Orang Gunung Bikin Cashflow

”Senangnya, saya bisa ketemu orang kampung lain,” ucap Bu Yuyun membuka perbincangan. Baginya, bertemu dengan tetangga di luar kampungnya Cibeureum, bahkan terasa asing. ”Alhamdulillah, dengan menjadi pengurus ISM, saya belajar banyak, lalu jadi kenal banyak orang.”

”Dukanya, kalau ada mitra lain memojokkan saya,” ucapnya datar.

Di mata sebagian mitra, sebagai seorang pengurus ISM, seolah ia punya segalanya. Sosok seperti dirinya tak lain adalah bagian dari proses pembentukan lembaga lokal yang telah berjalan lebih dari lima tahun. Tak bisa dipungkiri, Bu Yuyun termasuk bagian dari orang-orang yang berpeluh. Menyisihkan sebagian waktu untuk lembaga, sembari ’meninggalkan’ rumah dan usahanya. Ketika ditemui, ia sedang mengikuti pertemuan kecil dengan Pendamping Mandiri. Di pangkuannya, si kecil tengah pulas. Suaminya sedang sibuk menyelesaikan urusan dapur, sambil menunggui warungnya. ”Suami saya mah sangat pengertian,” komentar ibu tiga anak itu, singkat.

Bu Yuyun lalu melanjutkan perbincangan. Sebagai pengurus ISM, kata-kata yang memojokkan dari para mitra yang belum mengerti, sudah akrab di telinga. Selalu ia berusaha menjelaskan, kalau kemampuan dirinya terbatas. Tukang nyampein, begitu predikat yang pas, menurutnya. Kalau pendamping pesan begini, ya disampaikan begini. Nah, sebagian mitra bisa salah pemahaman terhadap sesuatu hal. Akan halnya dengan mitra yang mengerti, justru mereka dukung dirinya.

Posisinya sebagai Kepala Unit Mitra Pembiayaan, menuntutnya menguasai banyak hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Sesuatu yang asing baginya, sebagai urang gunung, apa itu bikin proposal, cashflow, segala macam. ”Daripada tidak sama sekali, saya lakukan.” Perkataannya renyah, matanya berbinar. Ada semangat dan ketangguhan tersirat di sana.

Bu Yuyun memang asyik dengan yang dijalaninya. Istilah dia, banyak yang menyenangkan. Lalu, seperti ia berjanji pada diri sendiri, ”Dengan sekuat tenaga, saya ingin banget kembangkan ISM.” Naga-naganya, ucapan itu cermin dari buncahan semangat yang kuat dan ketulusan. Kalau saya tak mampu, biarlah orang lain…, begitu Bu Yuyun merendah. Dalam perjalanan kiprah ISM, tak sedikit juga para tetangga yang belum tergabung sebagai mitra memberinya dukungan. Tentu saja dukungan itu baginya sebagai cambuk guna lebih mempersiapkan diri atau menjaga semangat. Ia merasa banyak belajar dari para Pendamping Mandiri yang tinggal di desanya. Dari mereka, ia mendapat banyak masukan dan nasehat. Yang tadinya tidak mengerti sama sekali jadi tahu. Dari sanalah, lahirnya semangat untuk tetap menjaga perputaran roda ISM.

Terjaganya etos Bu Yuyun tidak lepas juga dari faktor para mitra aktif. Ia mengaku sangat bersyukur, pembayaran di desa Buanajaya cukup lancar. Termasuk induk binaan Bu Yuyun sendiri, Dusun Cibeureum dan Cigulingan. Sebenarnya di lingkungan binaannya, banyak juga mitra yang mundur. Tetapi mereka tidak nunggak, alias mau melunasi pinjaman.

Dia sendiri secara ekonomi juga turut memetik manfaat. Ia bisa membuka usaha warung kelontong ia dirikan bersama suaminya di sebelah kiri rumah. Usaha lain adalah jual beli pisang dari petani. Ia dan suaminya mengambil pisang dari kebun petani, yang dibelinya kontan. Jika barangnya tidak banyak, cukup ia menjual di depan rumah. Para pedagang dari luar kampung menjemput barangnya. Kalau pisangnya banyak, kadang suami memasarkan ke pasar di Serang, Cibarusah. Saking banyaknya, acapkali, tumpukan tandan pisang melebihi bak mobil. Bu Yuyun punya langganan tak tanggung-tanggung, sebanyak 35 petani pemilik kebun pisang yang tiap hari menyuplai pisang. Ia menjualnya setidaknya dua kali dalam seminggu, Selasa dan Jumat.

Terhitung sampai sekarang, ia pernah mendapatkan skim sebanyak tujuh kali. Awalnya dengan bagi hasil untuk pengembangan usaha pisang. Sebelum bergabung sebagai mitra, usahanya bukannya berkembang, ia mengaku malah sering terlibat utang. Malah harus menjual barang-barang untuk menutup utang. ”Kenapa dulu hampir bangkrut?” sebuah pertanyaan pada diri sendiri yang memantiknya mengambil pelajaran. Kebangkrutan justru karena dirinya seperti banyak warga sekitar yang tergoda jasa bank keliling. Pinjam Rp 100 ribu dapat Rp 80 ribu, padahal belum tentu modal balik. Penyebab bangkrut lain karena tak adanya pengalaman tentang usaha. Begitu menjadi mitra, Bu Yuyun jadi tahu bagaimana mengelola usaha, uang bergulir lancar, mampu memperhitungkan segala macam. Dulunya, jatuh bangun dengan modal bank keliling. Ia pun menyayangkan sebagian mitra yang telah mundur justru memilih kembali bank keliling.

Di luar dua usaha utama, Bu Yuyun dan suami memiliki usaha tambahan. Sebagaian warga Cibeureum membuat gula terbuat dari nira. Terkadang ia menerapkan model barter. Kalau ada tetangga tak punya uang, hendak membeli kebutuhan harian yang bisa diperoleh dari warung Bu Yuyun, gula merah si tetangga jadi alat tukar. Bu Yuyun juga membeli biji kopi atau cengkeh untuk kemudian dijual. Dari jual beli dua jenis komoditas itu, ia mendapatkan untung lumayan besar.

Bu Yuyun seperti berkaca pada masa lalu. Ia ingat di masa-masa susah. Mendengarkan siaran radio di rumah bilik berbentuk panggung itu. Di radio, orang kota sering digambarkan gampang sekali menabung. Gimana usahanya, ya? Pikirnya. Boro-boro menabung, asas gali lubang tutup lubang tak bisa dihindari. Sekarang, ia bisa mewujudkan apa yang bisa ’dilakukan’ orang kota. Ternyata menabung itu tidak usah punya usaha banyak-banyak atau ada pekerjaan tetap. ”Tapi memang harus menyisihkan uang untuk masa depan kita. Alhamdulillah bisa beli teve, bayar KWH, segala macam,” ucapnya dengan mata berbinar.

Eh ya, Bu Yuyun kini suka juga lho berpidato. Ya, setidaknya di forum-forum kecil yang diadakan di lingkungan lembaga ISM yang terus dikawalnya. Sukses deh!

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan