatan. Suhadi memperoleh modal 50 ekor itik. Karena, cepat belajar, Suhadi pun cepat berkembang. Ia bahkan yang menjadi salah satu pelopor usaha telur asin. Mitra umumnya mengembangkan telur segar.

Pengalaman sebagai pedagang, menjadi modal Wadih – panggilan akrab Suhadi, untuk mengembangkan pasar telur asin ISM. Dengan timnya, ia bisa menembus pasar seperti sebuah pabrik sepatu di Tangerang. Lembaganya sanggup mensuplai sedikitnya 4.000 butir telur untuk kebutuhan katering pabrik. Di lembaga lokal Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) dan kelompok, ia mengaku amat menikmati.

“Kalau ada perkembangan baru, selalu kita bahas. Misalnya ada kesulitan anggota, kita bicarakan. Terasa sekali persaudaraannya gitu… nggak dipikirin sendiri aja. Kalau dipikirin sendirian kan pusing,” ungkapnya. Di kelompok, ia menemukan Ikrar Mitra. Suhadi mengaku ikrar itu bagus, mendorong orang untuk terus berusaha. Dampaknya, para mitra rajin datang rapat. Tingkat kehadiran rapat para mitra di kelompoknya memang cukup tinggi, sekitar 80%.

Untuk menjaga tingkat kehadiran, Suhadi bersama kawan-kawannya memiliki cara unik untuk memberi sanksi mereka yang bolos pertemuan. Tidak masuk satu kali, rapat berikutnya disuruh menyumbang kopi. Tidak masuk dua kali rapat, ‘disita’ telur itiknya. “Nggak datang tiga kali… bebek disita!” ujarnya sambil senyum.

Mitra-mitra peternak diakuinya termasuk suka berkumpul. Walaupun dari kecamatan yang beda, kalau sudah ada rapat ISM, tutur ayah dua anak itu, pasti dibelain-belain kumpul sampai malam.

Pengalaman berkelompok, alias berorganisasi membuatnya berubah. Sebelum menjadi mitra MM, banyak tetangga yang bilang ‘buat apa sih kumpul-kumpul bareng?’. Toh, pandangan tetangga akhirnya berubah. Kadang-kadang, untuk berbagi ilmu, tetangga suka bertanya kepadanya tentang masalah bebek. Namanya juga ilmu, katanya, yang diajarkan MM (melalui program pemberdayaan), memang harus disebarkan. “Gini-gini jadi orang terkenal juga… kata tetangga sekarang saya banyak dihubungin orang-orang terkenal dari MM. Dari perusahaan juga, yang mau ngorder telor asin…,” katanya sambil tertawa.

Melalui pendampingan, Suhadi belajar juga tentang pembukuan usaha. Di sisi pribadi, ia memperoleh peningkatan pendapatan dibandingkan saat berdagang. Sebenarnya ia pernah menjadi peternak itik. Karena belum tahu pengaturan keuangannya, Suhadi bangkrut kena tipu. Selebihnya, ia mengaku kini lebih memiliki kebebasan mencipta. Dan, sisi mencipta alias kreatif inilah yang ditunggu-tunggu untuk kemajuan kelompoknya.

Achi Hoashi/Hery DK

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan