Onteng dan Keberlanjutan

Dalam salah satu cerita tutur Betawi tersebut kisah Si Ayub dari Teluk Naga. Cerita herois bernuansa kepahlawanan lokal di masa Kolonial. Spirit kisah ini diwarisi orang Betawi dalam bentuk nilai-nilai pengabdian dan kepedulian di era kekinian. Tak terkecuali bagi Mursidi “Onteng”. Seorang warga Desa Muara Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang.

Dulu lelaki ini berprofesi sebagai nelayan. Tepatnya nelayan pantai utara yang melaut tak jauh dari pantai. Mursidi yang sehari-hari dipanggil Onteng ini menjadi cerminan nelayan kecil pantai utara yang tak mudah menemukan keadaan sejahtera, namun masih terus berharap pada laut. Ia cukup beruntung dengan perahu mungil dengan sebuah motor sederhana yang membawanya melaut ke beberapa kilometer dari arah pantai. Masih banyak warga Muara yang kurang beruntung menjadi nelayan di sekitar muara dan aliran sungai menuju muara. Kesejahteraan bagi mereka bak jauh api dari panggang.

Pemuda belum genap menduduki bangku SD itu termasuk pribadi yang gelisah dengan keadaan warga di desanya. Dari awal ikhtiar pemberdayaan Dompet Dhuafa tahun 2000, Mursidi dikenal sebagai pemuda yang dinamis dan menyukai tantangan. Pendamping Masyarakat Mandiri dengan program pendampingan mengajak warga Muara mencari kader yang akan mengawal ikhtiar pemberdayaan berbasis kelompok. Mursidilah kemudian dipercaya warga lain menjadi tonggak keberlangsungan kelompok dampingan.

Masalah derajat pendidikan formal bukan menjadi masalah untuk memimpin sebuah forum yang menaungi mitra dampingan program Masyarakat Mandiri. Tantangan demi tantangan dalam menjalankan kelembagaan warga memicu Mursidi makin penasaran membesarkan lembaga lokal. Forum kemudian diubah warga Muara menjadi Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Muara. Walhasil beberapa kelompok berhasil dibentuk untuk mengefektifkan program-program pemberdayaan social ekonomi berbasis dana zakat.

Hari ini Onteng memilih memusatkan perhatiannya pada koperasi. Waktu telah membuktikan pengabdian dan kesungguhannya mengawal sebuah koperasi. Tahun 2005 Onteng dan warga membentuk Koperasi ISM Muara. Lembaga berbadan hukum ini menjadi pilihan untuk melanjutkan upaya mendorong kesejahteraan warga.

Pada perkembangannya, kepercayaan warga melebihi jangkauan formal kerja koperasi pimpinannya. Selain warga yang menjadi anggota resmi, tak sedikit warga berinisiatif yang menitipkan dananya untuk dikelola koperasi. Sebuah kepercayaan yang sungguh sulit dibangun tanpa iming-iming apapun, tentu bukan seperti beberapa kasus penipuan yang mengatasnamakan koperasi yang marak belakangan ini.

Kepercayaan orang melampaui status pendidikan formalnya. Orang tak lagi memandang bahwa ia SD saja tak lulus. Buktinya Onteng dipercaya mengajar pada program pemberantasan buta aksara. Merasa masih punya waktu untuk menuntut ilmu, Onteng memilih menyelesaikan Paket B (setara SMP). Diam-diam kini ia memendam cita-cita ingin merengkuh gelar sarjana. Cita-cita ini sepadan dengan keinginannya membesarkan koperasi yang bisa menunjang kesejahteraan warga di Muara.

Kepercayaan pada Mursidi meningkat pada tingkat yang lebih luas. Pada acara Temu Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Nasional III di akhir Juli kemarin, Mursidi dipilih para peserta sebagai Ketua Forum ISM Indonesia, forum lembaga-lembaga ekonomi warga berbasis syariah. Salah satu gagasan yang melatari dibentuknya forum ini adalah konsep keberlanjutan. Dalam ikhtiar pemberdayaan, isu keberlanjutan merupakan inti. Kemandirian komunitas dampingan berarti kesinambungan mata penghidupan dan keberlanjutan upaya pengembangan masyarakat secara terus-menerus melalui wahana lembaga lokal.

Forum ditujukan untuk menjaga semangat para kader lembaga local untuk terus menjaga keberlangsungan ikhtiar pemberdayaan. Karena pada prinsipnya, mereka adalah pelanjut program pendampingan bagi masyarakatnya sendiri. Melalui forum, para kader local diharapkan akan memiliki peluang yang lebih dalam hal pengembangan masing-masing lembaganya, jaringan pasar, dan akses ekonomi di luar wilayah mereka selama ini.

Onteng dipercaya 18 ISM yang hadir pada acara Temu ISM. Maknanya, onteng memikul amanah menghidupkan komunikasi dan kerjasama antar ISM. Namun, lebih dari itu, Onteng juga dipercaya menjadi lokomotif gerbong ISM yang masing-masing memiliki banyak penumpang. Penumpang ini tak hanya anggota ISM, namun juga warga sekitar ISM beraktivitas. Tak sedikit ISM berbentuk koperasi yang memiliki jangkauan luas melampaui batas desa atau kelurahan dan kecamatan, dengan anggota sampai ratusan orang.

Dalam ikhtiar pendayagunaan dana zakat, Onteng adalah representasi keberlanjutan pendayagunaan dana zakat. Ia menjadi symbol orang kecil yang diberdayakan dengan dana zakat tahun 2000-2005. Lima tahun kemudian, ia telah dipercaya menjadi penganyam komunikasi sejumlah 45 ISM yang adalah lembaga-lembaga yang mayoritas dibentuk dalam program-program pemberdayaan berbasis dana zakat.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan